17 Jumadil-Akhir 1443  |  Kamis 20 Januari 2022

basmalah.png
BERITA INTERNASIONAL

Inggris Selalu Untungkan Israel dari Deklarasi Balfour Hingga Anggap Hamas Teroris

Inggris Selalu Untungkan Israel dari Deklarasi Balfour Hingga Anggap Hamas Teroris

Fiqhislam.com - Dalam dunia sepak bola, Inggris patut dipuji. Liga Utama Inggris saat ini terbaik di daratan Eropa bahkan dunia. Pertandingan antarklub sangat kompetitif dan enak ditonton. Pemain dan pelatih datang dari berbagai negara, beragam kulit, dan berbeda agama.

Mereka, pemilik klub, pelatih, pemain, dan bahkan penonton, tunduk pada aturan otoritas sepak bola Inggris. Antara lain menjunjung tinggi fairness atau fairplay dan antirasisme. Tak heran, penggemar Liga Primer Inggris sangat mendunia.

Sayangnya, yang berlangsung di dunia sepak bola tak terjadi di kancah politik Inggris. Utamanya politik luar negeri. Khususnya bila terkait konflik Palestina/Arab-Israel. Inggris tak pernah fair alias objektif. Yang diuntungkan selalu Israel, sedangkan yang dirugikan Palestina.

Ini dimulai sejak Deklarasi Balfour pada 1917. Deklarasi ini tercantum dalam surat dari Menlu Inggris, Arthur Balfour kepada Lord Rothschild, pemimpin komunitas Yahudi di Inggris, yang berisi dukungan pembentukan negara nasional untuk bangsa Yahudi di Palestina.

Ketika itu, warga Yahudi di Palestina minoritas. Surat pernyataan Arthur Balfour, yang lebih dikenal Deklarasi Balfour, membuka jalan berdirinya negara israel.

Antara lain, kemudahan imigrasi Yahudi ke wilayah Palestina, lalu mengusir penduduk asli (Palestina) disertai pembantaian dan penghancuran rumah mereka. Puncaknya, pembentukan negara Yahudi pada 1948.

Kebijakan terbaru, UU yang dirilis Inggris beberapa hari lalu, yang menganggap Hamas organisasi teroris, termasuk sayap politik dan militernya. UU ini berlaku sejak 26 November lalu, setelah sehari sebelumnya disahkan parlemen Inggris.

UU ini juga mencakup sanksi bagi pelanggarnya, antara lain hukuman hingga 14 tahun penjara atau denda bagi siapa saja yang mendukung Hamas. Dukungan ini bisa dalam bentuk bantuan dana, pernyataan, hingga aksi unjuk rasa, pengibaran bendera, atau slogan Hamas.

Mendagri Inggris Priti Patel menjelaskan mengapa Hamas dianggap kelompok teroris. ‘’Kelompok seperti Hamas mengancam kebebasan kami dengan anti-Semitisme mereka karena Hamas pada dasarnya anti-Semit,’’ ujarnya.

Yang jadi pertanyaan, apa sebutan bagi Zionis Israel yang terus menjajah, mengusir, dan membunuh orang Palestina? Jangan lupa, tindakan mereka selalu didukung negara Barat, termasuk tindakan Inggris yang terbaru tadi.

Seperti zaman kolonialisme, tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan selalu dicap oleh penjajah sebagai pemberontak. Mereka harus dimusnahkan atau diasingkan. Di lain pihak, warga jajahan menganggap mereka pejuang.

Inilah yang kini dilakukan pejuang Hamas, bahu-membahu dengan faksi Fatah dan kelompok pejuang lainnya, melawan penjajah Israel. Namanya saja Hamas, akronim bahasa Arab dari Harakat al Muqawwamah al Islamiyah, Gerakan Perlawanan Islam.

Hamas mempunyai arti kata tekun atau ketekunan. Hamas didirikan Syekh Ahmad Yassin pada 1987, berideologikan Islam Suni dan nasionalisme Palestina. Tujuannya, memerdekakan bangsa Palestina dari pendudukan Zionis Israel.

Syekh Yassin dibunuh Israel pada 2004, ketika kendaraannya dihantam tiga roket seusai shalat Subuh di sebuah masjid di Gaza. Sejak 2007, Hamas memerintah Jalur Gaza, setelah memenangkan mayoritas kursi di parlemen Palestina pada Pemilu 2006.

Fatah yang kalah pemilu memerintah Tepi Barat, setelah berlangsung serangkaian bentrok bersenjata dengan Hamas. Gaza dan Tepi Barat terus dikepung militer Israel. Bahkan, Israel telah dan sedang membangun ribuan permukiman Yahudi di wilayah pendudukan.

Sejak Pemilu 2006, beberapa pemilu gagal dilaksanakan. Terakhir, pemilu yang sedianya digelar tahun lalu, yaitu pemilu parlemen dan presiden. Kegagalan itu karena ada perkiraan yang didasarkan hasil survei lembaga-lembaga independen, Hamas menang pemilu.

Pemilu itu ditunda oleh Presiden Mahmud Abbas karena desakan AS dan negara Barat lain. Selama ini, PBB hanya mengakui pemerintahanan Palestina di Tepi Barat yang notabene dikuasai Fatah.

Berdasarkan penelitian Pew Studies Center, Hamas sangat populer di kalangan rakyat Palestina, mengalahkan Fatah. Bahkan, popularitas Hamas sangat besar bagi para warga Arab dan Islam karena paling gigih memperjuangkan nasib bangsa Palestina.

Antara lain melalui lembaga amal-sosial, agama, pendidikan, juga perhatiannya kepada anak-anak muda. Sayap militer Hamas, Brigade Izzuddin al Qassam, dikenal tangguh. Kini, bisa dikatakan, mereka yang paling menghadapi serangan militer Israel.

Dengan ketangguhan Hamas, Israel yang didukung negara sekutu Baratnya, mempersempit konflik Israel-Arab menjadi konflik Israel-Palestina, dan kini diperkecil lagi sebagai konflik Israel-Hamas.

Hamas pun dipersempit geraknya ketika Inggris mengesahkan UU yang menganggap Hamas teroris. Tampaknya, watak kolonialisme negara-negara penjajah tak pernah luntur hingga kini — meskipun zaman berubah dan pemimpin silih berganti. [yy/republika]

Oleh Ikhwanul Kiram Mashuri