24 Syawal 1443  |  Kamis 26 Mei 2022

basmalah.png

Fiqhislam.com - Mantan menteri komunikasi Israel, Ayoub al-Qara, menyerukan pembunuhan para pemimpin tinggi Hamas. Seruan itu disampaikan setelah adanya serangan roket dari Jalur Gaza ke Israel.

“Sudah waktunya mengirim Ismail Haniyah (pemimpin Hamas) dan Yahya Sinwar (ketua Hamas di Gaza) untuk bertemu (mantan pemimpin Hamas Abdul Aziz) al-Rantisi dan (pendiri Hamas Ahmad) Yasin,” kata al-Qara saat diwawancara Israeli Channel 14, dikutip laman Middle East Monitor, Ahad (2/1).

Israel diketahui membunuh al-Rantisi dan Yasin pada 2004. Al-Qara mengatakan, jika otoritas Israel tidak merespons serangan roket Hamas dari Jalur Gaza, hal itu akan menjadi pukulan fatal bagi pasukan pencegahan negara tersebut. “Ini akan mendorong Hamas dan kelompok lain di Gaza untuk terus menembaki warga Israel,” ujar politisi dari Partai Likud tersebut.

Pada Sabtu (1/1) malam lalu, sejumlah pesawat tempur Israel melancarkan serangan udara ke beberapa situs Hamas. Tank-tank Israel juga menembaki empat menara observasi Kementerian Dalam Negeri yang dikelola Hamas di Gaza utara. Tak ada laporan tentang korban luka maupun jiwa akibat serangan tersebut.

Pada 10-21 Mei tahun lalu, Hamas dan Israel terlibat pertempuran di Jalur Gaza. Konfrontasi itu dipicu oleh ketegangan yang terjadi di Tepi Barat, termasuk kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem. Seperti pertempuran sebelumnya, serangan Israel menyebabkan Gaza porak-poranda.

Sekitar 2.200 rumah hancur dan 37 ribu bangunan lainnya rusak. Para pejabat Palestina mengungkapkan, selama konflik 11 hari tersebut, 250 warga Gaza, termasuk 66 anak-anak, tewas akibat serangan udara Israel. Sementara Israel melaporkan 13 korban jiwa akibat serangan Hamas, termasuk dua anak-anak.

Hamas dan Israel akhirnya mencapai kesepakatan gencatan senjata pada 21 Mei berkat bantuan mediasi Mesir.

Hamas Kecam Israel

Sementara itu, Kelompok perlawanan Palestina, Hamas pada Ahad (2/1) mengecam serangan udara Israel di Jalur Gaza yang diblokade. Dalam sebuah pernyataan, Hamas menyebut serangan Israel sebagai agresi baru atas kejahatan Israel terhadap rakyat Palestina.

"Perlawanan (Palestina) akan terus memenuhi tugasnya untuk membela rakyat (Palestina), dan membebaskan tanah (Palestina) dan tempat-tempat suci," kata juru bicara kelompok Hamas, Hazem Qassem, dilansir Anadolu Agency, Senin (3/1).

Pesawat-pesawat tempur Israel melakukan serangan udara di beberapa pos keamanan Hamas di Gaza pada Sabtu (1/1) malam. Selain itu, sejumlah tank Israel juga menembaki empat menara observasi Kementerian Dalam Negeri yang dikelola Hamas di Gaza utara.

Tidak ada korban luka yang dilaporkan dalam serangan itu. Serangan udara itu sebagai pembalasan atas dua roket yang ditembakkan dari Gaza pada Sabtu (1/1), yang mendarat di Laut Mediterania di lepas pantai Israel tengah.

Sejauh ini, tidak diketahui apakah roket-roket itu dimaksudkan untuk menghantam Israel. Tetapi kelompok-kelompok militan yang berbasis di Gaza sering melakukan uji coba rudal ke arah laut. Tidak ada laporan korban akibat peluncuran roket tersebut.

Sejauh ini, tidak ada tembakan roket lintas perbatasan sejak Israel dan Hamas melakukan gencatan senjata untuk mengakhiri perang 11 hari pada Mei lalu. Gencatan senjata itu ditengahi oleh Mesir dan mediator lainnya. Hamas mengatakan, Israel tidak mengambil langkah serius untuk meringankan blokade yang diberlakukan di Gaza.

Kelompok militan lainnya seperti Jihad Islam mengancam eskalasi militer, jika Israel tidak mengakhiri penahanan administratif seorang tahanan Palestina yang telah melakukan mogok makan selama lebih dari 130 hari.

Sementara pada Rabu (29/12), militan Palestina di Gaza menembak dan melukai seorang warga sipil Israel di dekat pagar keamanan. Kemudian Israel menanggapi dengan tembakan tank yang menargetkan beberapa situs Hamas, sehingga terjadi baku tembak pertama dalam beberapa bulan. [yy/Kamran Dikarma/republika]