24 Syawal 1443  |  Kamis 26 Mei 2022

basmalah.png

Fiqhislam.com - Beberapa pemimpin tinggi Taliban berkumpul di Kabul akhir pekan ini untuk membahas pembentukan pemerintah Afghanistan. Salah satu yang terlibat dalam pembicaraan adalah jaringan milisi Haqqani yang paling ditakuti.

Haqqani disebut terlibat dalam beberapa serangan paling mematikan yang merenggut nyawa warga sipil, pejabat pemerintah, dan pasukan asing. Mereka diyakini menjadi pemain kuat dalam rezim baru setelah Taliban berkuasa pada Ahad pekan lalu.

Siapa Haqqani?

Jaringan Haqqani dibentuk oleh Jalaluddin Haqqani yang menjadi terkenal pada tahun 1980-an sebagai pahlawan jihad anti-Soviet. Pada saat itu, dia adalah aset CIA yang berharga karena Amerika Serikat dan sekutunya seperti Pakistan menyalurkan senjata dan uang kepada mujahidin.

Selama konflik itu dan setelah penarikan Soviet, Jalaluddin Haqqani membina hubungan dekat dengan para militan asing termasuk Usamah bin Laden. Kemudian dia bersekutu dengan Taliban yang mengambil alih Afghanistan pada tahun 1996 dan menjabat sebagai menteri untuk rezim Islam sampai digulingkan oleh pasukan pimpinan AS pad 2001.

Pada 2018, Taliban mengumumkan kematian Jalaluddin Haqqani karena sakit dan putranya Sirajuddin secara resmi menjadi kepala jaringan. Berkat kekuatan finansial dan militer mereka, jaringan Haqqani dianggap semi-otonom sementara tetap berada dalam lingkaran Taliban.

Sebagian besar mereka berbasis di Afghanistan timur. Kelompok itu menjadi lebih terlihat dalam kepemimpinan Taliban dalam beberapa tahun terakhir dan Sirajuddin Haqqani diangkat sebagai wakil pemimpin pada 2015.

Adik laki-lakinya Anas yang pernah dipenjara dan dijatuhi hukuman mati oleh pemerintah Afghanistan sebelumnya telah mengadakan pembicaraan dengan mantan presiden Hamid Karzai dan mantan kepala eksekutif Abdullah Abdullah sejak jatuhnya Kabul akhir pekan lalu.

Mengapa mereka begitu ditakuti?

Jaringan Haqqani disalahkan atas beberapa serangan paling mematikan dan paling mengejutkan di Afghanistan selama dua dekade terakhir. Mereka ditetapkan sebagai kelompok teroris asing oleh Amerika Serikat dan berada di bawah sanksi PBB.

Haqqani memiliki reputasi untuk sering menggunakan pelaku bom bunuh diri termasuk pengemudi di mobil dan truk yang penuh dengan bahan peledak dalam jumlah besar. Mereka adalah dalang di balik serangan rumit yang memakan banyak korban.

Menurut Kontraterorisme Nasional AS, pada Oktober 2013, pasukan Afghanistan mencegat sebuah truk Haqqani di Afghanistan timur yang berisi hampir 28 ton bahan peledak.

Haqqani telah dituduh melakukan pembunuhan termasuk upaya terhadap presiden Karzai pada 2008 dan penculikan pejabat dan warga negara Barat untuk tebusan dan memaksa pertukaran tahanan.

Mereka juga telah lama dicurigai memiliki hubungan dengan militer Pakistan. Namun, Pakistan membantah tuduhan itu. Haqqani juga telah memberikan kontribusi besar pada barisan pertempuran Taliban. Pemantau PBB menyebut Haqqani merupakan pasukan paling siap tempur. Para pemantau juga menggambarkan jaringan tersebut sebagai penghubung utama antara Taliban dan Alqaidah

Apa peran mereka dalam rezim baru Taliban?

Seperti dilansir English Ahram mengutip AFP, Ahad (22/8), Haqqani telah muncul sebagai pemain serius dalam proyek politik Taliban dengan setidaknya dua pemimpin mereka di Kabul ada saat pembicaraan pembentukan pemerintahan dimulai. Pengangkatan resmi Sirajuddin Haqqani ke posisi wakil pemimpin enam tahun lalu memperkuat peran itu.

Para pengamat mengatakan pembebasan saudaranya Anas dari tahanan Afghanistan pada 2019 dipandang sebagai langkah untuk membantu memulai pembicaraan langsung AS-Taliban yang akhirnya mengarah pada penarikan pasukan.

Sirajuddin Haqqani menulis op-ed di The New York Times tahun lalu yang menguraikan posisi Taliban dalam pembicaraan AS dan konflik di Afghanistan meskipun dalam nada diplomatik yang menyangkal reputasi kekerasan jaringan.

Sementara Anas Haqqani telah mengadakan pembicaraan dengan Karzai, pamannya Khalil Haqqani terlihat memimpin sholat di Kabul pada Jumat. Sirajuddin dan Khalil keduanya masih terdaftar sebagai buronan Amerika Serikat dengan hadiah jutaan dolar yang ditawarkan. [yy/republika]

 

Fiqhislam.com - Beberapa pemimpin tinggi Taliban berkumpul di Kabul akhir pekan ini untuk membahas pembentukan pemerintah Afghanistan. Salah satu yang terlibat dalam pembicaraan adalah jaringan milisi Haqqani yang paling ditakuti.

Haqqani disebut terlibat dalam beberapa serangan paling mematikan yang merenggut nyawa warga sipil, pejabat pemerintah, dan pasukan asing. Mereka diyakini menjadi pemain kuat dalam rezim baru setelah Taliban berkuasa pada Ahad pekan lalu.

Siapa Haqqani?

Jaringan Haqqani dibentuk oleh Jalaluddin Haqqani yang menjadi terkenal pada tahun 1980-an sebagai pahlawan jihad anti-Soviet. Pada saat itu, dia adalah aset CIA yang berharga karena Amerika Serikat dan sekutunya seperti Pakistan menyalurkan senjata dan uang kepada mujahidin.

Selama konflik itu dan setelah penarikan Soviet, Jalaluddin Haqqani membina hubungan dekat dengan para militan asing termasuk Usamah bin Laden. Kemudian dia bersekutu dengan Taliban yang mengambil alih Afghanistan pada tahun 1996 dan menjabat sebagai menteri untuk rezim Islam sampai digulingkan oleh pasukan pimpinan AS pad 2001.

Pada 2018, Taliban mengumumkan kematian Jalaluddin Haqqani karena sakit dan putranya Sirajuddin secara resmi menjadi kepala jaringan. Berkat kekuatan finansial dan militer mereka, jaringan Haqqani dianggap semi-otonom sementara tetap berada dalam lingkaran Taliban.

Sebagian besar mereka berbasis di Afghanistan timur. Kelompok itu menjadi lebih terlihat dalam kepemimpinan Taliban dalam beberapa tahun terakhir dan Sirajuddin Haqqani diangkat sebagai wakil pemimpin pada 2015.

Adik laki-lakinya Anas yang pernah dipenjara dan dijatuhi hukuman mati oleh pemerintah Afghanistan sebelumnya telah mengadakan pembicaraan dengan mantan presiden Hamid Karzai dan mantan kepala eksekutif Abdullah Abdullah sejak jatuhnya Kabul akhir pekan lalu.

Mengapa mereka begitu ditakuti?

Jaringan Haqqani disalahkan atas beberapa serangan paling mematikan dan paling mengejutkan di Afghanistan selama dua dekade terakhir. Mereka ditetapkan sebagai kelompok teroris asing oleh Amerika Serikat dan berada di bawah sanksi PBB.

Haqqani memiliki reputasi untuk sering menggunakan pelaku bom bunuh diri termasuk pengemudi di mobil dan truk yang penuh dengan bahan peledak dalam jumlah besar. Mereka adalah dalang di balik serangan rumit yang memakan banyak korban.

Menurut Kontraterorisme Nasional AS, pada Oktober 2013, pasukan Afghanistan mencegat sebuah truk Haqqani di Afghanistan timur yang berisi hampir 28 ton bahan peledak.

Haqqani telah dituduh melakukan pembunuhan termasuk upaya terhadap presiden Karzai pada 2008 dan penculikan pejabat dan warga negara Barat untuk tebusan dan memaksa pertukaran tahanan.

Mereka juga telah lama dicurigai memiliki hubungan dengan militer Pakistan. Namun, Pakistan membantah tuduhan itu. Haqqani juga telah memberikan kontribusi besar pada barisan pertempuran Taliban. Pemantau PBB menyebut Haqqani merupakan pasukan paling siap tempur. Para pemantau juga menggambarkan jaringan tersebut sebagai penghubung utama antara Taliban dan Alqaidah

Apa peran mereka dalam rezim baru Taliban?

Seperti dilansir English Ahram mengutip AFP, Ahad (22/8), Haqqani telah muncul sebagai pemain serius dalam proyek politik Taliban dengan setidaknya dua pemimpin mereka di Kabul ada saat pembicaraan pembentukan pemerintahan dimulai. Pengangkatan resmi Sirajuddin Haqqani ke posisi wakil pemimpin enam tahun lalu memperkuat peran itu.

Para pengamat mengatakan pembebasan saudaranya Anas dari tahanan Afghanistan pada 2019 dipandang sebagai langkah untuk membantu memulai pembicaraan langsung AS-Taliban yang akhirnya mengarah pada penarikan pasukan.

Sirajuddin Haqqani menulis op-ed di The New York Times tahun lalu yang menguraikan posisi Taliban dalam pembicaraan AS dan konflik di Afghanistan meskipun dalam nada diplomatik yang menyangkal reputasi kekerasan jaringan.

Sementara Anas Haqqani telah mengadakan pembicaraan dengan Karzai, pamannya Khalil Haqqani terlihat memimpin sholat di Kabul pada Jumat. Sirajuddin dan Khalil keduanya masih terdaftar sebagai buronan Amerika Serikat dengan hadiah jutaan dolar yang ditawarkan. [yy/republika]

 

Kuasai Peralatan Militer AS

Dari Mana Taliban Kuasai Peralatan Militer AS?


Fiqhislam.com - Para pejabat keamanan nasional AS bekerja keras untuk menjelaskan soal senjata yang diberikan kepada militer Afghanistan. Ini karena tersebar gambar pejuang Taliban mengacungkan senapan buatan Amerika dan mengendarai Humvee yang ditinggalkan. Situasi ini jelas meningkatkan kekhawatiran tentang apa keadaan negara itu setelah ditinggalkan pasukan AS.

Kini, persenjataan Amerika yang baru banyak ditemukan dipakai Taliban. Bahkan, kemungkinanya tidak terbatas pada senjata ringan. Taliban bisa menguasai persediaan senjata dan kendaraan militer yang cukup besar yang ditahan di benteng yang pernah dikendalikan oleh pasukan yang didukung AS, termasuk kendaraan tahan ranjau modern (MRAP) dan Humvee.

Perkiraan awal menunjukkan bahwa Taliban sekarang mungkin juga memiliki beberapa helikopter Black Hawk dan pesawat militer lain yang didanai AS. Ini menurut sumber kongres yang mengetahui penilaian awal yang diberikan oleh pejabat pertahanan.

Seperti di lansir CNN.com, sumber di konggres AS juga menyatakan bila Taliban berpotensi mencakup sekitar 20 pesawat serang A-29 Tucano. Dia juga, mencatat ada beberapa indikasi bahwa hanya sejumlah kecil pesawat yang dipindahkan dari pangkalan di Kandahar sebelum dikuasai oleh Taliban.

"Kami juga khawatir bahwa beberapa mungkin senjata AS ini berakhir di tangan orang lain yang mendukung perjuangan Taliban," kata sumber kongres itu kepada CNN. "Ketakutan terbesar saya adalah bahwa persenjataan canggih akan dijual kepada musuh kita dan aktor non-negara lainnya yang berniat menggunakannya untuk melawan kita dan sekutu kita."

"Tidak jelas persis berapa banyak peralatan yang jatuh ke tangan Taliban selama runtuhnya militer Afghanistan. AS juga tidak mungkin mendapatkan jawaban yang sempurna dan tepat untuk pertanyaan itu karena tidak ada lagi pasukan AS dan kehadiran intelijen di seluruh negeri," kata pejabat kepada CNN.

Tidak ada pertanggungjawaban pasti atas apa yang tersisa," kata seorang pejabat lainnya.

Pemerintahan Biden telah menghadapi gelombang kritik karena gagal mengantisipasi pengambilalihan cepat oleh Taliban atas Afghanistan dan atas kekacauan yang terjadi di bandara Kabul ketika ribuan orang berusaha melarikan diri dari negara itu. Operasi evakuasi tetap menjadi fokus utama pemerintah, tetapi para pejabat di Pentagon dan Departemen Luar Negeri juga mulai memeriksa senjata-senjata Amerika yang telah jatuh ke tangan Taliban.

Atas semua itu menurut sumber-sumber CNN kemungkinan akan memakan waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Keadaan ini makin rumit karena begitu banyaknya volume senjata yang diberikan kepada pasukan Afghanistan selama dua dekade terakhir ini.

Bahkan, untuk sementara, foto dan video yang menunjukkan pejuang Taliban yang membawa karabin M4 dan senapan M16 yang dipasok AS memicu pertanyaan tentang seberapa besar daya gempur tentara senjata Amerika yang dimiliki kelompok militan itu setelah merebut pangkalan militer di seluruh Afghanistan.

Sementara para pejabat AS menekankan masih terlalu dini untuk memberikan rincian tentang senjata dan kendaraan tertentu yang sekarang berada di bawah kendali Taliban, para pejabat Pentagon telah menyatakan keprihatinannya.

Tidak jelas persis berapa banyak peralatan yang jatuh ke tangan Taliban selama runtuhnya militer Afghanistan, dan AS tidak mungkin mendapatkan jawaban yang sempurna dan tepat untuk pertanyaan itu karena tidak ada lagi pasukan AS dan kehadiran intelijen di seluruh negeri. kata pejabat kepada CNN.

Diindakiasikan, antara 2013 dan 2016 saja, AS memberi pasukan Afghanistan lebih dari 600.000 senjata ringan, seperti senapan M16 dan M4 dan hampir 80.000 kendaraan, serta kacamata penglihatan malam, radio, dan lainnya. Data ini menurut laporan Kantor Akuntabilitas Pemerintah 2017.

Bahkan baru-baru ini, Departemen Pertahanan AS menyatakan memasok militer Afghanistan dengan 7.000 senapan mesin, 4.700 Humvee, dan lebih dari 20.000 granat antara 2017 dan 2019 Data ini berasal dari sebuah laporan dari inspektur jenderal khusus untuk rekonstruksi Afghanistan ditemukan. Di Idikasikan GAO dan inspektur jenderal khusus ini menghapus laporan-laporan ini atas permintaan Departemen Luar Negeri untuk melindungi setiap warga Afghanistan yang diidentifikasi di dalamnya. [yy/ihram]

 

Giring Afghanistan ke Terorisme

Mengisolasi Taliban, Berarti Giring Afghanistan ke Terorisme


Fiqhislam.com - Seorang politikus senior Afghanistan dan aktivis perdamaian telah meminta masyarakat internasional dan kekuatan regional memberikan kesempatan kepada Taliban memerintah Afghanistan demi perdamaian dan stabilitas.

Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Anadolu Agency, Fazl Hadi Wazin, yang mencalonkan diri sebagai wakil presiden tahun lalu, mengatakan ada harapan perdamaian di negara yang lelah perang dan aktivitas terorisme itu.

Menurut dia, mengisolasi pemerintah Taliban berarti mengabaikan negara berpenduduk 35 juta orang dan "menggiring negara itu kembali ke terorisme".

Perkembangan dalam beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa Afghanistan berada di "persimpangan jalan".

"Memang ada kemungkinan untuk memulihkan stabilitas dan mengantarkan Afghanistan ke era baru. Namun, itu semua bergantung pada kerja sama Taliban dan aktor lainnya,” kata Wazin.

Dia memperkirakan Taliban akan memasukkan individu-individu dari latar belakang etnis yang beragam dalam pemerintahan, tetapi juga sekaligus mempertahankan kendali atas lembaga-lembaga besar.

Politikus itu mengatakan proses perdamaian Doha antara Taliban dan pemerintah Kabul yang dimulai tahun lalu "kini otomatis mandek setelah Taliban berkuasa".

Wazin, yang juga seorang guru besar di Universitas Kabul, berpendapat bahwa “Taliban 2.0” sangat jauh dari sosok mereka sebelumnya, yang dilihat dunia pada 1996 hingga 2001.

Dia mengklaim bahwa pemimpin politik Taliban belajar banyak dalam 20 tahun terakhir dan telah beradaptasi dengan perubahan karena masyarakat Afghanistan telah berkembang secara dramatis selama periode waktu yang sama.

“Dua puluh tahun silam, hanya ada tiga atau empat universitas di Afghanistan. Sekarang ada lebih dari 100 universitas swasta dan ribuan alumni universitas. Ada banyak perubahan positif di Afghanistan, salah satunya ialah generasi muda di Afghanistan yang melek internet dan aktif di media sosial," jelas Wazin.

Menguji Taliban

Politikus itu mendesak masyarakat internasional menguji Taliban daripada menolak mereka mentah-mentah. Menurut Wazin, sikap Taliban kini lebih terbuka terhadap fotografi, video, dan media massa. Mereka kini bisa menyerap kritik.

Taliban juga berupaya menunjukkan sikap liberal terhadap perempuan Afghanistan, Taliban sudah berjanji mengizinkan mereka bekerja, memperoleh pendidikan, dan berpartisipasi dalam kegiatan sosial.

Setidaknya dalam beberapa hari terakhir, mereka telah mencoba menunjukkan pendekatan baru ini melalui tindakan daripada sekadar kata-kata.

"Taliban tidak bisa dinilai hanya dari tindakan mereka dalam dua dekade terakhir," kata Wazin merujuk pada perlawanan mereka terhadap Amerika Serikat dan sekutu NATO-nya ketika pemerintah mereka digulingkan di Afghanistan pada November 2001.

Setelah konflik yang berlarut-larut selama empat dekade, dimulai dari invasi Uni Soviet pada 1979, Afghanistan kini memiliki peluang yang adil untuk menuju ke arah yang benar dan stabil.

Namun, dia juga memperingatkan bahwa jika kepemimpinan Taliban, para pemimpin organisasi politik dan jihad, organisasi masyarakat sipil, dan akademisi, tidak mengakui tanggung jawab mereka untuk Afghanistan, dia yakin Afghanistan akan berakhir tanpa tujuan yang jelas.

Politikus senior itu kemudian menyalahkan kegagalan pemerintah Afghanistan pimpinan Presiden Ashraf Ghani, yang memungkinkan Taliban dengan cepat mengambil alih ibu kota provinsi satu per satu, mengejutkan seluruh dunia.

Dia mengecam pemerintah Ghani karena tidak menganggap serius perundingan damai intra-Afghanistan."Ghani berusaha untuk menunda pembicaraan dengan Taliban dengan menekan AS untuk mendukung pemerintahannya, yang akhirnya gagal," imbuh Wazin.

Tantangan utama

Memberikan keamanan bagi orang-orang Afghanistan, memulai proses rekonsiliasi sosial, memperhatikan situasi ekonomi, menormalisasi hubungan dengan negara-negara tetangga dan masyarakat internasional, dan menjamin kebebasan berekspresi di media Afghanistan adalah beberapa tantangan utama yang dia identifikasi untuk pemerintahan Taliban di masa depan.

“Berjuang adalah satu hal, tetapi memerintah adalah hal lain, sehingga mereka akan membutuhkan banyak fleksibilitas, kecerdasan, dan pengendalian diri," kata politikus itu.

Pada Minggu, Taliban telah sepenuhnya menguasai Afghanistan, ditandai dengan jatuhnya Kabul, ibu kota Afghanistan, ke tangan kelompok itu.Presiden Ashraf Ghani dan pejabat penting lainnya kemudian melarikan diri dari Afghanistan.

Pada Senin, gelombang kepanikan dan kekacauan meletus di bandara di Kabul, karena warga Afghanistan yang putus asa berusaha melarikan diri dari negara itu. [yy/ihram]