17 Jumadil-Akhir 1443  |  Kamis 20 Januari 2022

basmalah.png

BERITA INTERNASIONAL

NATO Dinilai Tak Berdaya Lawan Rusia di Eropa, Ini Alasannya

NATO Dinilai Tak Berdaya Lawan Rusia di Eropa, Ini AlasannyaFiqhislam.com - Dewan Atlantik, sebuah kelompok think tank berpengaruh di Amerika Serikat (AS) pada Jumat (26/2/2016), merilis laporan yang menyebut NATO tidak berdaya untuk melawan Rusia jika terlibat perang di Eropa.
 
Salah satu alasannya, menurut laporan itu, banyak anggota NATO krisis dana untuk membangun militernya.
 
Laporan itu muncul setelah komandan pasukan AS di Eropa, Jenderal Philip M. Breedlove, mengklaim AS siap untuk "berperang dan menang" melawan Rusia.

Laporan Dewan Atlantik itu disusun oleh enam ahli pertahanan senior, termasuk mantan Sekretaris Jenderal NATO; Jaap de Hoop Scheffer, mantan komandan NATO asal Inggris; Sir Richard Shirreff, dan mantan Menteri Pertahanan Italia yang juga pernah duduk di kursi komite militer NATO; Giampaolo di Paola.

The Financial Times yang mengutip laporan itu, memperingatkan NATO yang kurang maju dalam membangun kekuatannya.
 
Banyak anggota kunci dari aliansi yang dirundung kekurangan dana kronis dan kritis dalam cekung militer-nya,” bunyi laporan itu.
 
Contohnya, kata laporan itu, Jerman hanya memiliki 10 helikopter Tiger yang dapat digunakan dari armada 31, dan hanya memiliki 280 dari 406 tank lapis baja Marder yang bisa bekerja penuh.

Untuk Inggris penyebaran brigade, apalagi sebuah divisi butuh kesiapan kredibel, ini akan menjadi tantangan besar,kata Shirreff dalam laporan itu.

Untuk salah satu latihan militer yang dilakukan di Eropa pada tahun 2015, Inggris harus memindahkan tank dari Kanada, karena servis dan suku cadang di armada Inggris sangat mengerikan,” lanjut laporan tersebut.

AS-NATO Tolak Hadiri Perayaan Angkatan Bersenjata Rusia

Pemimpin militer AS dan Kepala NATO menolak menghadiri perayaan Hari Angkatan Bersenjata Rusia di kedutaan Rusia di Washington. Penolakan ini terjadi di tengah ketegangan yang meningkat terkait krisis di Suriah dan Ukraina.

Juru bicara Kedutaan Rusia, Yury Melnik mengatakan, tahun ini, sesuai dengan tradisi, pejabat militer AS dan NATO diundang, namun mereka memilih untuk tidak hadir, seperti dikutip dari Daily Mail, Sabtu (27/2/2016).

Terkait hak ini, juru bicara Pentagon Michelle Baldanza mengatakan, militer AS dan Rusia memiliki interaksi profesional secara reguler pada isu-isu seperti keselamatan operasi pengerahan pasukan.

"Namun, setelah intervensi militer Rusia di Ukraina, Departemen Pertahanan telah menurunkan porsi keterlibatan profesional yang kita miliki dengan angkatan bersenjata Rusia," jelasnya.

Ketegangan antara Rusia dan Barat telah meningkat sejak pasukan Putin menyerbu ke timur Ukraina tahun lalu, sebelum penyatuan Crimea setelah referendum yang sangat mencurigakan. Ketegangan semakin meningkat setelah Rusia memutuskan untuk melakukan operasi udara di Suriah menuruti permintaan Presiden Suriah, Bashar al-Assad. [yy/sindonews]