30 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 05 Desember 2021

basmalah.png

Bos CIA Diam-diam Bertemu Pendiri Taliban di Kabul

Bos CIA Diam-diam Bertemu Pendiri Taliban di Kabul

Fiqhislam.com - Direktur Badan Intelijen Amerika Serikat (AS) atau CIA, William Burns, dilaporkan menggelar pertemuan rahasia dengan pendiri kelompok Taliban, Mullah Abdul Ghani Baradar, di Kabul, Afghanistan. Pertemuan ini disebut telah digelar awal pekan ini.

Seperti dilansir AFP, Senin (24/8/2021), pertemuan rahasia Direktur CIA dengan pendiri Taliban itu dilaporkan oleh media terkemuka AS, The Washington Post. Disebutkan bahwa pertemuan itu digelar pada Senin (23/8) waktu setempat.

Jika dikonfirmasi, maka pertemuan rahasia itu akan menjadi pertemuan level tertinggi antara pejabat pemerintahan Presiden AS, Joe Biden, dengan petinggi Taliban sejak kelompok itu kembali berkuasa di Afghanistan pekan lalu.

Burns diketahui merupakan salah satu diplomat paling berpengalaman dalam pemerintahan Biden. Sementara Baradar yang memimpin kantor politik Taliban di Qatar, merupakan salah satu pemimpin top kelompok militan tersebut.

Seorang juru bicara CIA menyatakan tidak bisa mengonfirmasi pertemuan itu, dengan menegaskan bahwa CIA 'tidak pernah membahas agenda kunjungan direktur mereka'.

The Washington Post yang mengutip sumber-sumber dari pemerintahan AS, tidak menjelaskan secara detail isi pembicaraan antara Burns dan Baradar di Kabul.

Hanya disebutkan bahwa kemungkinan pembahasan berkisar soal penundaan tenggat waktu bagi AS untuk menyelesaikan evakuasi warga sipil di bandara Kabul, di mana ribuan warga Afghanistan yang ketakutan dengan Taliban membanjiri bandara dalam upaya melarikan diri dari negaranya.

Biden telah menetapkan 31 Agustus sebagai batas waktu penarikan tentara AS dari Afghanistan, termasuk untuk menuntaskan evakuasi ribuan warga sipil. Namun dia juga membuka kemungkinan untuk memperpanjang batas waktu evakuasi jika diperlukan.

Namun pada Senin (23/8) waktu setempat, Taliban melontarkan ancaman jika AS dan sekutunya memutuskan memperpanjang kehadiran pasukan militer mereka hingga melampaui batas waktu pekan depan.

"Anda bisa menyebutnya red line. Jika AS atau Inggris mengupayakan waktu tambahan untuk melanjutkan evakuasi -- jawabannya tidak. Atau akan ada konsekuensinya," tegas juru bicara Taliban, Suhail Shaheen, kepada Sky News.

Shaheen juga menyebut bahwa kehadiran pasukan asing di luar tenggat waktu yang disepakati akan sama saja 'memperpanjang pendudukan'. [yy/news.detik]

 

Bos CIA Diam-diam Bertemu Pendiri Taliban di Kabul

Fiqhislam.com - Direktur Badan Intelijen Amerika Serikat (AS) atau CIA, William Burns, dilaporkan menggelar pertemuan rahasia dengan pendiri kelompok Taliban, Mullah Abdul Ghani Baradar, di Kabul, Afghanistan. Pertemuan ini disebut telah digelar awal pekan ini.

Seperti dilansir AFP, Senin (24/8/2021), pertemuan rahasia Direktur CIA dengan pendiri Taliban itu dilaporkan oleh media terkemuka AS, The Washington Post. Disebutkan bahwa pertemuan itu digelar pada Senin (23/8) waktu setempat.

Jika dikonfirmasi, maka pertemuan rahasia itu akan menjadi pertemuan level tertinggi antara pejabat pemerintahan Presiden AS, Joe Biden, dengan petinggi Taliban sejak kelompok itu kembali berkuasa di Afghanistan pekan lalu.

Burns diketahui merupakan salah satu diplomat paling berpengalaman dalam pemerintahan Biden. Sementara Baradar yang memimpin kantor politik Taliban di Qatar, merupakan salah satu pemimpin top kelompok militan tersebut.

Seorang juru bicara CIA menyatakan tidak bisa mengonfirmasi pertemuan itu, dengan menegaskan bahwa CIA 'tidak pernah membahas agenda kunjungan direktur mereka'.

The Washington Post yang mengutip sumber-sumber dari pemerintahan AS, tidak menjelaskan secara detail isi pembicaraan antara Burns dan Baradar di Kabul.

Hanya disebutkan bahwa kemungkinan pembahasan berkisar soal penundaan tenggat waktu bagi AS untuk menyelesaikan evakuasi warga sipil di bandara Kabul, di mana ribuan warga Afghanistan yang ketakutan dengan Taliban membanjiri bandara dalam upaya melarikan diri dari negaranya.

Biden telah menetapkan 31 Agustus sebagai batas waktu penarikan tentara AS dari Afghanistan, termasuk untuk menuntaskan evakuasi ribuan warga sipil. Namun dia juga membuka kemungkinan untuk memperpanjang batas waktu evakuasi jika diperlukan.

Namun pada Senin (23/8) waktu setempat, Taliban melontarkan ancaman jika AS dan sekutunya memutuskan memperpanjang kehadiran pasukan militer mereka hingga melampaui batas waktu pekan depan.

"Anda bisa menyebutnya red line. Jika AS atau Inggris mengupayakan waktu tambahan untuk melanjutkan evakuasi -- jawabannya tidak. Atau akan ada konsekuensinya," tegas juru bicara Taliban, Suhail Shaheen, kepada Sky News.

Shaheen juga menyebut bahwa kehadiran pasukan asing di luar tenggat waktu yang disepakati akan sama saja 'memperpanjang pendudukan'. [yy/news.detik]

 

Anggota Kongres ke Kabul

Anggota Kongres AS Diam-diam Terbang ke Kabul, Pentagon Murka


Fiqhislam.com - Dua anggota Kongres Amerika Serikat (AS), Seth Moulton dan Peter Meijer, secara diam-diam melakukan perjalanan ke Ibu Kota Afghanistan Kabul untuk melakukan pengawasan operasi evakuasi. Aksi mereka pun memicu kemarahan dari Pentagon dan Departemen Luar Negeri AS.

"Sebagai veteran, kami sangat peduli dengan situasi di lapangan di Bandara Internasional Hamid Karzai. Amerika memiliki kewajiban moral kepada warga negara dan sekutu setia kami, dan kami harus memastikan bahwa kewajiban itu dipatuhi. Seperti banyak veteran lainnya, kami telah menghabiskan waktu terakhir. beberapa minggu bekerja tanpa tidur untuk mencoba mendapatkan sebanyak mungkin orang melalui gerbang dan ke tempat yang aman," kata anggota kongres dalam sebuah pernyataan bersama seperti dikutip dari The Hill, Rabu (25/8/2021).

Mereka melakukan perjalanan ini secara rahasia, tidak membicarakannya sampai mereka berangkat untuk meminimalkan risiko dan gangguan terhadap orang-orang di lapangan.

"Kami berada di sana untuk mengumpulkan informasi, bukan untuk pamer," katanya.

Kedua anggota Kongres AS itu menyatakan mereka duduk di kursi khusus kru sehingga kehadiran mereka tidak mengurangi jumlah kursi yang tersedia untuk orang lain. Mereka meninggalkan Afghanistan kurang dari 24 jam setelah tiba, menurut The Washington Post, yang pertama kali melaporkan perjalanan tersebut.

“Kami melakukan kunjungan ini ingin, seperti kebanyakan veteran, untuk mendorong presiden memperpanjang batas waktu 31 Agustus. Setelah berbicara dengan komandan di lapangan dan melihat situasi di sini, jelas bahwa karena kami memulai evakuasi sangat terlambat, tidak ada apa pun yang kami lakukan, kami tidak akan mengeluarkan semua orang tepat waktu, bahkan pada 11 September," tambah mereka.

Sebelumnya Moulton pada hari Selasa men-tweet foto dari bandara Kabul.

"Hari ini bersama @RepMeijer saya mengunjungi bandara Kabul untuk melakukan pengawasan terhadap evakuasi," tulisnya.

"Menyaksikan Marinir dan tentara muda kita di gerbang, menavigasi pertemuan umat manusia yang mentah dan mendalam seperti yang pernah dilihat dunia, tak terlukiskan," sambungnya.

"Ini adalah pengingat mengapa nilai-nilai Amerika - ketika kita menjalankannya - penting bagi orang-orang di seluruh dunia," tambahnya.

"Saya belum pernah berbicara dengan lebih banyak pegawai negeri, dari Marinir hingga pejabat Departemen Luar Negeri yang paling berpengalaman, yang menangis menggambarkan pekerjaan mereka," katanya.

Today with @RepMeijer I visited Kabul airport to conduct oversight on the evacuation.

Witnessing our young Marines and soldiers at the gates, navigating a confluence of humanity as raw and visceral as the world has ever seen, was indescribable. pic.twitter.com/bWGQh1iw2c — Seth Moulton (@sethmoulton) August 25, 2021.

Menanggapi aksi yang dilakukan koleganya, Ketua DPR AS Nancy Pelosi mengirimkan surat kepada anggota Kongres yang isinya mengimbau para legislator untuk tidak melakukan aksi serupa.

"Mengingat urgensi situasi ini, keinginan beberapa Anggota untuk melakukan perjalanan ke Afghanistan dan daerah sekitarnya dapat dimengerti dan mencerminkan prioritas tinggi yang kami tempatkan pada kehidupan mereka yang ada di lapangan," tulis Pelosi.

"Namun, saya menulis untuk menegaskan kembali bahwa Departemen Pertahanan dan Negara telah meminta agar Anggota tidak melakukan perjalanan ke Afghanistan dan kawasan selama masa bahaya ini," imbaunya.

"Memastikan evakuasi yang aman dan tepat waktu dari individu yang berisiko memerlukan fokus dan perhatian penuh dari tim militer dan diplomatik AS di lapangan di Afghanistan. Perjalanan anggota ke Afghanistan dan negara-negara sekitarnya tidak perlu mengalihkan sumber daya yang dibutuhkan dari misi prioritas dengan aman dan segera mengevakuasi warga Amerika dan warga Afghanistan yang berisiko dari Afghanistan," tambahnya.

Menurut Washington Post perjalanan itu juga telah membuat murka para pejabat di Pentagon dan Departemen Luar Negeri.

“Ini sama bodohnya dengan egoisnya,” kata seorang pejabat senior pemerintah kepada Washington Post.

"Mereka mengambil kursi dari warga Amerika dan orang Afghanistan yang berisiko - sambil menempatkan diplomat dan anggota militer kami pada risiko yang lebih besar - sehingga mereka dapat memiliki momen di depan kamera," katanya.

“Itu salah satu hal paling tidak bertanggung jawab yang pernah saya dengar dilakukan oleh seorang anggota parlemen,” kata seorang diplomat yang mengetahui situasi tersebut kepada surat kabar itu.

"Itu benar-benar layak mendapat teguran," tegasnya. [yy/sindonews]

 

Ancaman Taliban

Ancaman Taliban untuk AS dan Sekutu


Fiqhislam.com - Taliban memperingatkan akan ada konsekuensi jika Amerika Serikat (AS) dan sekutunya mencoba untuk tetap berada di Afghanistan melewati 31 Agustus, Senin (23/8). Ribuan tentara AS telah dikerahkan kembali ke negara itu untuk mengawasi pengangkutan orang asing dan Afghanistan yang kacau balau dari bandara Kabul.

Evakuasi yang dilakukan AS dan beberapa negara tidak berjalan lancar. Kondisi ini membuat Presiden AS Joe Biden mendapatkan desakan untuk memperpanjang keberadaan militer di negara itu. Namun, sejauh ini, Taliban tidak menunjukkan kesediaan untuk berkompromi.

Juru bicara Taliban Suhail Shaheen mengatakan kepada Sky News bahwa kehadiran militer asing di luar batas waktu yang disepakati akan memperpanjang pendudukan. "Jika AS atau Inggris mencari waktu tambahan untuk melanjutkan evakuasi jawabannya 'tidak'... akan ada konsekuensinya," katanya.

Taliban saat ini sedang bekerja untuk membentuk pemerintahan. Namun, dua sumber dalam gerakan itu mengatakan tidak akan ada pengumuman di kabinet sampai tentara AS terakhir meninggalkan Afghanistan.

Sementara Biden dan para pembantu utamanya bersikeras bahwa pengangkutan udara dapat diselesaikan tepat waktu, Uni Eropa dan Inggris mengatakan itu tidak mungkin. Menteri Pertahanan Inggris Ben Wallace mengatakan Perdana Menteri Boris Johnson akan mengangkat masalah ini pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) virtual G7.

"Jika jadwal mereka diperpanjang bahkan satu atau dua hari, itu akan memberi kami satu atau dua hari lagi untuk mengevakuasi orang," kata Wallace.

Biden dan rekan-rekan Kelompok Tujuh (G7) akan bertemu Selasa (2/8). Mereka akan koordinasi kondisi di Afghanistan dan cara menangani Taliban.

Jerman mengatakan sedang dalam pembicaraan dengan sekutu NATO dan Taliban untuk menjaga bandara Kabul tetap terbuka untuk evakuasi setelah 31 Agustus. Sementara Prancis mengatakan waktu tambahan diperlukan guna menyelesaikan operasi yang sedang berlangsung. [yy/republika]