22 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 28 Oktober 2021

basmalah.png

Qatar: Kecil Negaranya, Global Permainannya

Qatar: Kecil Negaranya, Global Permainannya

Fiqhislam.com - Presiden Amerika Serikat Joe Biden memuji Qatar atas perannya menjadi jembatan udara buat mengevakuasi lebih dari 120 warga AS dan sekutunya keluar dari Afghanistan, akhir Agustus lalu.

Bahkan, ia merasa perlu mengutus dua menterinya —Menlu Anthony Blinken dan Menhan Lloyd Austin — ke Doha pada 7 September lalu, bertemu Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad bin Khalifa al-Tsani, untuk mengucapkan terima kasih atas nama rakyat AS.

Di Doha, ibu kota Qatar, kedua menteri dijamu makam malam secara pribadi oleh penguasa Qatar berusia 41 tahun itu. Kata Menlu Blinken, "Hubungan kami dengan Qatar sangat kuat, dan kini lebih kuat. Rakyat AS tak akan pernah melupakan peran besar Qatar."

Menlu Qatar Muhammad bin Abdulrahman Al Thani menimpali, "AS sekutu terpenting kami." Persekutuan AS-Qatar berlangsung puluhan tahun. Bahkan, pangkalan militer AS di Qatar, Al Udeid, merupakan terbesar di Timur Tengah. Al Udeid terletak di barat daya Doha.

Evakuasi warga asing dari Kabul menjelang batas akhir 31 Agustus lalu disebut Gedung Putih terbesar dan tersulit sepanjang sejarah. Evakuasi berlangsung semrawut dan kacau. Bahkan, diwarnai ledakan bom yang menewaskan lebih dari 100 orang, di antaranya warga AS.

ga:}

Qatar membantu evakuasi, ketika puluhan ribu orang membanjiri Bandara Internasional Kabul, setelah pengambilalihan kekuasaan oleh Taliban pada 15 Agustus lalu. Menurut Kemenlu AS, Qatar tempat evakuasi pertama dan terbesar dari Afghanistan.

Dari sekitar 120 ribu yang dievakuasi, separuhnya ditampung di Qatar, sebelum diterbangkan ke negara masing-masing.

Hingga sekarang, masih sekitar 20 ribu orang di Qatar, sebagian besar warga Afghanistan yang dulu bekerja untuk kepentingan AS dan negara Barat sekutunya. Sebagian mereka ditampung di gedung-gedung yang disiapkan untuk kepentingan Piala Dunia 2022.

Sebagian lainnya ditempatkan di pangkalan militer AS, Al Udeid. Sekitar 20 ribu orang ini menunggu proses administrasi, sebelum diterbangkan ke negara pemberi suaka.

Peran Qatar membantu evakuasi berjalan lancar berkat hubungan baik dengan Taliban, secara formal dimulai 2013 ketika Taliban membuka kantor politik di Doha. Awalnya, AS keberatan, tetapi justru dimanfaatkan Gedung Putih untuk berunding dengan Taliban.

Perundingan yang ditengahi Qatar, antara lain, untuk membebaskan Sersan Angkatan Darat AS Boy Bergdahl pada 2014, yang ditahan Taliban selama lima tahun. Sebagai gantinya, AS membebaskan lima tokoh Taliban yang ditahan di Guantanamo.

Qatar pula yang berhasil membujuk AS dan Taliban bernegosiasi langsung, yang menghasilkan kesepakatan bersejarah pada 29 Februari 2020. Antara lain, AS dan sekutunya menarik semua pasukan dari Afghanistan sebelum 31 Agustus 2021.

Imbalannya, Taliban mencegah setiap gerakan bersenjata mengeksploitasi wilayah Afghanistan untuk menyerang AS dan sekutunya.

Setelah pasukan asing ditarik dari Afghanistan, Qatar berperan penting di Kabul. Dari memperbaiki fasilitas Bandara Internasional Kabul yang hancur, mengirim bantuan kemanusiaan, hingga menjadi konsultan Taliban membentuk pemerintahan.

Bahkan, pemimpin dunia yang ingin berhubungan dengan Pemerintah Emirat Islam Afghanistan kini, perlu sowan dulu ke Doha.

Atas keberhasilan Qatar, Asisten Menlu Qatar Lulwah Al Khater mengatakan, "Terkadang, ukuran kecil (Qatar) benar-benar memungkinkan Anda memainkan peran itu, karena Anda tidak menakut-nakuti siapa pun."

Qatar memang negara kecil. Luasnya kurang dari 12 ribu km persegi. Bandingkan dengan Jakarta yang 661,52 km persegi. Ia negara semenanjung di Jazirah Arab, berjarak sekitar 1.800 kilometer dari Kabul.

Posisinya dikepung Arab Saudi di selatan dan Teluk Persia di tiga sisi sisanya. Penduduknya sedikit. Pada 2017, menurut Otoritas Statistik Qatar, populasinya 2,6 juta jiwa. Itu pun yang berkewarganegaraan Qatar hanya 313 ribu orang (12 persen).

Sisanya atau 2,3 juta adalah ekspatriat alias pekerja asing dari berbagai negara.

Kendati kecil, jangan tanya kekayaan mereka. Versi World Bank, Qatar terkaya ketiga di dunia setelah Luksemburg dan Norwegia. Pada 2016, pendapatan per kapita Qatar 93.714,1 dolar AS atau Rp 1.218.283.300,00 (dengan nilai tukar Rp 14 ribu per dolar).

Dengan kekayaan melimpah serta ditunjang kemampuan diplomasi, negara ini memainkan peranan global. Selain berhubungan baik dengan Taliban, Qatar melindungi kelompok yang disebutnya teraniaya. Antara lain, Ikhwanul Muslimin dan Hamas.

Qatar pun menjalin hubungan baik dengan Iran yang disebutnya negara besar dan ikut menentukan stabilitas kawasan Timur Tengah. Sikap Qatar ini yang membuatnya dikucilkan selama empat tahun oleh negara Teluk lain, yakni Arab Saudi, UEA, Bahrain, plus Mesir.

Namun, Qatar tak peduli. Qatar ingin mempertahankan kebijakan luar negerinya secara mandiri sesuai kepentingannya. Awal tahun ini pengucilan itu pun dicabut. Selain lewat jalur politik, permainan global Qatar juga ditempuh melalui banyak saluran.

Bagi Qatar, negara boleh kecil, tetapi permainannya harus global. Dan, ini paling penting, tanpa melupakan kesejahteraan dan kenyamanan warganya. [yy/republika]

Oleh Ikhwanul Kiram Mashuri