24 Syawal 1443  |  Kamis 26 Mei 2022

basmalah.png

Fiqhislam.com -  Pasukan pemerintah Myanmar menangkap penduduk desa, beberapa diyakini perempuan dan anak-anak. Militer menembak mati sedikitnya 38 orang dan membakar mayat-mayat itu.

Foto-foto yang diklaim sebagai akibat dari pembantaian malam Natal di desa Mo So timur menyebar di media sosial di Myanmar. Hal ini memicu kemarahan terhadap militer yang mengambil alih kekuasaan pada bulan Februari. Mo So berada tepat di luar kotapraja Hpruso di negara bagian Kayah, tempat para pengungsi berlindung dari serangan tentara.

Dua pekerja Save the Children terjebak dalam insiden itu. Menurut pernyataan kelompok hak asasi manusia, dua pekerja Save the Children masih hilang. "Kami mendapat konfirmasi bahwa kendaraan pribadi mereka diserang dan dibakar," kata pernyataan itu.

"Militer dilaporkan memaksa orang-orang keluar dari mobil, menangkap beberapa, membunuh yang lain dan membakar tubuh mereka."

Dalam pernyataan kelompok hak asasi, para pekerja yang hilang itu sedang berlibur setelah melakukan pekerjaan tanggap kemanusiaan di komunitas terdekat. Foto-foto menunjukkan tubuh hangus lebih dari 30 orang di tiga kendaraan yang terbakar. Akun dan gambar tidak dapat diverifikasi secara independen.

"Kami ngeri atas kekerasan yang dilakukan terhadap warga sipil tak berdosa dan staf kami, yang berdedikasi kemanusiaan, mendukung jutaan anak yang membutuhkan di seluruh Myanmar," kata kepala eksekutif Save the Children Inger Ashing.

Menurut Ashing, investigasi atas sifat insiden itu terus berlanjut. Namun serangan terhadap pekerja bantuan tidak dapat ditoleransi.

Seorang penduduk desa mengatakan para korban kabur dari pertempuran antara kelompok perlawanan bersenjata dan tentara Myanmar di dekat desa Koi Ngan. Lokasinya berada tepat di samping Mo So, pada hari Jumat. Mereka dibunuh setelah ditangkap oleh pasukan saat menuju ke kamp-kamp pengungsi di bagian barat kotapraja.

Pemerintah belum mengomentari tuduhan tersebut. Dalam laporan di surat kabar harian Myanma Alinn yang dikelola pemerintah pada Sabtu mengatakan bahwa pertempuran di dekat Mo So pecah pada hari Jumat. Saat itu anggota pasukan gerilya etnis, yang dikenal sebagai Partai Progresif Nasional Karenni atau KNDF, dan mereka yang menentang militer mengendarai kendaraan mencurigakan. Kelompok ini menyerang pasukan keamanan setelah menolak untuk berhenti.

Laporan surat kabar pemerintah mengatakan para korban adalah anggota baru KNDF. Mereka hendak menghadiri pelatihan untuk memerangi tentara. Tujuh kendaraan yang mereka tumpangi hancur dalam kebakaran. Tidak ada rincian lebih lanjut tentang pembunuhan itu.

Saksi mengatakan sisa-sisa tubuh korban terbakar tanpa bisa dikenali. Pakaian anak-anak dan wanita ditemukan bersama persediaan medis dan makanan.

"Mayat-mayat itu diikat dengan tali sebelum dibakar," kata saksi yang tidak mau disebutkan namanya karena khawatir akan keselamatannya.

Dia tidak melihat saat mereka terbunuh. Namun dia yakin beberapa dari mereka adalah penduduk desa Mo So yang dilaporkan ditangkap oleh militer Myamar pada hari Jumat. Dia menyangkal bahwa mereka yang ditangkap adalah anggota kelompok milisi yang terorganisir secara lokal. [yy/Dewi Rina/tempo]