12 Rabiul-Awal 1443  |  Senin 18 Oktober 2021

basmalah.png

Perang di Marib Menggila, 140 Pasukan Yaman dan Houthi Tewas

Perang di Marib Menggila, 140 Pasukan Yaman dan Houthi Tewas

Fiqhislam.com - Lebih dari 140 pemberontak Houthi dan pasukan pro-pemerintah Yaman tewas pekan ini ketika pertempuran menggila untuk menguasai kota strategis Marib di utara Yaman.

Sumber militer dan medis mengatakan kabar terbaru itu kepada AFP pada Jumat (24/9/2021).

“Sebanyak 51 pasukan pro-pemerintah Yaman tewas dalam empat hari terakhir, kebanyakan dari mereka meninggal saat pertempuran di provinsi Shabwa dan provinsi tetangga Marib,” ungkap beberapa sumber militer Yaman.

Mereka menambahkan sebanyak 93 pemberontak Houthi juga tewas dalam pertempuran itu dan dari serangan udara oleh koalisi militer yang mendukung pemerintah Yaman.

Houthi jarang melaporkan jumlah korban tewas, tetapi angka tersebut dikonfirmasi sumber medis.

Houthi pada Februari meningkatkan upaya mereka merebut Marib, benteng terakhir pemerintah Yaman di utara. Pertempuran itu telah menewaskan ratusan orang di kedua pihak.

Menurut sumber militer Yaman, yang berbicara dengan syarat anonim, Houthi telah membuat kemajuan dan merebut empat distrik, satu distrik di Marib dan tiga distrik di Shabwa.

Konflik Yaman berkobar pada 2014 ketika Houthi merebut ibu kota Sanaa, mendorong intervensi Arab Saudi dan aliansinya untuk menopang pemerintah Yaman yang diakui secara internasional pada tahun berikutnya.

Awal pekan ini, diplomat Swedia sekaligus Utusan Baru PBB untuk Yaman Hans Grundberg berada di Oman. Dia telah memainkan peran mediasi dalam konflik Yaman.

Dia bertemu pejabat Oman dan Houthi, termasuk negosiator Houthi terkemuka Mohammed Abdulsalam.

“Perdamaian yang berkelanjutan hanya dapat dicapai melalui penyelesaian yang dirundingkan secara damai,” papar Grundberg, menurut pernyataan pada Selasa.

Dia menjelaskan, “Sangat penting bahwa semua upaya diarahkan untuk merevitalisasi proses politik yang dapat menghasilkan solusi abadi yang memenuhi aspirasi perempuan dan laki-laki Yaman.”

Saat PBB dan Washington mendorong untuk mengakhiri perang, Houthi telah menuntut pembukaan kembali bandara Sanaa yang ditutup oleh blokade Saudi sejak 2016.

Pembukaan bandara Sanaa itu menjadi syarat sebelum ada gencatan senjata atau negosiasi.

Pembicaraan terakhir terjadi di Swedia pada 2018, ketika pihak-pihak yang berseberangan menyetujui pertukaran tahanan massal dan untuk menyelamatkan kota Hodeidah.

Pelabuhan Hodeidah berfungsi sebagai jalur kehidupan warga Yaman karena menangani seluruh pengiriman bantuan dan kebutuhan pokok masyarakat.

Meskipun menyetujui gencatan senjata di Hodeidah, pertempuran tetap pecah antara pemberontak dan pasukan pro-pemerintah di sekitar kota strategis tersebut.

Pada Rabu, para donor menjanjikan tambahan USD600 juta untuk mengatasi krisis kemanusiaan Yaman, ketika PBB dan badan-badan bantuan lainnya memperingatkan program-program bantuan vital akan dipotong tahun ini tanpa lebih banyak dana.

Rencana respons bantuan senilai USD3,85 miliar tahun ini digambarkan PBB sebagai krisis kemanusiaan terbesar di dunia.

Bantuan hanya didanai setengahnya sebelum pertemuan tingkat tinggi PBB pada Rabu yang diselenggarakan bersama oleh Swedia, Swiss, dan Uni Eropa.

PBB memperingatkan peningkatan risiko kelaparan apabila target bantuan tidak tercapai. [yy/sindonews]