25 Rabiul-Akhir 1443  |  Selasa 30 Nopember 2021

basmalah.png

Israel Pertimbangkan Undangan Pembicaraan Palestina dari Prancis

Israel Pertimbangkan Undangan Pembicaraan Palestina dari PrancisFiqhislam.com - Pemerintah Israel secara resmi mengatakan pada Sabtu (30/1) bahwa mereka akan mempertimbangkan undangan Prancis untuk menggelar pembicaraan damai dengan Palestina.

Namun mereka juga percaya Prancis melakukan kesalahan dengan mengatakan akan tetap mengakui negara Palestina jika pembicaraan gagal.

"Jika dan ketika kita memenuhi undangan ke konferensi, kami akan mengkajinya dan merespon hal itu," ujar pejabat Prancis yang menolak menyebut namanya dilansir Reuters.

Menteri Luar Negeri Prancis Laurent Fabius mengataka kepada diplomat pada Jumat (29/1), bahwa jika konferensi yang ia usulkan tak mendapatkan hasil maka dalam kasus ini mereka akan bertanggung jawab dan tetap mengakui negara Palestina.

Israel secara resmi menolak ide tersebut. Menurutnya mengapa Palestina bergeming jika dalam konferensi ini mereka sudah tahu bahkan tanpa kemajuan mereka akan mendapat apa yang diharapkan. Dua menteri mengatakan Israel harus memboikot pertemuan.

"Tegas, Israel tak akan menghadiri konferensi di bawah ancaman," kata Menteri Perhubungan Israel Yisrael Katz yang juga menggemakan komentar Menteri Energi Yuval Steinitz.

Sebelumnya upaya pembicaraan damai yang dimediasi Amerika Serikat untuk mencapai solusi dua negara runtuh pada 2014. Belum ada lagi upaya menghidupkan kembali pembicaraan tersebut.

Presiden Palestina Mahmoud Abbas berbicara dengan para pemimpin Afrika di KTT di Ethiopia. Ia mendesak mereka mendukung konferensi Prancis.

Fabius juga telah menyerukan dukungan internasional kelompok Arab, Uni Eropa dan Dewan Keamanan PBB untuk memberi tekanan pada kedua pihak agar berkompromi. Tapi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut inisiatif Prancis kontraproduktif.

Prancis akan Mengakui Negara Palestina

Prancis akan mengakui sebuah negara Palestina jika usaha final yang Paris rencanakan untuk memimpin solusi dua negara antara Israel dan pihak Palestina gagal. Hal ini dikatakan Menteri Luar Negeri Laurent Fabius pada Jumat (29/1).

Usaha-usaha yang dipimpin Amerika Serikat menjadi penengah perdamaian solusi dua negara, gagal pada April 2014 dan sejak itu belum ada lagi usaha serius untuk menyelenggarakan kembali pembicaraan.

Menlu Fabius telah berulang-ulang memperingatkan bahwa membiarkan status-quo itu berakibat memadamkan usaha-usaha pembicaraan solusi dua negara dan bisa menimbulkan para militan ISIS bermain.

Pada tahun lalu ia gagal dalam usaha menyertakan AS mendorong sebuah resolusi Dewan Keamanan PBB untuk menetapkan parameter bagi pembicaraan kedua pihak tersebut dan menetapkan tenggat waktu untuk membuat sebuah kesepakatan.

Perluasan permukiman oleh Israel sejak itu telah dilukiskan oleh Sekjen PBB Ban Ki-moon sebagai 'aksi provokatif' yang mempertanyakan komitmennya atas satu solusi dua negara.

"Kami tak bisa membiarkan solusi dua negara itu berantakan. Sudah menjadi kewajiban kami sebagai anggota Dewan Keamanan PBB dan sebuah kekuatan mengupayakan perdamaian," kata Fabius kepada para diplomat asing dalam pertemuan tahunan.

Fabius sebelumnya menyerukan sebuah kelompok dukungan internasional yang terdiri atas negara-negara Arab, Uni Eropa dan para anggota DK PBB yang akan memaksa kedua pihak itu untuk berkompromi.

Ia mengatakan Paris akan mulai menyiapkan sebuah konferensi internasional pada beberapa pekan mendatang yang mengundang pihak-pihak tersebut dan para mitra utamanya dari Arab, Amerika dan Uni Eropa.

Abbas Dukung Usulan Damai Prancis

Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengatakan kepada Menteri Luar Negeri AS John Kerry bahwa penting untuk mendukung gagasan Prancis bagi penyelenggaraan konferensi internasional bagi perdamaian di Timur Tengah.

Satu laporan yang disiarkan oleh kantor berita Palestina (WAFA) dengan mengutip Nabil Abu Rdeinah, pembantu Presiden Abbas, mengatakan Kerry menelepon Presiden Abbas yang saat ini berada di Amman, Jordania. Abu Rdeinah menyatakan kepada WAFA percakapan telepon antara kedua pejabat tersebut dipusatkan pada gagasan Prancis.
 
"Presiden Abbas menekankan kepada Kerry ia menyambut baik gagasan itu dan perlu untuk mendukungnya, mengakhiri kebuntuan saat ini dan menciptakan suasana yang layak guna mengakhiri pendudukan Israel," kata Abu Rdeinah.
 
Presiden Palestina tersebut pada Jumat pagi (29/1) telah menyambut baik pernyataan Menteri Luar Negeri Prancis Laurent Fabius negaranya akan segera melancarkan upaya baru guna memajukan proyeknya, yakni penyelenggaraan konferensi perdamaian internasional guna menggolkan prinsip dua-negara antara Israel dan Palestina.
 
Israel mengritik gagasan Prancis itu dan mengatakan itu akan mendorong rakyat Palestina tidak membuat konsesi bagi perdamaian, sementara Amerika Serikat belum memberi tanggapan. [yy/republika]