25 Rabiul-Akhir 1443  |  Selasa 30 Nopember 2021

basmalah.png

Saat Barat Bimbang, China-Taliban Makin Hangat

Saat Barat Bimbang, China-Taliban Makin Hangat

Fiqhislam.com - Keadaan ekonomi Afghanistan yang telah lama dilanda konflik dan krisis kemanusiaan kini bertambah suram sejak Taliban mengambil alih kendali pemerintahan.

Namun Amerika Serikat dan negara Barat lainnya hingga kini masih enggan memberikan dana kepada Taliban sampai gerakan Islam ini mau memberikan jaminan bahwa mereka akan menegakkan hak asasi manusia, dan khususnya hak-hak perempuan.

Aset negara itu yakni sekitar 10 miliar dolar AS yang yang disimpan di luar negeri hingga kini masih juga dibekukan.

"Tujuan yang dapat dipahami yaitu untuk menihilkan dana ini untuk (dipakai oleh) pemerintahan de facto Taliban," kata Deborah Lyons, perwakilan khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Afghanistan, kepada Dewan Keamanan PBB tentang pembekuan dana tersebut.

"Namun, efek yang tak terhindarkan adalah parahnya penurunan ekonomi yang dapat membuat jutaan orang jatuh ke dalam kemiskinan dan kelaparan, dapat menghasilkan gelombang besar pengungsi dari Afghanistan, dan memang membuat Afghanistan mundur beberapa generasi," lanjut Lyons.

Selain itu, efek lain dari pembekuan dana ini adalah Afghanistan cenderung lebih dekat ke negara tetangganya yakni China dan Pakistan. Kedua negara ini memang telah mengirim banyak pasokan ke Afghanistan. Keduanya juga mengisyaratkan bahwa mereka terbuka untuk lebih terlibat dalam membantu negara itu.

Bantuan dari China dan Pakistan

Pada pekan lalu, China mengumumkan akan mengirim bantuan makanan dan pasokan kesehatan senilai 31 juta dolar AS ke Afghanistan. Ini menjadi salah satu di antara janji pemberian bantuan asing pertama sejak Taliban mengambil alih kekuasaan pada bulan lalu.

Pakistan pada pekan lalu juga mengirim pasokan seperti minyak goreng dan obat-obatan ke pihak berwenang di Kabul. Menteri Luar Negeri Afghanistan sebelumnya telah meminta masyarakat internasional untuk memberikan bantuan tanpa syarat dan mencairkan aset Afghanistan di luar negeri.

Sementara kedua negara tetangga telah bergerak, sekitar 40 menteri negara-negara donor dijadwalkan akan berunding di markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa, Swiss, pada Senin (13/09) untuk mendiskusikan pemberian bantuan bagi Afghanistan.

PBB memperkirakan bahwa pada Desember tahun ini Afghanistan akan butuh bantuan dengan nilai sekitar 606 juta dolar AS. Banyak negara bersedia memberikan bantuan kemanusiaan.

Namun mereka khawatir akan distribusi dan pembelanjaan bantuan tersebut mengingat Taliban yang memegang kendali. Negara-negara donor mengatakan harus ada persyaratan khusus pada setiap pemberian sumbangan.

Tertarik Tambang Mineral, Terancam Gerakan Militan

Pakistan memang punya hubungan yang mendalam dengan Taliban dan telah dituduh ikut mendukung kelompok itu saat mereka memerangi pemerintah yang didukung AS di Kabul selama 20 tahun. Namun Islamabad membantah tuduhan ini.

Sementara China, selain punya aliansi kuat dengan Pakistan, juga ada keterlibatan dengan Taliban. Beberapa analis mengatakan negara itu tertarik dengan kekayaan mineral Afghanistan, termasuk cadangan lithium dalam jumlah besar yang menjadi komponen kunci produksi kendaraan listrik.

Namun China juga menyatakan keprihatinannya akan militansi yang dapat menyebar dari Afghanistan melintasi perbatasan ke negaranya. Karena itu, China ingin administrasi Taliban membantu mengatasinya.

Di luar bantuan kemanusiaan, beberapa ahli dan pejabat di kawasan itu mengatakan proyek raksasa Jalur Sutra yaitu Belt and Road Initiative (BRI) oleh China dapat memberi bantuan bagi kelangsungan ekonomi Afghanistan dalam jangka panjang.

Satu kemungkinan adalah bergabungnya Afghanistan dengan Koridor Ekonomi China-Pakistan (CPEC) yang menjadi bagian utama proyek BRI. Beijing telah menjanjikan dana lebih dari 60 miliar dolar AS untuk proyek infrastruktur di Pakistan ini dan sebagian besar dalam bentuk pinjaman.

"Taliban akan dengan senang hati bergabung dengan CPEC, China juga akan sangat senang," ujar Rustam Shah Mohmand, mantan duta besar Pakistan untuk Afghanistan.

China belum memberikan komentar apa pun tentang BRI, tetapi Menteri Luar Negeri Wang Yi mengatakan Beijing siap untuk secara aktif membahas dibukanya kembali jalur kereta barang dari China ke Afghanistan dan memfasilitasi interaksi Afghanistan dengan dunia luar.

Sementara Kementerian Luar Negeri Pakistan dan juru bicara Taliban belum berkomentar terkait hal ini.

Taliban Sambut Baik Investasi Asing

Para pemimpin Taliban dalam beberapa pekan terakhir mengatakan mereka ingin menjalin hubungan baik dengan China.

Seorang sumber senior Taliban mengatakan diskusi tentang kemungkinan peluang investasi dengan China telah dilakukan di Doha, Qatar. China secara khusus menyatakan ketertarikan pada sektor pertambangan, tetapi aktivitas apa pun di sektor ini akan terbuka untuk ditender, kata sumber itu.

"Taliban menyambut baik investasi asing yang akan menguntungkan negara," kata sumber tersebut.

Dua sumber di Afghanistan dan Pakistan yang mengetahui masalah ini mengatakan bahwa selama ini China telah secara proaktif mendorong Afghanistan untuk bergabung dengan CPEC.

Namun pemerintah sebelumnya yang didukung AS tidak menanggapinya dengan komitmen penuh. Taliban yang kini sangat butuh stimulus ekonomi dan pengakuan internasional terlihat lebih antusias.

"Jalan terbaik ke depan dan opsi alternatif yang segera tersedia untuk pembangunan ekonomi Afghanistan adalah CPEC, yang juga melibatkan Pakistan dan China," kata Mushahid Hussain Sayed, seorang senator Pakistan dan mantan ketua China-Pakistan Institute. "Pemerintahan baru di Kabul juga akan menerima ini dan mereka tertarik."

Namun, bagi China yang memang punya kepentingan pertambangan di Afghanistan, setiap investasi akan disertai risiko, mengingat situasi keamanan yang tidak pasti di negara itu. [yy/republika]