16 Syawal 1443  |  Rabu 18 Mei 2022

basmalah.png

Fiqhislam.com - Korban meninggal bom bunuh diri di dua gerbang Bandara Internasional Ahmad Karzai, Kabul, meningkat menjadi 169 jiwa. Pihak berwenang mengatakan, angka kematian bisa bertambah karena proses evakuasi dan perawatan korban luka masih terjadi.

Sebanyak 13 pasukan AS juga dilaporkan meninggal dalam insiden ini. Pemboman yang didalangi afiliasi ISIS, ISIS-K menandai salah satu serangan paling mematikan yang pernah terjadi di negara itu. AS mengatakan insiden ini adalah hari paling mematikan bagi pasukan Amerika di Afghanistan sejak 2011.

Pada Jumat (27/8), Pentagon mengatakan, hanya ada satu pengebom bunuh diri di gerbang bandara, bukan dua, seperti yang awalnya dikatakan pejabat AS. Seorang pejabat AS mengatakan bahwa pengebom bunuh diri membawa muatan yang lebih berat dari biasanya sekitar 25 pon bahan peledak, sarat dengan pecahan peluru.

Pejabat AS berbicara dengan syarat anonim untuk membahas penilaian awal serangan itu. Para pejabat yang memberikan informasi korban tewas Afghanistan juga berbicara dengan syarat anonim karena mereka tidak berwenang untuk berbicara dengan media.

Para korban bom bunuh diri Afghanistan berkisah dari seorang jurnalis muda yang bekerja keras hingga seorang ayah yang miskin. Mereka dibawa ke bandara dengan harapan akan kehidupan yang lebih baik.

Orang Amerika yang tewas adalah 11 Marinir, seorang pelaut Angkatan Laut dan seorang tentara Angkatan Darat. Banyak yang menjadi korban adalah masih anak-anak kecil ketika pasukan AS pertama kali memasuki Afghanistan pada 2001.

Prajurit Marinir AS, Lance Cpl. Kareem Mae'lee Grant Nikoui, mengirim video ke seorang teman keluarga di Amerika Serikat hanya beberapa jam sebelum dia meninggal. Dia menunjukkan dirinya tersenyum dan menyapa anak-anak Afghanistan. Pejabat Inggris mengatakan dua warga negaranya dan anak warga Inggris lainnya juga termasuk di antara mereka yang tewas ketika bom meledak. [yy/republika]

 

Fiqhislam.com - Korban meninggal bom bunuh diri di dua gerbang Bandara Internasional Ahmad Karzai, Kabul, meningkat menjadi 169 jiwa. Pihak berwenang mengatakan, angka kematian bisa bertambah karena proses evakuasi dan perawatan korban luka masih terjadi.

Sebanyak 13 pasukan AS juga dilaporkan meninggal dalam insiden ini. Pemboman yang didalangi afiliasi ISIS, ISIS-K menandai salah satu serangan paling mematikan yang pernah terjadi di negara itu. AS mengatakan insiden ini adalah hari paling mematikan bagi pasukan Amerika di Afghanistan sejak 2011.

Pada Jumat (27/8), Pentagon mengatakan, hanya ada satu pengebom bunuh diri di gerbang bandara, bukan dua, seperti yang awalnya dikatakan pejabat AS. Seorang pejabat AS mengatakan bahwa pengebom bunuh diri membawa muatan yang lebih berat dari biasanya sekitar 25 pon bahan peledak, sarat dengan pecahan peluru.

Pejabat AS berbicara dengan syarat anonim untuk membahas penilaian awal serangan itu. Para pejabat yang memberikan informasi korban tewas Afghanistan juga berbicara dengan syarat anonim karena mereka tidak berwenang untuk berbicara dengan media.

Para korban bom bunuh diri Afghanistan berkisah dari seorang jurnalis muda yang bekerja keras hingga seorang ayah yang miskin. Mereka dibawa ke bandara dengan harapan akan kehidupan yang lebih baik.

Orang Amerika yang tewas adalah 11 Marinir, seorang pelaut Angkatan Laut dan seorang tentara Angkatan Darat. Banyak yang menjadi korban adalah masih anak-anak kecil ketika pasukan AS pertama kali memasuki Afghanistan pada 2001.

Prajurit Marinir AS, Lance Cpl. Kareem Mae'lee Grant Nikoui, mengirim video ke seorang teman keluarga di Amerika Serikat hanya beberapa jam sebelum dia meninggal. Dia menunjukkan dirinya tersenyum dan menyapa anak-anak Afghanistan. Pejabat Inggris mengatakan dua warga negaranya dan anak warga Inggris lainnya juga termasuk di antara mereka yang tewas ketika bom meledak. [yy/republika]

 

Ambil Alih Bandara Kabul

Taliban Siap Ambil Alih Bandara Kabul


Fiqhislam.com - Pasukan Taliban sudah berada di bandara Kabul dan siap mengambil alih kendali secara penuh awal pekan ini segera setelah pasukan Amerika Serikat angkat kaki, menurut dua tokoh senior Taliban pada Jumat (27/8). Salah seorang komando senior menyebutkan pasukan Taliban telah menguasai sebagian besar bandara, bukan hanya sebagian kecil tempat warga Amerika masih berada.

Pejabat senior lainnya mengatakan pasukan siap mengambil alih (bandara) secara penuh. "Ini hanya masalah beberapa waktu lagi," ujar pejabat senior itu menambahkan.

"Begitu warga Amerika angkat kaki, mereka hanya perlu memberi kami sinyal dan kami akan mengambil alih," katanya. Belum ada komentar langsung dari juru bicara resmi kelompok Taliban.

Sementera itu Taliban akan meminta bantuan teknis kepada Qatar dalam mengoperasikan bandara Kabul, menurut laporan Al Jazeera, yang berbasis di Qatar, pada Jumat (27/8) dengan mengutip narasumber di pihak Taliban.

Taliban juga telah meminta bantuan teknis kepada Turki untuk menjalankan bandara Kabul setelah batas waktu berakhir Selasa depan (31/8) bagi semua pasukan militer asing untuk menarik diri dari Afghanistan. Ultimatum untuk meninggalkan Afghanistan juga dikatakan oleh Taliban berlaku sama bagi pasukan Turki.

Sebelumnya pada Jumat (27/8), dua pejabat mengatakan kepada Reuters bahwa Turki tidak akan membantu Taliban menjalankan bandara Kabul setelah penarikan pasukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), kecuali Taliban menyetujui kehadiran pasukan keamanan Turki.

Persyaratan itu disampaikan Turki setelah serangan mematikan terjadi di luar bandara. Kejadian itu menyoroti bahaya yang dihadapi misi pasukan asing untuk tetap berada di Afghanistan. [yy/republika]

 

ISIS

ISIS Intai Afghanistan


Fiqhislam.com - Amerika Serikat (AS), Australia, dan Inggris telah mendesak warga untuk menjauh dari bandara internasional di Kabul. Menurut mereka, ada informasi tentang ancaman serangan oleh Islamic State in the Khorasan Province (ISKP), yaitu kelompok yang berafiliasi dengan ISIS di Afghanistan.

Peringatan pada Kamis (26/8) muncul ketika pasukan Barat bergegas untuk mengevakuasi warga mereka dan warga Afghanistan yang rentan, sebelum batas waktu penarikan pada 31 Agustus. “Ada ancaman serangan teroris yang sedang berlangsung," ujar Kantor Departemen Luar Negeri Inggris, dilansir Aljazirah, Kamis.

Kedutaan Besar AS di Kabul mengeluarkan peringatan yang menyarankan warga AS untuk menghindari bepergian ke bandara. Sementara Deplu Inggris juga mengeluarkan peringatan serupa. Mereka menginformasikan kepada warganya yang berada di area bandara untuk pergi ke lokasi yang aman.

Kemenlu Australia juga mendesak warga Australia dan warga Afghanistan dengan visa Australia untuk menjauhi bandara. Australia memperingatkan ada ancaman serangan teroris yang sangat tinggi di bandara.

Gedung Putih mengatakan, Presiden AS Joe Biden telah mendapatkan informasi tentang ancaman dari kelompok ISKP atau yang juga dikenal dengan ISIS-K. Biden juga telah mengetahui rencana darurat untuk evakuasi.

"ISIS-K adalah musuh bebuyutan Taliban, dan mereka memiliki sejarah pertempuran satu sama lain.Tetapi setiap hari kami memiliki pasukan di lapangan. Pasukan ini dan warga sipil tak berdosa di bandara, menghadapi risiko serangan dari ISIS-K," ujar Biden.

ISIS-K yang dimaksud Biden merujuk pada ISIS-Khorasan, yaitu kelompok yang berafiliasi dengan ISIS di Pakistan dan Afghanistan. Khorasan adalah istilah modern untuk wilayah timur Persia kuno sejak abad ke-3. Khorasan meliputi wilayah yang kini merupakan bagian dari Iran, Afghanistan, Tajikistan, Turkmenistan, dan Uzbekistan.

Salah seorang pejabat Taliban berjanji akan melindungi warga sipil di luar Bandara Kabul. Namun, pasukan Barat harus memenuhi tenggat waktu evakuasi pada 31 Agustus seperti yang sudah dijadwalkan sebelumnya.

"Penjaga kami juga membahayakan nyawa mereka di bandara Kabul. Mereka juga menghadapi ancaman dari kelompok ISIS," kata pejabat yang tidak menyebutnya namanya itu, Kamis.

Banjir pesanan senjata

Rusia menerima pesanan senjata, termasuk helikopter, dari negara-negara Asia Tengah yang berbatasan dengan Afghanistan. Hal itu terjadi setelah Taliban menguasai negara tersebut.

“Kami sudah mengerjakan sejumlah pesanan dari negara-negara di kawasan (Asia Tengah) untuk pasokan helikopter, senjata api, dan sistem perlindungan perbatasan modern Rusia,” kata Alexander Mikheev yang mengepalai badan ekspor senjata Rusia, Rosoboron, dikutip laman TRT, Kamis.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan negaranya siap menjadi mediator dalam krisis di Afghanistan. “Kami tetap berkomitmen pada tugas membangun perdamaian dan stabilitas di wilayah Afghanistan sehingga tidak menimbulkan ancaman bagi kawasan tersebut,” kata Lavrov pada Selasa (24/8).

Sementara tetangga Afghanistan, yaitu Tajikistan, menyatakan Taliban harus membentuk pemerintahan inklusif jika ingin mendapat pengakuan dari Tajikistan.

“Tajikistan tidak akan mengakui pemerintah lain yang akan didirikan di negara itu melalui penindasan dan tanpa memperhitungkan posisi semua orang Afghanistan, terutama semua etnis minoritasnya,” ujar Presiden Tajikistan Emomali Rakhmon seusai bertemu Menteri Luar Negeri Pakistan Shah Mehmood Qureshi, Rabu (25/8). [yy/republika]