17 Jumadil-Akhir 1443  |  Kamis 20 Januari 2022

basmalah.png
BERITA INTERNASIONAL

10 Ilmuwan Iran Direkrut Mossad untuk Ledakkan Fasilitas Nuklir Natanz

10 Ilmuwan Iran Direkrut Mossad untuk Ledakkan Fasilitas Nuklir Natanz

Fiqhislam.com - Media Yahudi, Jewish Chronicle, melaporkan bahwa Mossad berada di balik peledakan fasilitas nuklir Natanz pada April lalu. Itu merupakan salah satu situs atom Iran yang paling aman dan penting.

Menurut laporan tersebut, Mossad—badan intelijen Israel untuk operasi luar negeri—melakukannya dengan diam-diam merekrut 10 ilmuwan nuklir Iran.

Laporan itu diterbitkan pada Kamis (2/12/2021) tanpa menyebutkan sumbernya. Menurut laporan itu, sebanyak 10 ilmuwan setuju untuk membantu menghancurkan ruang sentrifugal di fasilitas nuklir Natanz. Namun, tampaknya mereka tidak tahu bahwa mereka melakukan ini atas nama Israel, melainkan untuk kelompok pembangkang Iran.

Pada akhirnya, ledakan tersebut menyebabkan kehancuran yang signifikan di pembangkit nuklir Natanz.

Sejak awal, media dan pejabat Iran menuduh Israel berada di balik insiden itu, sesuatu yang tidak pernah dikomentari oleh rezim Zionis, meskipun awalnya menyebutnya sebagai kecelakaan. Pejabat Teheran yang lain berspekulasi bahwa Amerika Serikat (AS) entah bagaimana terlibat.

Namun, menurut Jewish Chronicle, penghancuran sentrifugal Natanz dilakukan oleh para agen Mossad sendiri, dan telah dikerjakan selama bertahun-tahun.

Menurut laporan itu, bahan peledak disembunyikan pada awal 2019. Selanjutnya, sebuah pesawat tak berawak bersenjata diselundupkan ke Republik Islam itu sepotong demi sepotong untuk akhirnya meluncurkan rudal di situs lain di Karaj.

Secara keseluruhan, laporan tersebut mengeklaim tiga operasi direncanakan dalam waktu hanya 18 bulan. Ini termasuk pekerjaan seribu teknisi, mata-mata dan operator di lapangan.

Mossad dan pemerintah Israel belum berkomentar atas laporan tersebut. Pemerintah Iran juga belum berkomentar dan sedang fokus pada perundingan nuklir dengan negara-negara kekuatan dunia di Wina. [yy/sindonews]