23 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 28 Nopember 2021

basmalah.png

Taliban Sangkal Kabar Pemimpin Al-Qaeda Berlindung di Afghanistan

Taliban Sangkal Kabar Pemimpin Al-Qaeda Berlindung di Afghanistan

Fiqhislam.com - Taliban telah menguasai seluruh Afghanistan setelah runtuhnya pemerintah Kabul yang didukung Barat. Mereka berjanji kepada Rusia, Amerika Serikat (AS) dan negara-negara lain bahwa mereka tidak akan membiarkan al-Qaeda dan kelompok teroris lainnya beroperasi di Afghanistan.

“Laporan bahwa Pemimpin al-Qaeda Ayman al-Zawahiri sedang disembunyikan Taliban tidak benar,” ungkap Mohammad Naim, juru bicara Taliban pada Sputnik, Selasa (14/9/2021).

"Ini bohong. Tidak ada hubungannya dengan kebenaran," papar Naim.

Pada Minggu (12/9/2021), Michael Morell, analis intelijen yang menjabat sebagai direktur CIA era Presiden Barack Obama antara 2011 dan 2013, mengatakan kepada CBS Face the Nation bahwa intelijen AS percaya Zawahiri tinggal di Afghanistan.

"Kami pikir begitu, yang berarti Taliban menyembunyikan Zawahiri hari ini. Taliban menyembunyikan al-Qaeda hari ini. Dan saya pikir itu poin yang sangat penting," ujar Morell. Pensiunan kepala CIA itu tidak merinci tuduhan itu.

Selama akhir pekan, Zawahiri dilaporkan terlihat dalam video yang dirilis pada peringatan 20 tahun serangan teror 9/11.

Analis intelijen berspekulasi bahwa rekaman itu belum tentu dibuat baru-baru ini, dan dapat difilmkan kapan saja sejak Februari 2020 dan penandatanganan perjanjian AS-Taliban di Doha tentang penarikan pasukan AS dari Afghanistan.

Desas-desus bahwa pemimpin berusia 70 tahun itu telah meninggal mulai beredar pada November.

Namun, badan intelijen di AS dan negara lain tidak dapat memberikan bukti kuat bahwa dia telah meninggal.

Zawahiri menjabat sebagai orang nomor dua al-Qaeda selama beberapa dekade di bawah kepemimpinan Pendiri al-Qaeda Osama bin Laden.

Setelah dugaan pembunuhan Osama bin Laden dalam serangan US Navy SEAL di Pakistan, Zawahiri menjadi pemimpin kelompok tersebut.

Al-Qaeda dan kegiatan teroris internasionalnya dibayangi kebangkitan Negara Islam (ISIS) pada pertengahan 2010-an dan pembentukan 'kekhalifahan' kelompok ISIS di seluruh wilayah luas Suriah dan Afghanistan.

Antara 2014 dan 2017, koalisi pasukan yang termasuk Suriah, Hizbullah Lebanon, Rusia dan Iran serta AS, Irak dan milisi Syiah sekutu Baghdad, berjuang menghancurkan 'kekhalifahan' ISIS.

Suriah, Iran, Hizbullah, militer Rusia dan negara-negara lain serta aktor-aktor yang memerangi ekstremisme telah berulang kali menuduh AS, negara-negara Teluk, dan kekuatan lain bekerja sama dengan atau mendukung kelompok-kelompok teroris, termasuk al-Qaeda dan cabang Suriahnya yang berganti nama, Tahrir al-Sham.

Awal tahun ini, Jim Jeffrey, mantan utusan Donald Trump untuk koalisi Barat melawan ISIS yang membual tentang berbohong kepada presiden tentang ukuran sebenarnya dari jejak militer AS di Suriah, secara terbuka mengakui AS menganggap Tahrir al-Sham sebagai "aset" untuk strategi Washington saat ini di Suriah. [yy/sindonews]