2 Jumadil-Awal 1443  |  Senin 06 Desember 2021

basmalah.png

Abdul Ghani Baradar Calon Pemimpin Afghanistan: Bos Taliban yang Ditakuti, Dijuluki 'Baradar si Jagal'

Abdul Ghani Baradar Calon Pemimpin Afghanistan: Bos Taliban yang Ditakuti, Dijuluki 'Baradar si Jagal'

Fiqhislam.com - Mullah Abdul Ghani Baradar sudah ramai disebut akan menjadi pemimpin di pemerintah baru Afghanistan . Dia adalah salah satu pendiri dan petinggi Taliban yang ditakuti dan pernah dijuluki "Baradar si Jagal".

Orang-orang dalam kelompok Taliban mengatakan kepada Reuters, Jumat (3/9/2021) bahwa pemerintah baru yang dipimpin Baradar nantinya akan membawahi 25 kementerian dan dewan konsultatif yang terdiri dari 12 cendekiawan Muslim.

Pemerintah baru yang dipimpin Taliban belum diumumkan hampir tiga minggu setelah para milisi mereka menguasai Afghanistan.

Sumber-sumber tersebut mengatakan Baradar, yang saat ini bertanggung jawab atas kantor politik Taliban, akan bergabung dengan Mullah Mohammad Yaqoob, putra almarhum salah satu pendiri Taliban Mullah Omar, dan Sher Mohammad Abbas Stanikzai, di posisi senior pemerintah.

Pemimpin agama tertinggi Taliban, Hibatullah Akhundzada, akan fokus pada masalah agama dan bagaimana memerintah dalam kerangka Islam.

"Semua pemimpin puncak telah tiba di Kabul, di mana persiapan sedang dalam tahap akhir untuk mengumumkan pemerintahan baru," kata seorang pejabat Taliban.

Meskipun awalnya mengeklaim ingin membentuk pemerintahan konsensus, menurut sumber, Taliban sekarang hanya mempertimbangkan satu yang hanya terdiri dari anggota Taliban.

Baradar, yang sejarah brutalnya mendapat julukan "Baradar si Jagal", sudah tiba di Kabul dua minggu lalu untuk memulai pembicaraan tentang pemerintahan baru.

Baradar mengawali gerakan Taliban pada 1994 dengan almarhum pemimpin Mullah Mohammed Omar.

Menurut catatan pfofilnya tahun 2010 di Times of London, Baradar dikenal karena beberapa taktik paling mematikan militan Islam, termasuk menanam alat peledak improvisasi (IED) di sepanjang jalan yang akan dilalui musuh mereka, menyebut IED "bunga".

Dia telah tinggal di Pakistan di mana dia ditangkap pada tahun 2010 tetapi kemudian dibebaskan pada tahun 2018.

Baradar adalah satu-satunya pemimpin Taliban yang masih hidup yang secara pribadi ditunjuk sebagai wakil oleh mendiang komandan Taliban Mullah Mohammed Omar.

Para milisi Taliban, yang menguasai Kabul 15 Agustus, saat ini memerangi pasukan perlawanan di Lembah Panjshir, utara Kabul, yang masih setia kepada pemerintah yang digulingkan.

Sementara itu, setelah penarikan pasukan Amerika Serikat (AS) yang mematikan dari Kabul awal pekan ini, pemerintahan Joe Biden telah mewanti-wanti Pakistan agar tidak membantu kelompok-kelompok teroris termasuk ISIS-K dan al-Qaeda.

Pakistan, bagaimanapun, telah meremehkan apa arti pemerintahan yang dipimpin Taliban bagi Afghanistan.

Diskusi termasuk dalam email dan kabel diplomatik AS telah diperoleh media. Dalam satu percakapan dengan seorang pejabat Departemen Luar Negeri, Duta Besar Pakistan untuk AS Asad Majeed Khan mempertanyakan laporan bahwa milisi Taliban sedang memburu musuh.

Duta Besar itu mengatakan; "Taliban tidak mencari pembalasan, dan pada kenyataannya pulang ke rumah untuk meyakinkan warga Afghanistan bahwa tidak akan ada pembalasan."

Dorongan untuk memerangi kelompok teroris di Afghanistan muncul setelah seorang pembom bunuh diri ISIS-K menewaskan 13 tentara AS dan lebih dari 170 warga Afghanistan dalam serangan di gerbang bandara Kabul seminggu yang lalu.

Presiden Biden pada hari Kamis mengunjungi 15 anggota layanan militer AS yang terluka di Pusat Medis Militer Nasional Walter Reed di luar Washington. [yy/sindonews]

 

Abdul Ghani Baradar Calon Pemimpin Afghanistan: Bos Taliban yang Ditakuti, Dijuluki 'Baradar si Jagal'

Fiqhislam.com - Mullah Abdul Ghani Baradar sudah ramai disebut akan menjadi pemimpin di pemerintah baru Afghanistan . Dia adalah salah satu pendiri dan petinggi Taliban yang ditakuti dan pernah dijuluki "Baradar si Jagal".

Orang-orang dalam kelompok Taliban mengatakan kepada Reuters, Jumat (3/9/2021) bahwa pemerintah baru yang dipimpin Baradar nantinya akan membawahi 25 kementerian dan dewan konsultatif yang terdiri dari 12 cendekiawan Muslim.

Pemerintah baru yang dipimpin Taliban belum diumumkan hampir tiga minggu setelah para milisi mereka menguasai Afghanistan.

Sumber-sumber tersebut mengatakan Baradar, yang saat ini bertanggung jawab atas kantor politik Taliban, akan bergabung dengan Mullah Mohammad Yaqoob, putra almarhum salah satu pendiri Taliban Mullah Omar, dan Sher Mohammad Abbas Stanikzai, di posisi senior pemerintah.

Pemimpin agama tertinggi Taliban, Hibatullah Akhundzada, akan fokus pada masalah agama dan bagaimana memerintah dalam kerangka Islam.

"Semua pemimpin puncak telah tiba di Kabul, di mana persiapan sedang dalam tahap akhir untuk mengumumkan pemerintahan baru," kata seorang pejabat Taliban.

Meskipun awalnya mengeklaim ingin membentuk pemerintahan konsensus, menurut sumber, Taliban sekarang hanya mempertimbangkan satu yang hanya terdiri dari anggota Taliban.

Baradar, yang sejarah brutalnya mendapat julukan "Baradar si Jagal", sudah tiba di Kabul dua minggu lalu untuk memulai pembicaraan tentang pemerintahan baru.

Baradar mengawali gerakan Taliban pada 1994 dengan almarhum pemimpin Mullah Mohammed Omar.

Menurut catatan pfofilnya tahun 2010 di Times of London, Baradar dikenal karena beberapa taktik paling mematikan militan Islam, termasuk menanam alat peledak improvisasi (IED) di sepanjang jalan yang akan dilalui musuh mereka, menyebut IED "bunga".

Dia telah tinggal di Pakistan di mana dia ditangkap pada tahun 2010 tetapi kemudian dibebaskan pada tahun 2018.

Baradar adalah satu-satunya pemimpin Taliban yang masih hidup yang secara pribadi ditunjuk sebagai wakil oleh mendiang komandan Taliban Mullah Mohammed Omar.

Para milisi Taliban, yang menguasai Kabul 15 Agustus, saat ini memerangi pasukan perlawanan di Lembah Panjshir, utara Kabul, yang masih setia kepada pemerintah yang digulingkan.

Sementara itu, setelah penarikan pasukan Amerika Serikat (AS) yang mematikan dari Kabul awal pekan ini, pemerintahan Joe Biden telah mewanti-wanti Pakistan agar tidak membantu kelompok-kelompok teroris termasuk ISIS-K dan al-Qaeda.

Pakistan, bagaimanapun, telah meremehkan apa arti pemerintahan yang dipimpin Taliban bagi Afghanistan.

Diskusi termasuk dalam email dan kabel diplomatik AS telah diperoleh media. Dalam satu percakapan dengan seorang pejabat Departemen Luar Negeri, Duta Besar Pakistan untuk AS Asad Majeed Khan mempertanyakan laporan bahwa milisi Taliban sedang memburu musuh.

Duta Besar itu mengatakan; "Taliban tidak mencari pembalasan, dan pada kenyataannya pulang ke rumah untuk meyakinkan warga Afghanistan bahwa tidak akan ada pembalasan."

Dorongan untuk memerangi kelompok teroris di Afghanistan muncul setelah seorang pembom bunuh diri ISIS-K menewaskan 13 tentara AS dan lebih dari 170 warga Afghanistan dalam serangan di gerbang bandara Kabul seminggu yang lalu.

Presiden Biden pada hari Kamis mengunjungi 15 anggota layanan militer AS yang terluka di Pusat Medis Militer Nasional Walter Reed di luar Washington. [yy/sindonews]

 

929 Ribu Tewas, Habiskan Dana USD8 Triliun

20 Tahun Perang Melawan Teror AS: 929 Ribu Tewas, Habiskan Dana USD8 Triliun Lebih


Fiqhislam.com - Harga perang global melawan teror Amerika Serikat (AS) diperkirakan mencapai sekitar USD8 triliun. Begitu laporan terbaru dari proyek Cost of War Brown University.

Faktor perkiraan termasuk biaya masa depan untuk perawatan veteran, total biaya anggaran dan kewajiban masa depan dari perang pasca 11/9.

Laporan tersebut mengaitkan USD2,3 triliun ke zona perang Afghanistan dan Pakistan, USD2,1 triliun ke zona perang Irak dan Suriah , dan USD355 miliar ke zona perang lainnya.

Dr. Neta C. Crawford, co-director Costs of War Project, dalam sebuah pernyataan mengatakan akuntansi proyek melampaui angka Pentagon karena biaya reaksi terhadap peristiwa 11 September telah membengkak melalui seluruh anggaran.

Costs of War juga memperkirakan bahwa perang melawan teror, yang akan menandai ulang tahunnya yang ke-20 dalam beberapa minggu pada 11 September, secara langsung telah menewaskan 897.000 hingga 929.000 orang - termasuk setidaknya 387.072 warga sipil.

Crawford mengatakan ini kemungkinan besar jumlah korban sebenarnya dari perang ini telah mengambil nyawa manusia.

"Sangat penting kita memperhitungkan dengan tepat konsekuensi yang luas dan beragam dari banyak perang AS dan operasi kontraterorisme sejak 9/11, saat kita berhenti sejenak dan merenungkan semua nyawa yang hilang," tambah Crawford seperti dikutip dari Business Insider, Sabtu (4/9/2021).

Dalam sebuah laporan yang dirilis tahun lalu, Costs of War memperkirakan bahwa perang melawan teror telah menelantarkan setidaknya 37 juta orang di atas ratusan ribu orang yang tewas dalam kekerasan perang langsung.

AS menyelesaikan penarikannya dari Afghanistan pada hari Senin dan memperhitungkan konsekuensi dari konflik 20 tahun. Tahap akhir penarikan terjadi di bawah keadaan kekerasan dan kacau, dengan Taliban kembali mengendalikan Afghanistan dan ribuan orang "memanjat" untuk keluar dari negara itu.

Meskipun AS tidak lagi memiliki pasukan di Afghanistan, perang melawan teror tampaknya akan berlanjut di sana karena pemerintahan Biden memberi sinyal bahwa mereka akan terus menargetkan ISIS-K di negara itu melalui drone dan cara lain.

AS juga terus memiliki kehadiran militer di Irak dan Suriah, di antara negara-negara lain, dan dalam beberapa pekan terakhir telah melakukan beberapa serangan udara terhadap al Shabaab , afiliasi kelompok al-Qaeda , di Somalia.

"Apa yang sebenarnya telah kita capai dalam 20 tahun pasca perang 11/9, dan berapa harganya?" Dr Stephanie Savell, co-direktur Costs of War Project, mengatakan dalam sebuah pernyataan pada laporan baru.

"Dua puluh tahun dari sekarang, kami masih akan memperhitungkan biaya sosial yang tinggi dari perang Afghanistan dan Irak - lama setelah pasukan AS pergi," tukasnya.

Sebelumnya pada laporan bulan Februari Costs of War mengungkapkan bahwa perang melawan teror AS mencakup hampir setengah negara di dunia selama tiga tahun terakhir. Ini menandai jejak global yang luas hampir dua dekade dalam "Perang Melawan Teror" yang diumumkan setelah peristiwa 11 September. [yy/sindonews]