30 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 05 Desember 2021

basmalah.png

Puluhan Pemberontak Syiah Houthi Kembali Bergabung Dengan Pasukan Pemerintah

Puluhan Pemberontak Syiah Houthi Kembali Bergabung Dengan Pasukan PemerintahFiqhislam.com - Puluhan pemberontak Syiah Houthi dan milisi setia mantan Presiden Ali Abdullah Saleh di pinggiran ibukota Sana’a dikabarkan bergabung kembali dengan pasukan pemerintah, seperti dilansir BBC dari keterangan seorang sumber di gerakan Perlawan Rakyat Yaman yang setiap kepada Presiden Hadi.

Sumber yang minta dirahasiakan identitasnya mengatakan, “Sebanyak 50 pasukan dari Garda Republik Yaman telah menyatakan kembali kepada pemerintah. Mereka menyerahkan diri kepada gerakan Perlawan Rakyat Yaman pada hari Sabtu (30/01) akhir pekan kemarin di timur ibukota Sana’a.”

Sumber tersebut melanjutkan, “Sedangkan pada hari Senin (01/02) ini ada belasan milisi pemberontak Syiah Houthi lainnya yang menyerahkan diri dan menyatakan ikut bergabung dengan pasukan pemerintah Presiden Abed Rabbo Mansur Hadi.”

Menurut sumber tersebut, puluhan pasukan Garda Republik yang kembali bergabung telah ikut dalam sejumlah pertempuran di garis terdepan bersama pasukan dan milisi setia pemerintah lainnya.

Sementara itu disisi lain, pasukan koalisi regional bersama tentara pemerintah dilaporkan berhasil menguasai 2 bukit dan 3 pegunungan strategis di pinggiran ibukota Sana’a dalam pertempuran 2 hari terakhir. [yy/eramuslim]

Perang Yaman, 375 Warga Tewas di Perbatasan

Juru bicara pasukan koalisi Arab pimpinan Arab Saudi, Brigadir Jenderal Ahmed Asseri mengatakan, 375 warga sipil, dimana 63 diantaranya adalah anak-anak telah tewas sejak awal kampanye militer di Yaman.

Asseri juga mengatakan, milisi Houthi dan tentara pasukan yang setia kepada mantan Presiden Ali Abdullah Saleh telah menembakkan lebih dari 40.000 proyektil ke perbatasan sejak perang Yaman dimulai.

Menurut Asseri, dalam sebuah pertempuran sengit di wilayah perbatasan, hampir 130 mortir dan 15 rudal ditembakkan oleh kelompok Houthi dan pasukan Saleh pada posisi perbatasan Suriah. "Sekarang aturan yang kami terapkan adalah, jika Anda berada di dekat perbatasan, maka Anda akan mati," katanya, seperti dikutip dari laman Reuters, Selasa (2/2/2016).

Asseri mengatakan, sepanjang perbatasan Saudi-Yaman, kelompok Houthi dan pasukan pemberontak terus melakukan serangan. Hal ini memaksa Riyadh untuk mengevakuasi belasan desa dan menggusur lebih dari 7.000 orang dari distrik di perbatasan dan menutup lebih dari 500 sekolah.

Menurut data PBB, sekitar 6.000 orang, dimana setengah dari mereka warga sipil, telah tewas dalam serangan udara pasukan koalisi dan pertempuran di Yaman sejak perang dimulai. [yy/sindonews]