2 Jumadil-Awal 1443  |  Senin 06 Desember 2021

basmalah.png

Iran: Mengapa Israel Bebas Mengamuk dengan Nuklir Tanpa Pengawasan

Iran: Mengapa Israel Bebas Mengamuk dengan Nuklir Tanpa Pengawasan

Fiqhislam.com - Israel telah lama menuduh Iran ingin memiliki senjata nuklir. Rezim Zionis itu juga melobi Amerika Serikat (AS) untuk menarik diri dari perjanjian penting tentang nuklir Iran.

Republik Islam Iran menolak berbagai tuduhan bahwa program nuklir damainya memiliki aspek militer. Teheran menunjuk pada dugaan persediaan nuklir Israel itu sendiri, yang tidak dikonfirmasi atau disangkal Tel Aviv.

Seorang diplomat senior Iran telah memanggil direktur Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi atas komentarnya baru-baru ini dalam wawancara tentang mengapa pengawas nuklir secara obsesif memantau kegiatan nuklir Teheran sementara mengabaikan sepak terjang Israel.

“Apa keuntungan menjadi anggota (Perjanjian Non-Proliferasi) dan sepenuhnya menerapkan perlindungan Badan?” tanya Kazem Gharib Abadi, duta besar Iran untuk badan-badan PBB di Wina, bertanya dalam tweet pada Jumat (15/10/2021).

“Bagaimana orang bisa melihat IAEA sebagai mitra yang serius, profesional dan tidak memihak jika tidak mengejar secara merata dan adil penerapan rezim perlindungan untuk semua anggotanya?” ujar diplomat itu.

Gharib Abadi menyertai tweet dengan tangkapan layar kutipan wawancara 8 Oktober antara Grossi dengan Energy Intelligence, saat dia ditanya mengapa IAEA menghabiskan begitu banyak waktu untuk fokus pada program nuklir Iran sementara secara efektif mengabaikan Israel.

Grossi menjelaskan bahwa ada “alasan yang sangat jelas” untuk ini: Israel bukan pihak dalam NPT.

“Saya tidak menilai apakah ini baik atau buruk. Saya berharap mereka akan (bergabung dengan perjanjian), karena saya percaya pada universalitas perjanjian ini, tetapi mereka memiliki keputusan untuk tidak melakukan itu. Tetapi ketika Anda memiliki negara yang tidak melakukan itu, tingkat inspeksi yang kami miliki terbatas pada apa pun yang mereka nyatakan,” ujar kepala badan pengawas nuklir PBB itu.

“Dalam kasus Iran, Iran, seperti kebanyakan negara di dunia, adalah pihak dalam NPT, dan dari status hukum itu Anda akan memperoleh sejumlah kewajiban yang mereka miliki,” papar Grossi.

Dalam tanggapannya, Gharib Abadi menegaskan, “Diam dan lalai tentang program nuklir Israel mengirimkan pesan negatif kepada anggota NPT bahwa 'menjadi anggota sama dengan menerima verifikasi yang kuat, sementara berada di luar Perjanjian berarti bebas dari kewajiban dan kritik apa pun, dan bahkan diberi hadiah?!'”

Masa jabatan diplomat Iran sebagai duta besar organisasi PBB di Wina itu berakhir pada Jumat.

Para pejabat Iran telah berulang kali menekankan dugaan nuklir Israel, dan bukan ambisi senjata nuklir Iran, sebagai bahaya nyata bagi Timur Tengah.

Iran menyalahkan Tel Aviv dan Washington karena mencegah realisasi perjanjian yang diusulkan Iran tentang perjanjian bebas senjata nuklir di Timur Tengah.

Pada Selasa, Heidar Ali Balouji, utusan Iran untuk komite pertama Majelis Umum PBB tentang perlucutan senjata, menuduh Israel menentang semua rezim internasional yang mengatur senjata pemusnah massal, termasuk senjata nuklir, kimia dan biologi.

Juga pada Selasa, Perdana Menteri Israel Naftali Bennett meminta Dewan Keamanan PBB mengambil tindakan terhadap Iran atas dugaan ambisi untuk mengembangkan nuklir. [yy/sindonews]

 

 

Tags: Nuklir | Iran | Israel | IAEA