25 Rabiul-Akhir 1443  |  Selasa 30 Nopember 2021

basmalah.png

Drone Buatan Iran Dipakai Milisi dalam Upaya Membunuh Perdana Menteri Irak

Drone Buatan Iran Dipakai Milisi dalam Upaya Membunuh Perdana Menteri Irak

Fiqhislam.com - Percobaan pembunuhan Perdana Menteri (PM) Irak Mustafa Al-Kadhimi dilakukan oleh setidaknya satu milisi yang didukung Teheran. Milisi menggunakan pesawat tanpa awak (drone) bermuatan bahan peledak yang dibuat di Iran.

Informasi itu diungkapkan pejabat keamanan dan sumber milisi pada Senin (8/11/2021).

Mustafa Al-Kadhimi lolos tanpa cedera ketika tiga drone menargetkan kediamannya di Zona Hijau Baghdad yang dijaga ketat pada Minggu (7/11/2021).

Dua drone dicegat dan dihancurkan, tetapi drone ketiga diledakkan, merusak gedung dan melukai beberapa pengawal pribadi PM Irak.

Insiden itu membuat ketegangan melonjak di Irak, di mana paramiliter kuat yang didukung Iran memprotes hasil pemilu legislatif bulan lalu yang membuat mereka kalah telak dalam pemilu dan sangat mengurangi kekuatan mereka di parlemen.

Banyak warga Irak khawatir ketegangan itu bisa berubah menjadi konflik sipil yang luas jika insiden serupa terjadi lebih lanjut.

Jalan-jalan di Baghdad lebih kosong dan lebih sepi dari biasanya pada Senin, dan pos pemeriksaan militer dan polisi tambahan di ibu kota tampaknya dikerahkan untuk mencegah kemungkinan kekerasan.

Para pejabat dan analis Irak mengatakan serangan itu dimaksudkan sebagai pesan dari milisi bahwa mereka bersedia menggunakan kekerasan jika dikeluarkan dari pembentukan pemerintahan baru, atau jika cengkeraman mereka di wilayah yang luas diganggu aparat negara.

"Itu adalah pesan yang jelas, 'Kami dapat menciptakan kekacauan di Irak, kami memiliki senjata, kami memiliki sarana'," ujar Hamdi Malik, pengamat spesialis milisi di Institut Washington.

Sumber-sumber milisi mengatakan komandan Pasukan Quds Garda Revolusi Iran di luar negeri melakukan perjalanan ke Irak pada Minggu setelah serangan itu untuk bertemu para pemimpin paramiliter dan mendesak mereka menghindari eskalasi kekerasan lebih lanjut.

Dua pejabat keamanan Irak mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa kelompok Kata'ib Hezbollah dan Asa'ib Ahl Al-Haq melakukan serangan bersama-sama.

Satu sumber milisi mengatakan Kata'ib Hezbollah terlibat tetapi tidak dapat mengkonfirmasi peran Asa'ib.

Salah satu pejabat keamanan Irak mengatakan pesawat tak berawak yang digunakan adalah jenis "quadcopter" yang mengandung bahan peledak berkekuatan tinggi yang mampu merusak bangunan dan kendaraan lapis baja.

Pejabat itu mengatakan bahwa itu adalah jenis drone dan bahan peledak buatan Iran yang sama yang digunakan dalam serangan tahun ini terhadap pasukan AS di Irak, yang dilakukan Kata'ib Hezbollah.

Malik mengatakan serangan drone itu menunjukkan milisi yang didukung Iran memposisikan diri mereka dalam oposisi terhadap ulama Syiah berpengaruh Muqtada Al-Sadr, yang juga mengendalikan milisi.

Skenario itu akan merugikan pengaruh Iran dan karena itu mungkin akan ditentang Teheran.

“Saya tidak berpikir Iran menginginkan perang saudara Syiah-Syiah. Itu akan melemahkan posisinya di Irak dan memungkinkan kelompok lain tumbuh lebih kuat,” papar dia.

Sementara itu, Dewan Keamanan PBB mengutuk serangan itu "dalam istilah yang paling keras."

"Anggota Dewan Keamanan menggarisbawahi perlunya meminta pertanggungjawaban pelaku, penyelenggara, penyandang dana, dan sponsor aksi terorisme tercela ini dan membawa mereka ke pengadilan," ungkap pernyataan Dewan Keamanan PBB. [yy/sindonews]