24 Syawal 1443  |  Kamis 26 Mei 2022

basmalah.png

Fiqhislam.com - Gabriel Boric terpilih menjadi presiden baru Cile. Ia diketahui berasal dari sayap kiri pro-Palestina. Boric kerap kritis terhadap Israel dan mendukung boikot terhadap barang-barang Israel yang diproduksi di pendudukan.

Boric yang berusia 35 tahun mencuat namanya sebagai aktivis mahasiswa. Ia memenangkan pemilihan presiden dengan 56 persen suara, 12 persen lebih banyak dari kandidat sayap kanan Jose Antonio yang pro-Israel.

Pada Selasa (21/12) Middle East Eye melaporkan Presiden termuda dalam sejarah Chile itu sudah lama mengkritik Israel. Sebagai anggota parlemen ia mendukung undang-undang yang memboikot barang-barang Israel yang diproduksi di daerah pendudukan di Timur dan Barat Yerusalem serta dataran tinggi Golan.

Presiden komunitas Israel di Cile, Gabriel Colodro mengatakan Boric memilih setiap undang-undang yang menentang Israel. "Di stasiun televisi ia menyebut Israel negara pembunuh dan konsisten mendukung boikot Israel," kata Colodro pada Israel Hayom.

Namun pemimpin masyarakat itu mengatakan Boric merupakan presiden terpilih, fakta yang tidak hanya harus dihormati tapi juga diapresiasi. "Ia akan dihakimi berdasarkan tindakannya bukan pernyataannya," kata Colodro.

Pada 2019 Boric menerima hadiah hari raya Rosh Hoshanah dari lembaga non-profit yang mewakili 18 ribu masyarakat Yahudi di Cile. "Saya mengapresiasi gesturnya tapi mereka dapat memulai dengan meminta Israel mengembalikan tanah pendudukan ilegal ke wilayah Palestina," cicit Boric.

Masyarakat Yahudi Cile segera mengucapkan selamat pada Boric tidak lama setelah ia terpilih. Mereka mendoakan agar Boric dan pemerintahannya 'berhasil' dan memuji transparansi pemilihan umum. "Kami akan terus bekerja untuk Cile yang demokratis, beragam, di mana minoritas dihormati," kata Masyarakat Yahudi Cile dalam pernyataan mereka.

Cile menampung populasi Palestina terbanyak di luar dunia Arab. Sekitar 300 hingga 500 ribu orang keturunan Palestina tinggal di negara itu. Dalam pemilihan primary awal tahun ini Boric mengalahkan Daniel Jadue, cucu dari imigran Palestina yang juga dikenal menentang Israel.

Dalam pidato kemenangannya Boric berjanji untuk melawan dengan tegas hak istimewa beberapa orang. Ia hendak mewujudkan visinya untuk masa depan negara Amerika Selatan itu.

"Saya menjamin akan menjadi presiden yang peduli pada demokrasi dan tidak mengambil resiko, lebih banyak mendengarkan daripada berbicara, mendorong persatuan dan mengunjungi rakyat yang membutuhkan setiap hari," kata Boric seperti dikutip The Times of Israel.

Boric berjanji untuk mengatasi ketimpangan ekonomi dengan memperluas hak-hak sosial dan mereformasi sistem pensiun Chile serta sistem kesehatan nasional dan meningkatkan investasi pada ekonomi ramah lingkungan.

Profesor di Cile University Miguel Angel Lopez mengatakan Boric menghadapi periode yang kompleks di depan dan harus bernegosiasi dengan oposisi. Kongres terpecah di mana tidak ada pihak yang memiliki mayoritas.

"Dia sekarang harus membuat pidato yang kuat di mana dia mencoba untuk mengakhiri ketidakpastian. Banyak yang akan bergantung pada itu dan pada penunjukan dan keputusannya. Investor internasional akan sangat memperhatikan ini," ujar Lopez.

Pemilihan itu adalah yang paling memecah belah bangsa dalam beberapa dekade, dengan dua kandidat menawarkan visi masa depan yang sangat berbeda. Kedua kandidat berasal dari luar arus utama politik sentris yang telah memerintah Cile sejak kembalinya demokrasi pada 1990 setelah kediktatoran militer Pinochet. Keduanya memoderasi posisi mereka dalam beberapa pekan terakhir untuk memenangkan pemilih sentris. [yy/Lintar Satria/republika]