25 Rabiul-Akhir 1443  |  Selasa 30 Nopember 2021

basmalah.png

Serangan di Tunisia, Korban Tewas Bertambah Jadi 55 Orang

Serangan di Tunisia, Korban Tewas Bertambah Jadi 55 OrangFiqhislam.com - Perdana Menteri Tunisia Habid Essid, Selasa (8/3) mengatakan, korban tewas akibat bentrokan antara pasukan Tunisia dan anggota ekstremis dekat perbatasan Libya meningkat menjadi 55 jiwa, termasuk 36 penyerang.

Essid mengatakan, sebanyak tujuh warga sipil dan 12 anggota pasukan keamanan Tunisia juga meninggal. Sedangkan sebanyak 17 orang lainnya mengalami luka-luka. "Serangan yang terjadi kemarin menunjukkan militer dan pasukan keamanan kami siap. Kami memenangkan pertempuran, tapi kami belum memenangkan perang melawan teror, dan perang yang berlanjut,’’ katanya dalam konferensi pers seperti dikutip dari laman Al Arabiya, Rabu (9/3).

Belum ada kelompok yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan yang terjadi Senin (7/3) di Kota Ben Guerdane tersebut. Essid mengatakan, sekitar 50 orang bersenjata  kebanyakan warga Tunisia mengambil bagian dalam penyerangan.

Namun, baru empat dari 36 penyerang tewas yang telah diidentifikasi. Essid tidak memberikan keterangan lebih lanjut tentang latar belakang penyerang, tetapi mengatakan sebagian berasal dari Libya.

Essid mengatakan, orang-orang bersenjata menargetkan kantor polisi dan fasilitas militer di Ben Guerdane setelah melakukan serangan mereka dari masjid di dekatnya.

Perdana menteri juga menegaskan bahwa kepala brigade anti-terorisme di Ben Guerdane di antara korban yang tewas. "Dia tewas di rumahnya ketika ia sedang bersiap untuk pergi bekerja, pada saat awal serangan," ujarnya.

Seorang militan menulis di sebuah situs yang berafiliasi dengan ISIS bahwa orang-orang bersenjata di Ben Guerdane adalah bagian dari kelompok yang keluar dari Libya karena di bawah tekanan.

Tunisia Buru Tersangka Penyerangan Hotel yang Dilatih Libya

Pihak berwenang Tunisia memburu tersangka lain dalam penyerangan hotel Sousse yang dikenali merupakan bagian dari sebuah kelompok yang dilatih di sebuah kamp di Libya bersama kelompok bersenjata yang melakukan serangan di sebuah museum di Tunis.

Sebanyak 38 warga asing, sebagian besar wisatawan Inggris, tewas dalam serangan pada Jumat itu sebelum si penyerang ditembak polisi. Pada Maret, dua lelaki bersenjata menewaskan 21 orang di museum Tunis Bardo, sebelum mereka juga ditembak.

Pihak berwajib mengatakan para tersangka dalam kedua serangan itu dilatih taktik militer melintasi perbatasan di Libya, tempat beberapa kelompok bersenjata diuntungkan oleh kekacauan politik negara tersebut untuk memperluas pengaruhnya serta membangun markas.

"Ini adalah sebuah kelompok yang dilatih di Libya, dan memiliki tujuan sama. Dua pelaku serangan di museum Bardo dan satu pelaku penyerangan di Sousse," kata Lazhar Akremi, menteri hubungan parlemen dilansir Reuters Jumat (3/7).

"Polisi tengah memburu dua lagi tersangka."

Ia mengatakan sebanyak 12 orang sudah ditahan sejak terjadinya serangan itu pada Jumat, yang merupakan serangan terburuk dalam sejarah modern negara Afrika Utara itu. Empat tersangka sudah dibebaskan.

Militan Negara Islam yang menguasai sebagian besar wilayah Irak dan Suriah, mengaku bertanggung jawab atas serangan di Tunisia itu. Namun, pihak berwajib mengatakan pelaku penembakan tidak ada dalam daftar pemantauan polisi.

Empat tahun setelah kebangkitan dunia Arab melawan Zine El-Abidine Ben Ali, Tunisia muncul sebagai model perubahan demokratis yang damai. Namun, negara tersebut juga tengah berjuang menghadapi munculnya kelompok Islam ultra-konservatif, beberapa di antaranya menggunakan kekerasan.

Pihak berwenang menuding kelompok setempat Okba Ibn Nafaa, yang di masa lalu lebih terkait dengan al Qaeda, bertanggung jawab atas serangan Bardo. Namun, kelompok Negara Islam juga menginspirasi serangan "Lone Wolf" dan menarik banyak pejuang muda untuk memisahkan diri dari kelompok Afrika Utara lain.

Lebih dari 3 ribu warga Tunisia pergi untuk bergabung bersama Negara Islam dan kelompok-kelompok lain di Irak, Suriah dan Libya, tempat konflik antara dua pemerintahan yang berseteru memungkinkan kelompok militan memperoleh tempat.

Otoritas Tunisia mengatakan para penyerang Sousse dan museum Bardo mendapatkan latihan militer akhir tahun lalu di sebuah kamp di perbatasan Libya selatan.

Lelaki bersenjata yang menyerang Bardo dan Sousse juga diradikalisasi, baik di masjid-masjid setempat, ataupun melalui kontak secara dalam talian, kata pihak berwajib.

Ketiga penyerang itu merahasiakan keyakinan kekerasan mereka dari keluarga dan teman. Untuk menghadapi rekrutmen militan setelah serangan Sousse, otoritas Tunisia mengatakan mereka menutup 80 masjid ilegal atau diketahui telah digunakan oleh imam-imam radikal untuk menyebarkan pesan-pesan garis keras.

Tunisia Sita Senjata dan Dokumen dengan Simbol ISIS

Tentara Tunisia menyita senjata dan dokumen yang menggunakan simbol ISIS dari dua mobil di dekat perbatasan Libya. Penyitaan dilakukan di tengah pemeriksaan ketat keamanan akibat dua serangan besar yang terjadi tahun ini.

"Pasukan menyita 10 Kalashnikov, granat berpeluncur roket, bahan peledak, kartu telepon Libya dan sejumlah dokumen," kata seorang pejabat di Kementerian Dalam Negeri Tunisia, seperti dilansir Arab News, kemarin.

Petugas turut membongkar kendaraan karena dicurigai akan digunakan sebagai bom mobil.  Pada Maret, kelompok bersenjata menewaskan 21 turis dalam serangan di Museum Bardo di Tunis.

Pada Juni, 38 warga asing tewas dalam serangan terhadap sebuah hotel di Pantai Sousse. ISIS mengaku bertanggung jawab atas dua serangan tersebut.

Bulan lalu, pihak berwenang Tunisia memperingatkan kemungkinan adanya bom mobil di Tunisia, dan melarang kunjungan ke bagian kota itu setelah mendapatkan laporan intelijen.

Tunisia Tetapkan Negara dalam Keadaan Darurat

Pemerintah Tunisia menetapkan status negara dalam darurat selama 30 hari mendatang, Selasa (24/11). Pemerintah juga menerapkan jam malam di ibu kota Tunis.

Keputusan itu diambil menyusul ledakan bom yang menyasar bus pengangkut anggota pasukan keamanan presiden. Ledakan menewaskan 12 orang dan melukai 20 lainnya.

Pemerintah menyebut ledakan bom tersebut merupakan serangan teroris. Aksi teror ini menambah daftar panjang daftar serangan yang dilakukan kelompok ekstremis di negara tersebut.

Belum ada pihak yang bertanggungjawab atas serangan ini. "Tunisia menyatakan perang terhada teroris," ujar  Presiden Tunisia Beji Caid Essebsi.

Essebsi tidak berada di bus tersebut saat serangan terjadi. Namun teror tersebut mengkhawatirkan karena mulai menyasar simbol-simbol negara.

Essebsi langsung menggelar pertemuan keamanan darurat menyusul serangan itu. "Saya ingin memastikan kepada rakyat Tunsia bahwa kita akan menghancurkan terorisme," ujarnya menegaskan.

Bassem Trifi, seorang saksi mata mengatakan, bom di jantung Kota Tunis itu menghantam sisi pintu sopir. "Saya setidaknya melihat lima jasad terbaring," ujarnya kepada AP. "Itu bukan ledakan biasa." [yy/republika]