20 Jumadil-Akhir 1443  |  Minggu 23 Januari 2022

basmalah.png
BERITA INTERNASIONAL

Negosiasi Damai Suriah di Ambang Kegagalan

Negosiasi Damai Suriah di Ambang Kegagalan

Fiqhislam.com - Negosiasi damai Suriah yang saat ini tengah berlangsung di Jenewa. Swiss terancam menemui kegagalan. Hal itu disampaikan oleh utusan khusus PBB untuk Suriah, Staffan de Mistura.

Terancam gagalnya negosiasi damai ini karena sikap terbaru yang ditunjukan oleh oposisi Suriah. Dimana, oposisi Suriah kembali mengancam mundur setelah Rusia kembali melakukan serangan besar-besaran di Suriah.

Rusia sejak awal pekan kemarin meluncurkan setidaknya 270 serangan di Suriah, khususnya Allepo. Menurut oposisi, hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya, dan jika tidak segera dihentikan maka mereka mungkin akan mundur dari negosiasi damai Suriah.

Seperti diketahui salah satu syarat yang diajukan oposisi sebelum memutuskan untuk terlibat dalam negosiasi damai tersebut adalah penghentian serangan sementara dan juga adanya bantuan kemanusian ke sejumlah wilayah di Suriah.

Mistura, dalam sebuah pernyataan mengatakan jika oposisi mundur, dan negosiasi kedua ini tidak menghasilkan apapun, maka upaya damai Suriah akan menjadi sebuah mimpi belaka. "Jika kali ini kembali gagal, setelah dua pertemuan sebelumnya di Jenewa soal Suriah, maka semua harapan akan hilang," ucap Mistura, seperti dilansir Arutz Sheva pada Rabu (3/2).

Tanpa Iran dan Saudi, Upaya AS-Rusia di Suriah Akan Sia-sia

Mantan Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Rusia, Thomas Pickering menuturkan, upaya AS dan Rusia untuk mendamaiakan Suriah tidak akan berhasil tanpa adanya keterlibatan dua kekuatan besar di Timur Tengah. Dua kekuatan itu menurut Pickering adalah Iran dan Arab Saudi.

"Koordinasi yang dilakukan oleh AS dan Rusia soal Suriah adalah sesuatu hal yang penting, tapi itu tidak cukup. Dibutuhkan pemain lain di sini, yakni Saudi dan Iran," ucap Pickering dalam sebuah pernyataan.

Tapi, Pickering juga mengingatkan sebesar apapun usaha yang dilakukan oleh kedua atau keempat negara, bila tidak adanya keterlibatan masyarakat dan pemerintah Suriah, maka hal itu tetap tidak akan menghasilkan apapun.

"Konflik yang terjadi di Suriah tidak akan bisa diselesaikan tanpa adanya usaha dari dalam Suriah sendiri, tanpa adanya diskusi antara pihak-pihak di Suriah mengenai pemerintahan transisi," sambungnya, seperti dilansir Fars News pada Rabu (3/2).

Negosiasi damai antara pemerintah dan oposisi Suriah sendiri saat ini masih berlangsung di Jenewa, Swiss. Negosiasi tidak langsung, yang dimediasi oleh PBB tersebut saat ini sudah memasuki hari ketiga.

Rusia Turun Tangan, Serangan Koalisi AS Lebih Efektif

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov mengatakan, operasi anti ISIS oleh koalisi Amerika Serikat (AS) di Suriah menjadi lebih efektif setelah Angkatan Udara Rusia ikut turun tangan.

"Kami menunjukkan contoh untuk koalisi pimpinan AS, dimana operasi anti ISIS yang mereka lakukan setengah tahun terakhir tidak mengesankan. Kami senang bahwa keberhasilan operasi Rusia dan aktivitas koalisi ini telah menjadi jauh lebih efektif, " kata Lavrov di Oman seperti dikutip dari laman Sputniknews, Rabu (3/2/2016).

Pasukan koalisi, yang terdiri dari 66 negara, pimpinan AS telah melaksanakan serangan udara terhadap kelompok teroris ISIS di Irak sejak Agustus 2014 dan di Suriah sejak September 2014. Aksi serang udara itu dilakukan tanpa izin dari Damaskus atau Dewan Keamanan PBB.

Sementara Rusia melakukan kampanye udara di Suriah sejak akhir September 2015. Serangan udara Rusia menyasar kelompok teror ISIS dan Front al-Nusra atas permintaan Presiden Suriah Bashar Assad.

Pada bulan Oktober 2015, para pejabat Rusia dan AS menandatangani Memorandum of Understanding yang menguraikan tentang prosedur keselamatan untuk operasi udara masing-masing kedua negara di Suriah. [yy/sindonews]