30 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 05 Desember 2021

basmalah.png

Obama Ditekan Gunakan Operasi Militer Usir ISIS dari Libya

Obama Ditekan Gunakan Operasi Militer Usir ISIS dari Libya Fiqhislam.com - Presiden Barack Obama berada dalam tekanan karena beberapa petinggi keamanan nasionalnya menyetujui penggunaan kekuatan militer Amerika Serikat di Libya untuk menghadapi kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Perdebatan antara Obama dan para pembantunya berlangsung sejak pekan lalu dan belum menemukan titik temu. "Gedung Putih harus memutuskan," kata seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri yang berbicara dengan syarat anonim untuk membahas musyawarah internal. "Kasus ini telah dibicarakan oleh hampir setiap departemen," ujarnya, seperti diberitakan New York Times, 4 Februari 2016.

Obama, yang mewaspadai terjadinya intervensi di negara yang tengah dilanda berbagai perselisihan itu, hanya meminta kepada para pembantunya untuk melipatgandakan upaya membantu pembentukan pemerintahan di Libya. 

Saat ini Pentagon, melalui pasukan Operasi Khusus, tengah melakukan berbagai upaya melawan ISIS di wilayah Suriah timur lewat serangan udara, serangan komando, atau melatih milisi Libya di daratan. Penggunaan pasukan darat dalam jumlah besar tidak termasuk dalam pertimbangan.

Jumlah milisi ISIS di Libya, pejabat Pentagon mengatakan, telah berkembang antara 5.000 dan 6.500 milisi. Jumlah ini lebih dari dua kali lipat dari perkiraan analis pemerintah yang diungkapkan musim gugur lalu.

Daripada menuju Irak atau Suriah, banyak anggota ISIS yang baru direkrut dari seluruh Afrika Utara tetap berada di Libya, di markas militan di sepanjang lebih dari 150 mil dari garis pantai Mediterania dekat Surt, kata para pejabat tersebut.

Pimpinan ISIS di Suriah bahkan dilaporkan telah mengirimkan setengah lusin petinggi berpangkat letnan ke Libya untuk membantu membentuk apa yang para pejabat Barat perkirakan sebagai delapan kelompok afiliasi global paling berbahaya.

Dalam beberapa bulan terakhir, tim Operasi Khusus Amerika Serikat dan Inggris telah meningkatkan misi pengintaian di Libya untuk mengidentifikasi para pemimpin militan dan memetakan jaringan mereka untuk mengantisipasi kemungkinan serangan. [yy/tempo]

Komandan Senior ISIS Ramai-ramai Kabur ke Libya

Seorang pejabat intelijen Libya menyatakan, sejumlah komandan senior ISIS baru-baru ini telah pindah ke Libya. Sebelumnya mereka diketahui berbasis di Irak dan Suriah. Para komandan senior ISIS sengaja lari ke Libya untuk berlindung dari serangan udara koalisi internasional di Irak dan Suriah.

"Beberapa anggota mereka, terutama mereka yang mempunyai kepentingan jangka panjang dengan ISIS, berlindung di sini. Mereka melihat Libya sebagai safe haven," kata Kepala Intelijen di kota Misrata, Ismail Syukri seperti dilansir dari BBC, Kamis (4/2/2016).

Tidak hanya itu, Syukri juga mengatakan telah terjadi peningkatan jumlah pejuang asing di kota Sirte, basis ISIS di Libya. Sirte, kota kelahiran mantan diktator Libya Moammar Gaddafi, jatuh ke tangan ISIS pada tahun lalu.

"Mayoritas (pejuang IS di Sirte) adalah orang asing, sekitar 70%. Sebagian besar dari mereka adalah orang Tunisia, diikuti oleh Mesir, Sudan dan beberapa Aljazair. Anggota lain berasal dari Irak dan Suriah. Sebagian besar anggota asal Irak adalah tentara yang dibubarkan Saddam Hussein," kata Syukri.

Sebelumnya, PBB dalam laporan terbarunya menyatakan, ISIS telah menjadikan Libya sebagai 'zona mundur' atau pertahanan terakhir dan menjadi pusat perekrutan anggota.

Menurut PBB, anggota ISIS di Libya mencapai 3.000 orang. Angka ini terus berkembang dengan cepat karena didorong ketenaran kelompok itu, serta lemahnya struktur keamanan di Libya. [yy/sindonews]