24 Syawal 1443  |  Kamis 26 Mei 2022

basmalah.png

Fiqhislam.com - Pasukan pendudukan Israel dilaporkan telah membunuh 313 warga Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza yang diduduki. Angka korban tewas itu termasuk 71 anak di bawah umur, kata kelompok hak asasi Israel, B'Tselem dalam sebuah laporan yang dikeluarkan pada Selasa (4/1/2022).

Laporan tersebut menyatakan bahwa 236 warga Palestina yang tewas di Jalur Gaza, sebagian besar terbunuh selama serangan Israel di Gaza antara 11 dan 21 Mei. Sementara 77 lainnya tewas di Tepi Barat yang diduduki, termasuk Yerusalem Timur.

Seperti dikutip dari Middle East Monitor, menurut B'Tselem, tiga warga Palestina lainnya dibunuh baik oleh pemukim bersenjata atau oleh tentara yang mengawal pemukim. “Anak Palestina lainnya ditembak oleh seorang warga sipil Israel dan kemudian oleh petugas Polisi Perbatasan; dan dua warga Palestina dibunuh oleh pemukim bersenjata," lanjut laporan tersebut.

Sementara kelompok ham internasional, Human Rights Watch telah melaporkan laporan PBB yang mengatakan, selama pertempuran Mei, serangan oleh militer Israel menewaskan 260 warga Palestina. Laporan itu juga mengatakan bahwa jumlah ini termasuk 66 anak-anak.

Tentang orang-orang Palestina yang terbunuh di Tepi Barat yang diduduki, B'Tselem mengatakan bahwa 32 dari mereka dibunuh oleh pasukan keamanan Israel, termasuk 9 anak di bawah umur yang terbunuh di atau dekat demonstrasi atau dalam insiden di mana orang-orang Palestina melemparkan batu.

"Di antara mereka adalah Islam Dar Nasser, 16, dan Muhammad Tamimi, 17, yang ditembak tentara dari belakang," sambung laporan tersebut.

B'Tselem juga menyatakan bahwa 14 Mei 2021 adalah hari paling mematikan di Tepi Barat sejak 2002. Pada tanggal itu, 13 orang Palestina terbunuh. Di antara mereka adalah Nidal Safadi, 'Awad Harb dan Isma'il Tubasi – ketiganya dibunuh oleh pemukim bersenjata atau oleh tentara yang mengawal mereka.

Kelompok hak asasi Israel mengatakan bahwa mereka menyelidiki 336 insiden kekerasan pemukim pada tahun 2021, dibandingkan dengan 251 pada tahun 2020. “Insiden-insiden ini memperjelas bahwa kekerasan pemukim bukanlah inisiatif pribadi, tetapi alat lain yang kurang formal, yang digunakan rezim apartheid Israel untuk mengambil alih lebih banyak tanah Palestina,” kata B'Tselem.

Dalam laporannya, B'Tselem mengatakan, "Kebijakan tembakan terbuka yang tidak sah dan mematikan Israel mengakibatkan pembunuhan ratusan warga Palestina tahun lalu. Sekitar 70 persen tewas di Jalur Gaza ketika kebijakan kriminal membombardir daerah padat penduduk.

B'Tselem mengatakan bahwa pejabat senior Israel "bersikeras bahwa tembakan mematikan digunakan sebagai upaya terakhir, sesuai dengan hukum Israel dan internasional, dan menekankan bahwa insiden itu diselidiki. "Namun fakta menunjukkan sebaliknya: penembakan mematikan adalah urusan rutin, dan tidak ada yang bertanggung jawab," lanjut laporan tersebut. [yy/Esnoe Faqih/sindonews]