24 Syawal 1443  |  Kamis 26 Mei 2022

basmalah.png

Intelijen AS Pesimistis Irak Rebut Mosul dari ISIS di 2016Fiqhislam.com - Direktur Badan Intelijen Pertahanan Amerika Serikat (AS) Korps Marinir Letnan Jenderal Vincent Stewart, Selasa (9/2) mengatakan, operasi pemerintah Irak untuk merebut kembali Mosul dari tangan kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) tidak mungkin dilakukan tahun 2016 ini.

"Mosul akan menjadi operasi yang kompleks. Saya tidak optimistis bahwa kami akan dapat mengubah (merebut kembali Mosul) dalam waktu dekat, tentu bukan tahun ini," ujar Stewart kepada Komite Angkatan Bersenjata Senat AS seperti dikutip dari laman Channel New Asia, Rabu (10/2).

Ia menambahkan, beberapa operasi isolasi di sekitar Mosul mungkin bisa dilakukan, tetapi untuk mengamankan atau mengambil kembali Mosul adalah operasi yang luas.

Stewart menambahkan, selain mengamankan Ramadi, pasukan Irak harus mengamankan lembah Sungai Efrat antara kota Hit dan Haditha sebelum beralih mengelilingi Mosul.

Pasukan Irak yang didukung oleh serangan udara AS, berhasil merebut kembali Ramadi dari ISIS pada akhir Desember 2015.

Sedangkan Mosul, adalah sebuah kota yang jauh lebih besar dengan penduduk terdiri dari banyak sekte. Bahkan di Ramadi, pasukan Irak masih bekerja untuk mengamankan kota itu dan sekitarnya.

Komentar Stewart lebih pesimistis daripada beberapa prediksi yang diucapkan oleh pejabat AS lainnya dan Irak tentang operasi melawan ISIS.

Sebelumnya, para pejabat Irak baru-baru ini optimistis bahwa Mosul yang dikuasai ISIS pada 2014, akan direbut tahun ini.

"Saya berjanji, setelah Ramadi, lihat apa yang terjadi sekarang di Raqqa di Suriah dan apa yang terjadi di Mosul pada akhir tahun ini," ujar Wakil Presiden AS Joe Biden pada akhir Januari 2016.

 Sementara para pejabat AS lainnya percaya operasi terhadap Mosul masih mungkin terjadi sebelum akhir masa jabatan Presiden AS Barack Obama.

Kuncinya, kata mereka, adalah AS dan sekutu-sekutunya memberikan pelatihan tambahan pasukan Irak. [yy/republika]

PM Irak Serukan Perombakan Kabinet Besar-besaran

Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi kembali membuat sebuah langkah yang terbilang mengejutkan. Dirinya menyerukan untuk dilakukan perombakan besar-besaran di tubuh pemerintah Irak saat ini.

Dalam sebuah pidato yang disiarkan di televisi setempat, Abadi mengaku akan mengganti sejumlah posisi Menteri di kabinetnya dengan tokoh-tokoh akademik terkemuka dan juga profesional.

"Saya menyerukan untuk adanya perombakan kabinet radikal untuk memasukkan teknokrat profesional dan tokoh akademik. Saya menyerukan parlemen terhormat dan semua blok-blok politik untuk bekerja sama dengan kami dalam tahap serius ini," kata Abadi seperti dilansir Al Arabiya pada Rabu (10/2).

Ini bukan pertama kali Abadi melakukan perombakan di kabinetnya. Bebeapa waktu lalu dirinya juga sempat menghapus beberapa jabatan di kabinetnya dengan alasan efesiensi anggaran.


Kala itu, Abadi merampingkan posisi wakil Presiden dan Perdana Menteri, yang sebelumnya berjumlah tiga orang, menjadi hanya satu orang. Selain karena efisensi anggaran, perombakan ini juga dilakukan untuk meminimalisir korupsi di jajaran pemerintahannya. [yy/sindonews]