26 Rabiul-Akhir 1443  |  Rabu 01 Desember 2021

basmalah.png

Penderitaan Rakyat Gaza yang Menganggur karena Blokade Israel

Penderitaan Rakyat Gaza yang Menganggur karena Blokade Israel

Fiqhislam.com - Amjad Ashour, seorang pekerja Palestina dari Jalur Gaza, tak memiliki apa-apa beberapa hari ini. Ia tidak memiliki cukup uang dan persediaan makanan setelah belum lama dipecat dari pekerjaannya di satu perusahaan furnitur setempat. Peristiwa itu memiliki hubungan erat dengan blokade selama sembilan tahun yang diberlakukan Israel atas Jalur Gaza.

Tanpa pekerjaan, pria berusia 34 tahun itu tak mampu memberi makan satu istri dan lima anaknya. Bersama dengan Ashour, 34 pekerja lain juga kehilangan mata pencaharian mereka di pabrik furnitur tersebut.

Denyut perekonomian di Jalur Gaza semakin melemah gara-gara blokade Israel. Ribuan pekerja di Jalur Gaza menderita akibat tak bisa memperoleh pekerjaan, sementara angka pengangguran telah mencapai puncaknya.

"Bagian administrasi perusahaan memberi tahu saya dan rekan-rekan saya bahwa kami dipecat sampai ada pemberitahuan lebih lanjut. Sebab, pabrik produk kayu itu berhenti berproduksi setelah terus melarang ekspor produknya dan impor bahan mentah," kata Ashour.

Perusahaan-Perusahaan di Gaza Hadapi Ancaman Kebangkrutan

Ia juga mengatakan, keputusan perusahaan tersebut adalah kejutan besar buat dia dan rekan-rekannya. "Sekarang saya tidak bekerja dan kami benar-benar tidak tahu kapan kami akan kembali ke pekerjaan jika ini terjadi pada suatu hari. Saya tidak optimistis," katanya seperti dilaporkan Xinhua, Senin (1/3).

Menurut Zeyad Musthaha, pemilik perusahaan itu, banyak perusahaan industri di Jalur Gaza diberi tahu pada November lalu jika Israel memutuskan melarang pengiriman kayu ke Jalur Gaza karena alasan keamanan. "Keputusan tersebut meliputi perusahaan furnitur," katanya.

Mushtaha mengatakan kepada Xinhua, blokade Israel adalah bencana buat perusahaannya. "Akhirnya, ini mengakibatkan penutupan total pabrik kami," katanya. Ia menambahkan, "Perusahaannya mungkin menghadapi kebangkrutan."

Pabrik furnitur itu lengang dan kosong dan semua mesinnya benar-benar tak beroperasi. Selama tiga dasawarsa belakangan, perusahaan tersebut tak pernah tutup kecuali pada hari libur.

Blokade Dilakukan karena Alasan Keamanan

Israel telah memberlakukan blokade ketat atas Jalur Gaza, setelah Hamas melalui kekerasan merebut kekuasaan atas daerah kantong pantai itu. Israel memutuskan untuk melarang pengiriman kayu ke Jalur Gaza setelah agresi 50 hari militernya pada 2014, dengan alasan gerilyawan menggunakan kayu untuk membuat terowongan bawah tanah.

Keputusan tersebut mengakibatkan ditutupnya beberapa perusahaan furnitur di Jalur Gaza. Menurut importir lokal, sekarang hanya ada dua perusahaan furnitur di Jalur Gaza dan mereka harus mematuhi tindakan ketat Israel serta peraturan untuk bertahan hidup.

Importir tersebut mengatakan, Jalur Gaza dulu biasa mengimpor 200 meter kubik kayu setiap hari sebelum 2007, dan semuanya digunakan untuk pembangunan. Mushtaha mengatakan, perusahaannya dulu biasa mengimpor kayu dari Tiongkok, Yunani, India, Italia, dan negara lain.

"Kami sangat prihatin karena tindakan (larangan Israel) ini akan memaksa kami kehilangan reputasi kami dan kepercayaan dari perusahaan eksportir di negara itu, yang telah kami bangun selama bertahun-tahun," katanya.

Blokade Berdampak pada Sektor Usaha Lain di Gaza

Mushtaha mengatakan, jumlah pekerja di industri furnitur di Jalur Gaza telah mencapai 10 ribu orang. Dua per tiga dari mereka kini dipecat.

Industri furnitur bukan satu-satunya sektor yang menderita akibat blokade Israel. Usaha dalam banyak bidang lain juga sangat terpukul.

Para pejabat di Kantor Liaison Palestina dengan Israel mengatakan kepada Xinhua, Israel tak pernah memberi alasan yang khusus bagi keputusan pelarangan itu. "Alasan keamanan" adalah satu-satunya alasan.

Kamar Dagang dan Industri Palestina di Jalur Gaza mengeluarkan satu laporan pada Januari bahwa angka pengangguran di Jalur Gaza telah mencapai 41 persen. Hatem Oweida, wakil menteri ekonomi Palestina, mengatakan, blokade Israel tentu saja telah menghalangi, mengganggu, dan merusak ekonomi Palestina.

"Ada lebih dari 200 jenis produk yang dilarang diekspor dan diimpor. Sebagian besar barang tersebut digunakan di berbagai sektor industri," katanya.

"Tahun lalu," kata dia melanjutkan, "Israel melarang 90 perusahaan yang berbeda di Jalur Gaza untuk mengekspor produk mereka." [yy/republika]