17 Jumadil-Akhir 1443  |  Kamis 20 Januari 2022

basmalah.png
BERITA INTERNASIONAL

Rebut Crimea dari Rusia, Ukraina Siapkan Pasukan Khusus

Rebut Crimea dari Rusia, Ukraina Siapkan Pasukan KhususFiqhislam.com - Ukraina telah melatih unit pasukan khusus yang disiapkan untuk membantu Kiev merebut kembali Crimea dari Rusia.
 
Hal itu disampaikan Menteri Dalam Negeri Ukraina, Arsen Avakov. Komentar itu muncul di saat Presiden Ukraina; PetroPoroshenko mempertimbangkan untuk membangun kekuatan militer di sepanjang perbatasan Semenanjung Crimea.
 
Kami tidak punya apa-apa. Kami membutuhkan pasukan baru, Garda Nasional yang baru, kepolisian baru. Ini adalah apa yang Pemerintah Ukraina kerjakan sekarang,” kata Avakov kepada stasiun televisi Ukraina, 1+1 TV.
 
Kita harus mengembalikan semua ini, dan kemudian dengan kemauan cukup, Crimea akan menjadi milik kita,” lanjut dia, yang dilansir Sabtu (27/2/2016).” Saya tidak ragu tentang itu.”
 
Bahkan, lanjut menteri Ukraina itu, Kiev saat ini melatih kekuatan khusus secara terpisah di Garda Nasional.

Kami melatih beberapa orang dengan bantuan Mustafa Dzhemilev dan Refat Chubarov (aktivis Tatar Crimea di Ukraina)," katanya.
 
Kami sedang bekerja pada sebuah proyek yang akan mempersiapkan kita untuk mendapatkan kembali Crimea,” ujarnya.
 
Pada hari Jumat, Presiden Petro Poroshenko memerintahkan Kementerian Pertahanan dan Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina untuk menyusun proposal guna memperkuat perbatasan antara Ukraina dan Crimea.

Kementerian Pertahanan dan Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina telah diberitahu untuk mengajukan proposal pada penumpukan besar kemampuan pertahanan Ukraina di wilayah Kherson dan di sepanjang pantai Laut Hitam,” bunyi pernyataan kantor Kepresidenan.
 
Tujuan utama langkah ini, sambung pernyataan itu, adalah untuk melawan kemampuan Angkatan Darat Rusia yang tumbuh di Crimea.
 
Sementara itu, Kepala Jaksa Crimea, Natalya Poklonskaya, mengataka bahwa laporan dari Avakov telah melanggar konstitusi Rusia.

Jika mereka akan membuat batalyon bersenjata dan sebagainya, mungkin mereka lihat di pasal 208 KUHP Rusia dan melihat hukuman (hingga 15 tahun penjara). Seseorang tidak dapat membuat angkatan bersenjata ilegal untuk menangkap wilayah asing. Itu adalah kejahatan,” kata Poklonskaya yang dikutip RIA Novosti.

Crimea memisahkan diri dari Ukraina ketika krisis politik pecah di negara itu. Setelah memisahkan diri, warga Crimea menggelar referendum untuk bergabung dengan Rusia. Moskow menyetujui penggabungan Crimea ke dalam wilayah Rusia. Namun, aneksasi Rusia terhadap Crimea itu tidak pernah diakui Ukraina dan negara-negara Barat pro-Ukraina. [yy/sindonews]