23 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 28 Nopember 2021

basmalah.png

Obama Yakin Trump tak akan Jadi Presiden AS

Obama Yakin Trump tak akan Jadi Presiden AS

Fiqhislam.com - Presiden Amerika Serikat Barack Obama yang sebentar lagi mencopot jabatannya yakin bahwa calon kandidat presiden dari Republik, Donald Trump, tidak akan menggantikan posisinya, Selasa (16/2). Ia meminta publik Amerika untuk mempertimbangkan banyak hal, termasuk peran presiden selanjutnya yang akan memiliki akses pada kode nuklir. AS akan menggelar pemilu pada 8 November.

"Saya terus percaya bahwa Mr Trump tidak akan jadi presiden, alasannya karena saya percaya pada masyarakat Amerika," kata dia, dikutip Telegraph. Obama menuturkan, penduduk Amerika menyadari bahwa menjadi presiden adalah pekerjaan serius.

"Ini bukan soal memandu acara talk show atau reality show, ini bukan promosi, bukan marketing. Ini adalah pekerjaan sulit dan orang-orang mengandalkan kita untuk melakukan yang benar," kata Obama. Trump dikenal sebagai pengusaha real estate dan pemandu acara TV "The Apprentice" dan "The Celebrity Apprentice" sebelum ia mendaftarkan diri sebagai kandidat presiden.

Presiden AS, tambahnya, harus bisa bekerja sama dengan para pemimpin di seluruh dunia. Ia adalah sosok yang tahu faktanya, tahu nama mereka, tahu posisi mereka di peta, dan tahu sejarah tentang mereka. 

"Orang yang berdiri di tempat saya nanti akan memiliki kode nuklir, ia bisa saja memerintahkan anak 21 tahun membakarnya," kata Obama.

Suami Michelle ini mengaku percaya bahwa semakin dekat dengan pemilu, orang-orang akan lebih masuk akal dan membuat keputusan yang masuk akal. Meski tidak menyebut nama, Obama tampak mendukung calon kandidat yang juga berasal dari Republik, Marco Rubio.

Ia merujuk pada sebuah kebijakan yang diusung Rubio untuk menyelesaikan krisis imigrasi. Obama mendukung usulan tersebut.

"Sekarang dia sedang berusaha sebisanya," kata Obama. Sementara, ia menolak untuk memilih dua calon Demokrat, Hillary Clinton dan Bernie Sanders.

Donald Trump tidak tinggal diam dikomentari demikian oleh Obama. Ia menyebut presiden AS itu telah melakukan kinerja buruk.

"Ia beruntung saya tidak maju pada pemilu sebelumnya. Karena sebenarnya, ia hanya akan menjabat satu periode," kata Trump.

Sebelumnya, Obama juga mengaku mendengar bahwa para pemimpin asing merasa khawatir dengan sikap para kandidat presiden dari kubu Republik, terutama dalam isu perubahan iklim dan imigrasi.

"Menurut saya, para pengamat asing merasa terganggu oleh sejumlah retorika pada primary dan debat yang dilakukan kubu Republik," ujar Obama kepada para wartawan, seusai pertemuannya dengan para pemimpin Asia Tenggara.

Trump misalnya, mendukung larangan bagi Muslim untuk masuk AS. Ia juga mengeluarkan beberapa pernyataan kontroversial mengenai imigran. Namun, kata Obama, kekhawatiran pemimpin asing tidak sebatas terhadap Trump.

"Ia (Trump --Red) mungkin memiliki sikap sentimen anti-Muslim, namun jika kita lihat para calon Republik lainnya, mereka juga mengkhawatirkan," ujar Obama. [yy/republika]

Trump Sebut Obama Presiden AS Terburuk

Kandidat calon Presiden Amerika Serikat (AS) dari partai Republik, Donald Trump merespon pernyataan Presiden AS Barack Obama terkait dirinya. Sebagai respon, Trump menyebut Obama sebagai Presiden AS terburuk sepanjang sejarah.

Melalui akun Twitternya, pengusaha eksentrik itu mengaku sedikit geli ketika mendengar pernyataan yang dilontarkan oleh Preisden kulit hitam pertama di AS itu.

"Menarik, bagaimana Presiden Obama jadi terbata-bata mengatakan saya tidak akan pernah menjadi Presiden - ini (pernyataan) datang dari mungkin Presiden terburuk dalam sejarah AS," kicau Trump, seperti dilansir Sputnik pada Rabu (17/2).

Seperti diketaui, Obama menyatakan secara terbuka jika dirinya bukan penggemar Trump, dan menyebut jika Trump tidak akan pernah menjadi Presiden AS. Obama mengatakan, dia dan warga AS masih percaya orang-orang yang layak masuk ke Gedung Putih. Dia berkelakar bahwa pemilihan presiden AS bukanlah ajang “reality show”.

”Dan, alasannya adalah karena saya memiliki banyak keyakinan bersama orang-orang Amerika. Dan saya pikir mereka mengakui bahwa menjadi presiden adalah pekerjaan yang serius,” kata Obama.

Obama mencontohkan, retorika Donald Trump tentang imigrasi dan rencananya untuk melarang semua warga Muslim memasuki AS. Masih menurut Obama, pos untuk presiden AS terlalu penting bagi calon yang tidak memiliki pengetahuan atau temperamen ketika berurusan dengan kekuatan asing. [yy/sindonews]