14 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 21 Oktober 2021

basmalah.png

Seruan Pemberontakan, Pertempuran Paling Mematikan Pecah di Myanmar

Seruan Pemberontakan, Pertempuran Paling Mematikan Pecah di Myanmar

Fiqhislam.com - Setidaknya 15 hingga 20 penduduk desa, termasuk beberapa remaja, tewas dalam sejumlah pertempuran paling mematikan di Myanmar sejak Juli lalu antara pasukan pemerintah dan pasukan perlawanan. Hal itu diungkapkan seorang penduduk desa dan laporan media independen.

Pertempuran di dekat kota Gangaw di wilayah Magway barat laut dimulai pada Kamis lalu, dua hari setelah seruan untuk pemberontakan nasional dikeluarkan oleh Pemerintah Persatuan Nasional, sebuah organisasi oposisi yang berusaha mengoordinasikan perlawanan terhadap kekuasaan militer.

"Pertempuran pecah ketika lebih dari 100 tentara tiba dengan empat kendaraan militer untuk mengamankan daerah di Myin Thar dan lima desa terdekat lainnya," kata seorang penduduk seperti dikutip dari The Associated Press, Sabtu (11/9/2021).

"Anggota milisi bela diri desa bersenjata ringan melepaskan tembakan peringatan tetapi tidak dapat menghentikan tentara memasuki daerah itu dan bentrokan berlanjut setelah itu," sambungnya, yang berbicara dengan syarat anonim untuk menjaga keamanannya.

Menurut sumber, yang mendapatkan informasi dari orang lain di desanya, setidaknya 11 anggota kelompok bela diri tewas dalam pertempuran tersebut. Foto-foto yang digambarkan sebagai jasad para korban beredar luas di internet, dan cukup jelas untuk diidentifikasi oleh mereka yang mengenal para korban.

“Kami hanya memiliki senjata buatan tangan dan senjata kunci perkusi,” kata penduduk desa.

“Saat hujan, senjata menjadi tidak berguna. Ada banyak korban karena ketidakseimbangan senjata,” imbuhnya.

Pasukan pemerintah Myanmar sendiri diperlengkapi dengan baik dengan senjata modern dan memiliki akses ke dukungan udara dan artileri.

Sumber tersebut mengatakan penduduk lain mengatakan kepadanya bahwa sebagian besar anggota pasukan pertahanan desa adalah pemuda dan lima dari mereka yang tewas adalah siswa kelas 9 dan 10.

"Seorang guru sekolah menengah juga dikatakan telah terbunuh," katanya.

Ia menambahkan lebih dari 2.000 rumah tangga di daerah itu telah melarikan diri ke hutan, sementara tentara berkemah di rumah-rumah yang ditinggalkan dan di biara Buddha setempat. Empat orang lagi dipastikan tewas setelah pertempuran pecah lagi Jumat pagi, katanya, dan sejumlah rumah dibakar.

Laporan oleh media independen menyebutkan jumlah korban tewas di antara penduduk desa mencapai 20 orang atau lebih. Khit Thit Media, sebuah berita online, mengatakan diberitahu oleh penduduk desa bahwa korban tewas termasuk tujuh non-pejuang selain militan.

Gerakan oposisi yang bangkit melawan kudeta yang dilakukan oleh tentara terhadap pemerintah terpilih Aung San Suu Kyi pada bulan Februari lalu awalnya berjalan damai. Namun gerakan itu secara bertahap mulai melawan setelah pasukan keamanan menggunakan kekuatan mematikan untuk membubarkan protes tanpa kekerasan.

Seruan Pemerintah Persatuan Nasional pada hari Selasa untuk "perang defensif rakyat" mendapatkan respons yang antusias di media sosial, tetapi dampak aktualnya di lapangan sulit diukur.

Media yang bersimpati kepada oposisi melaporkan ledakan penembakan skala kecil dan sabotase oleh kelompok perlawanan, terutama penggulingan menara transmisi telepon seluler.

Tetapi kegiatan serupa telah terjadi selama beberapa bulan dan detailnya sulit diverifikasi secara independen.

Menurut Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik, sebuah organisasi independen yang menyimpan penghitungan rinci mereka yang terbunuh atau ditahan oleh pemerintah militer, ada 1.058 aktivis dan pengamat yang terbunuh sejak pengambilalihan militer Februari.

Pemerintah minggu ini mengklaim pasukan perlawanan bertanggung jawab atas kematian 933 orang, lapor Popular News, mengutip Wakil Menteri Dalam Negeri Jenderal Soe Tint Naing.

Dalam briefing hari Kamis untuk diplomat asing yang juga dihadiri oleh kantor berita, Soe Tint Naing mengatakan mereka yang tewas termasuk personel keamanan, pegawai negeri dan orang-orang yang diyakini oleh perlawanan sebagai informan pemerintah. [yy/sindonews]