24 Syawal 1443  |  Kamis 26 Mei 2022

basmalah.png

Fiqhislam.com - Sosok salah satu pemimpin tertinggi Taliban, Hibatullah Akhundzada, kembali jadi sorotan. Akhundzada akhirnya tampil perdana di depan publik Afghanistan pasca Taliban menggulingkan kepemimpinan mantan Presiden Ashraf Ghani pada Agustus 2021 lalu.

Lantas bagaimana sosoknya? berikut ulasannya yang telah dirangkum dari BBC dan The Sun.

Kapan kelahiran seorang Hibatullah Akhundzada sebenarnya masih jadi tanda tanya. Ada dua tahun yang disebut sebagai waktu kelahirannya, yakni tahun 1959 atau 1961. Dia lahir di distrik Panjwayi, Provinsi Kandahar, Afghanistan.

Pada 1980-an, Hibatullah Akhundzada ikut dalam sebuah kampanye perlawanan terhadap Uni Soviet.

Sejak awal Taliban dibentuk pada 1994, Hibatullah Akhundzada sudah bergabung. Namun sang pemimpin misterius itu jarang tampil, hingga spekulasi bermunculan soal apakah benar dirinya ada dan sempat disebut seperti "hantu".

Hibatullah Akhundzada sangat menghindari penampilan di depan publik lantaran alasan keselamatan. Namun dia sesekali mengeluarkan keterangan tertulis mewakili Taliban.

Dalam kepemimpinan Taliban, dia mendapat gelar Mawlawi, yang mengisyaratkan dirinya sebagai seorang pemimpin agama, bukan panglima militer. Gelar mawlawi sendiri masuk dalam tingkatan yang lebih tinggi dari gelar mullah.

Hibatullah Akhundzada pernah menjabat sebagai deputi pemimpin Taliban dan Ketua semacam dewan syariat Taliban. Di tahun 1990-an, Akhundzada bekerja sebagai kepala Pengadilan Syariah.

Ketika Taliban digulingkan oleh pasukan AS pada 2001, Hibatullah Akhundzada masuk dalam lingkaran orang kepercayaan Mullah Omar.

Pada 2012, dia berhasil selamat dari upaya pembunuhan, yang disebut Taliban sebagai perbuatan pemerintah.

Setelah Mullah Mansour tewas dalam serangan drone Amerika Serikat di Pakistan, Hibatullah Akhundzada ditetapkan sebagai panglima tertinggi Taliban pada Mei 2016.

Reputasinya sebagai panglima Taliban kian kuat setelah dirinya membiarkan putranya sendiri yang masih berusia 23 tahun menjadi sukarelawan untuk bom bunuh diri di sebuah pangkalan militer Afghanistan.

Jaringan Hibatullah Akhundzada cukup kuat, terbukti ia menjalin hubungan dengan Quetta Shura, yaitu para pemimpin Taliban Afghanistan di kota Quetta, Pakistan.

Sebagai panglima tertinggi, Hibatullah Akhundzada bertanggung jawab atas urusan politik, militer dan agama di dalam tubuh Taliban.

Untuk pertama kalinya, Hibatullah Akhundzada muncul di depan publik Afghanistan. Dia berbicara di depan para pendukung di kota Kandahar, Afghanistan selatan.

Seperti dilansir AFP, Minggu (31/10/2021) banyak spekulasi soal perannya di pemerintahan baru Taliban lantaran dirinya tak pernah muncul sebelumnya. Bahkan ada rumor dirinya telah meninggal dunia.

"Pada hari Sabtu (30/10), ia mengunjungi madrasah Darul Uloom Hakimah untuk berbicara dengan tentara dan muridnya yang pemberani," menurut pejabat Taliban.

Saat kunjungan itu, penjagaan sangat ketat dan tak diperbolehkan mengambil foto atau video. Taliban hanya membagikan rekaman suara Akhundzada selama sepuluh menit yang diunggah di akun media sosial Taliban.

Dalam pidatonya, Hibatullah Akhundzada tidak membahas soal politik. Dia hanya mendoakan agar pemerintahan Taliban mendapatkan ridho Allah.

Dia juga berdoa untuk para martir Taliban, pejuang yang terluka dan keberhasilan pejabat Imarah Islam dalam 'ujian besar' ini. [yy/news.detik]

 

Fiqhislam.com - Sosok salah satu pemimpin tertinggi Taliban, Hibatullah Akhundzada, kembali jadi sorotan. Akhundzada akhirnya tampil perdana di depan publik Afghanistan pasca Taliban menggulingkan kepemimpinan mantan Presiden Ashraf Ghani pada Agustus 2021 lalu.

Lantas bagaimana sosoknya? berikut ulasannya yang telah dirangkum dari BBC dan The Sun.

Kapan kelahiran seorang Hibatullah Akhundzada sebenarnya masih jadi tanda tanya. Ada dua tahun yang disebut sebagai waktu kelahirannya, yakni tahun 1959 atau 1961. Dia lahir di distrik Panjwayi, Provinsi Kandahar, Afghanistan.

Pada 1980-an, Hibatullah Akhundzada ikut dalam sebuah kampanye perlawanan terhadap Uni Soviet.

Sejak awal Taliban dibentuk pada 1994, Hibatullah Akhundzada sudah bergabung. Namun sang pemimpin misterius itu jarang tampil, hingga spekulasi bermunculan soal apakah benar dirinya ada dan sempat disebut seperti "hantu".

Hibatullah Akhundzada sangat menghindari penampilan di depan publik lantaran alasan keselamatan. Namun dia sesekali mengeluarkan keterangan tertulis mewakili Taliban.

Dalam kepemimpinan Taliban, dia mendapat gelar Mawlawi, yang mengisyaratkan dirinya sebagai seorang pemimpin agama, bukan panglima militer. Gelar mawlawi sendiri masuk dalam tingkatan yang lebih tinggi dari gelar mullah.

Hibatullah Akhundzada pernah menjabat sebagai deputi pemimpin Taliban dan Ketua semacam dewan syariat Taliban. Di tahun 1990-an, Akhundzada bekerja sebagai kepala Pengadilan Syariah.

Ketika Taliban digulingkan oleh pasukan AS pada 2001, Hibatullah Akhundzada masuk dalam lingkaran orang kepercayaan Mullah Omar.

Pada 2012, dia berhasil selamat dari upaya pembunuhan, yang disebut Taliban sebagai perbuatan pemerintah.

Setelah Mullah Mansour tewas dalam serangan drone Amerika Serikat di Pakistan, Hibatullah Akhundzada ditetapkan sebagai panglima tertinggi Taliban pada Mei 2016.

Reputasinya sebagai panglima Taliban kian kuat setelah dirinya membiarkan putranya sendiri yang masih berusia 23 tahun menjadi sukarelawan untuk bom bunuh diri di sebuah pangkalan militer Afghanistan.

Jaringan Hibatullah Akhundzada cukup kuat, terbukti ia menjalin hubungan dengan Quetta Shura, yaitu para pemimpin Taliban Afghanistan di kota Quetta, Pakistan.

Sebagai panglima tertinggi, Hibatullah Akhundzada bertanggung jawab atas urusan politik, militer dan agama di dalam tubuh Taliban.

Untuk pertama kalinya, Hibatullah Akhundzada muncul di depan publik Afghanistan. Dia berbicara di depan para pendukung di kota Kandahar, Afghanistan selatan.

Seperti dilansir AFP, Minggu (31/10/2021) banyak spekulasi soal perannya di pemerintahan baru Taliban lantaran dirinya tak pernah muncul sebelumnya. Bahkan ada rumor dirinya telah meninggal dunia.

"Pada hari Sabtu (30/10), ia mengunjungi madrasah Darul Uloom Hakimah untuk berbicara dengan tentara dan muridnya yang pemberani," menurut pejabat Taliban.

Saat kunjungan itu, penjagaan sangat ketat dan tak diperbolehkan mengambil foto atau video. Taliban hanya membagikan rekaman suara Akhundzada selama sepuluh menit yang diunggah di akun media sosial Taliban.

Dalam pidatonya, Hibatullah Akhundzada tidak membahas soal politik. Dia hanya mendoakan agar pemerintahan Taliban mendapatkan ridho Allah.

Dia juga berdoa untuk para martir Taliban, pejuang yang terluka dan keberhasilan pejabat Imarah Islam dalam 'ujian besar' ini. [yy/news.detik]

 

Kelaparan Massal

Kelaparan Massal, Taliban Minta Dana Afghanistan di Luar Negeri Dicairkan


Fiqhislam.com - Pemerintahan Taliban yang berkuasa di Afghanistan menyerukan pencairan dana cadangan miliaran dolar Amerika milik Bank Sentral Afghanistan yang disimpan di luar negeri dan kini dibekukan. Seruan ini disampaikan saat Afghanistan menghadapi krisis uang tunai dan kelaparan massal.

Seperti dilansir Reuters, Jumat (29/10/2021), Afghanistan memarkir aset miliaran dolar Amerika di luar negeri yang disimpan di Bank Sentral Amerika Serikat (AS) dan beberapa bank sentral lainnya di Eropa. Namun dana itu dibekukan sejak Taliban menggulingkan pemerintahan yang didukung Barat pada Agustus lalu.

Juru bicara Kementerian Keuangan Taliban, Ahmad Wali Haqmal, menyatakan bahwa pemerintahan Taliban akan menghormati hak asasi manusia (HAM), termasuk pendidikan untuk perempuan, saat dia mengupayakan dana segar selain bantuan kemanusiaan, yang disebutnya hanya memberikan 'bantuan kecil'.

Di bawah kepemimpinan Taliban tahun 1996-2001 silam, sebagian besar perempuan tidak mendapatkan pekerjaan dan pendidikan, dan diwajibkan menutup wajah mereka dan harus selalu didampingi kerabat laki-laki saat pergi keluar rumah.

"Uang itu milik bangsa Afghanistan. Berikanlah uang kami," ucap Haqmal kepada Reuters.

"Membekukan uang ini tidak etis dan bertentangan dengan semua hukum dan nilai internasional," cetusnya.

Secara terpisah, seorang pejabat Bank Sentral Afghanistan menyerukan negara-negara Eropa, termasuk Jerman, untuk mencairkan dana cadangan Afghanistan demi menghindari keruntuhan ekonomi yang bisa memicu migrasi massal ke Eropa.

"Situasinya gawat dan jumlah uang tunai semakin berkurang," sebut anggota dewan Bank Sentral Afghanistan, Shah Mehrabi, kepada Reuters.

"Hanya cukup untuk saat ini ... untuk menjaga Afghanistan tetap berlanjut sampai akhir tahun," imbuhnya.

"Eropa akan terkena dampak paling parah, jika Afghanistan tidak mendapatkan akses terhadap uang ini," ujar Mehrabi memperingatkan. "Anda akan mendapatkan pukulan ganda karena tidak bisa mendapatkan roti dan tidak mampu membelinya. Orang-orang akan putus asa. Mereka akan pergi ke Eropa," ucapnya.

Seruan bantuan mencuat saat Afghanistan menghadapi keruntuhan perekonomiannya yang sudah rapuh. Kepergian pasukan asing pimpinan AS dan banyak donatur internasional juga meninggalkan negara itu tanpa memberikan hibah yang membiayai tiga perempat dari pengeluaran negara.

Meskipun negara-negara Barat ingin menghindari bencana kemanusiaan di Afghanistan, mereka enggan memberikan pengakuan resmi bagi pemerintah Taliban.

Lebih lanjut, Mehrabi menuturkan bahwa meskipun AS telah menegaskan tidak akan mencairkan dana cadangan US$ 9 miliar yang disimpan di wilayahnya, negara-negara Eropa diharapkan bisa segera mencabut pembekuan terhadap dana cadangan Afghanistan di wilayah mereka.

Dia menyebut sekitar US$ 431 juta dana cadangan Bank Sentral Afghanistan disimpan dengan pemberi pinjaman Jerman, Commerzbank, dan sekitar US$ 94 juta disimpan di Bank Sentral Jerman, Bundesbank. Kemudian Bank for International Settlements, kelompok yang memayungi bank sentral global di Swiss, menyimpan sekitar US$ 660 juta dana cadangan Afghanistan.

Ketiga pihak itu menolak memberikan komentar.

Mehrabi menyatakan bahwa Afghanistan membutuhkan US$ 150 juta setiap bulannya untuk 'mencegah krisis yang mungkin terjadi', menjaga mata uang lokal dan harga-harga tetap stabil, serta setiap transfer akan dipantau auditor.

"Jika dana cadangan tetap dibekukan, para importir Afghanistan tidak akan mampu membayar pengiriman mereka, bank-bank akan mulai kolaps, makanan akan menjadi langka, toko kelontong akan kosong," sebutnya. [yy/news.detik]