14 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 21 Oktober 2021

basmalah.png

Kondisi Afghanistan Sebulan Setelah Taliban Berkuasa

Kondisi Afghanistan Sebulan Setelah Taliban Berkuasa

Fiqhislam.com - Sebulan yang lalu, 15 Agustus 2021, Taliban dengan kilat menguasai Afghanistan dengan merebut hampir seluruh wilayah termasuk ibu kota Kabul. Namun sebulan setelah berkuasa, Taliban kini menghadapi sejumlah tantangan yang menghantui terutama pada krisis ekonominya.

Sebelum Taliban berkuasa, Afghanistan sebetulnya juga sudah terseok-seok ekonominya oleh karena peperangan yang berlangsung selama empat dekade atau sejak Uni Soviet menginvasi Afghanistan. Bahkan, meskipun ratusan miliar dolar AS dikucurkan ke negara itu selama 20 tahun belakangan, perekonomian negara juga tidak kunjung membaik.

Ekonomi Afghanistan hancur ditambah kekeringan dan kelaparan mendorong ribuan orang dari pedesaan bermigrasi ke kota-kota mencari sesuap nasi. Program Pangan Dunia (WFP) khawatir pasokan makanan bisa habis pada akhir bulan sehingga mengancam 14 juta penduduk Afghanistan ke jurang kelaparan.

Perhatian tertuju pada pemerintahan baru Taliban yang katanya akan menepati janji melindungi hak-hak perempuan. Padahal, bagi warga Afghanistan, prioritas utamanya adalah kelangsungan hidup yang sederhana.

"Setiap orang Afghanistan, anak-anak, mereka lapar, mereka tidak punya sekantong tepung atau minyak goreng," kata penduduk Kabul, Abdullah.

Antrean panjang masih terjadi di luar bank di negara itu. Batas penarikan per pekan setiap pemilik akun bank sebesar 200 dolar AS atau 20 ribu Afghani telah diberlakukan untuk melindungi cadangan negara yang semakin menipis.

Pasar dadakan di mana orang menjual barang-barang rumah tangga dengan uang tunai bermunculan di seluruh Kabul, meskipun pembeli kekurangan pasokan. Bahkan dengan miliaran dolar dalam bantuan asing, ekonomi Afghanistan masih berjuang hidup.

Pertumbuhan ekonomi gagal mengimbangi peningkatan populasi yang stabil. Pekerjaan langka dan banyak pekerja pemerintah tidak dibayar setidaknya sejak Juli.

Meski banyak yang menyambut baik berakhirnya pertempuran, tapi kelegaan itu tak dapat membohongi perut yang kosong. "Keamanan cukup baik saat ini tetapi kami tidak mendapatkan apa-apa," kata seorang tukang daging dari daerah Bibi Mahro di Kabul, yang menolak menyebutkan namanya.

"Setiap hari, segalanya menjadi lebih buruk bagi kami, lebih pahit. Ini benar-benar situasi yang buruk."

Setelah evakuasi asing yang kacau di Kabul bulan lalu, penerbangan pertolongan pertama mulai berdatangan saat bandara dibuka kembali. Donor internasional telah menjanjikan lebih dari 1 miliar dolar AS untuk mencegah apa yang diperingatkan oleh Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres sebagai "runtuhnya seluruh negara."

Namun demikian, reaksi dunia terhadap pemerintahan baru Taliban dan kelompok garis kerasnya nampak dingin. Hingga kini belum ada tanda-tanda pengakuan internasional atau langkah untuk membuka blokir lebih dari 9 miliar cadangan devisa yang disimpan di luar Afghanistan.

Pejabat Taliban pun berjuang untuk meyakinkan dunia luar bahwa mereka benar-benar telah berubah. Namun laporan yang tersebar luas tentang kekerasan Taliban terhadap warga sipil dan jurnalis menimbulkan keraguan terhadap Taliban.

Selain itu, ada ketidakpercayaan mendalam terhadap tokoh-tokoh senior pemerintah seperti menteri dalam negeri baru Sirajuddin Haqqani. Dia adalah sosok yang ditunjuk oleh Amerika Serikat sebagai teroris global dengan hadiah 10 juta dolar AS untuk kepalanya.

Berjuang mendapatkan kepercayaan dunia, Taliban harus melawan spekulasi atas perpecahan internal yang mendalam di jajarannya sendiri. Kelompok tersebut menyangkal rumor bahwa Wakil Perdana Menteri Abdul Ghani Baradar telah tewas dalam baku tembak dengan pendukung Haqqani.

Para pejabat Taliban mengatakan pemerintah sedang bekerja untuk mendapatkan layanan dan berjalan kembali. Mereka juga mengatakan bahwa kini jalan-jalan desa dan kota aman.

Namun, kekhawatiran kembali menghantui bagi jutaan rakyat Afghanistan dan bagaimana Taliban bisa menyelesaikan krisis ekonomi menjulang sebagai masalah yang lebih besar. "Pencurian sudah hilang. Tapi roti juga hilang," kata salah satu penjaga toko. [yy/republika]