16 Syawal 1443  |  Rabu 18 Mei 2022

basmalah.png

Fiqhislam.com - Kelompok Taliban berjanji akan bertanggung jawab atas tindakannya dan akan menyelidiki laporan-laporan kekejaman yang dilakukan oleh anggotanya.

Hal ini disampaikan oleh seorang pejabat kelompok militan tersebut kepada Reuters, Sabtu (21/8/2021).

Pejabat itu, yang berbicara dengan syarat anonim, menambahkan bahwa kelompok itu dalam beberapa minggu ke depan, berencana untuk menyiapkan model baru untuk memerintah Afghanistan.

Setelah melancarkan serangan-serangan kilat ke sejumlah ibu kota provinsi di Afghanistan, Taliban dengan mudah masuk ke Kabul, ibu kota Afghanistan pada Minggu (15/8) lalu dan mengambil alih pemerintahan

Sejak itu, warga Afghanistan dan kelompok-kelompok bantuan dan advokasi internasional telah melaporkan tindakan keras Taliban terhadap aksi-aksi protes, dan penangkapan mereka yang sebelumnya memegang posisi pemerintah, mengkritik Taliban atau bekerja dengan Amerika Serikat.

"Kami telah mendengar beberapa kasus kekejaman dan kejahatan terhadap warga sipil," kata pejabat Taliban itu. "Jika Taliban (anggota) melakukan masalah hukum dan ketertiban ini, mereka akan diselidiki," imbuhnya.

Dia menambahkan, "Kami dapat memahami kepanikan, stres, dan kecemasan. Orang-orang berpikir kami tidak akan bertanggung jawab, tetapi itu tidak akan terjadi."

Meskipun Taliban telah berusaha untuk menampilkan wajah yang lebih moderat sejak pengambilalihan Kabul, kelompok itu diketahui telah memerintah dengan tangan besi dari tahun 1996 hingga 2001, sebelum digulingkan oleh pasukan internasional pimpinan AS karena melindungi anggota Al Qaeda yang dituduh melakukan serangan teroris 11 September di AS.

Mengenai kerangka baru untuk memerintah Afghanistan, pejabat Taliban tersebut mengatakan bahwa itu tidak akan menjadi demokrasi menurut definisi Barat, tetapi "Ini akan melindungi hak semua orang," ujar pejabat itu.

"Para ahli hukum, agama dan kebijakan luar negeri di Taliban bertujuan untuk mempresentasikan kerangka pemerintahan baru dalam beberapa minggu ke depan," katanya. [yy/news.detik]

 

Fiqhislam.com - Kelompok Taliban berjanji akan bertanggung jawab atas tindakannya dan akan menyelidiki laporan-laporan kekejaman yang dilakukan oleh anggotanya.

Hal ini disampaikan oleh seorang pejabat kelompok militan tersebut kepada Reuters, Sabtu (21/8/2021).

Pejabat itu, yang berbicara dengan syarat anonim, menambahkan bahwa kelompok itu dalam beberapa minggu ke depan, berencana untuk menyiapkan model baru untuk memerintah Afghanistan.

Setelah melancarkan serangan-serangan kilat ke sejumlah ibu kota provinsi di Afghanistan, Taliban dengan mudah masuk ke Kabul, ibu kota Afghanistan pada Minggu (15/8) lalu dan mengambil alih pemerintahan

Sejak itu, warga Afghanistan dan kelompok-kelompok bantuan dan advokasi internasional telah melaporkan tindakan keras Taliban terhadap aksi-aksi protes, dan penangkapan mereka yang sebelumnya memegang posisi pemerintah, mengkritik Taliban atau bekerja dengan Amerika Serikat.

"Kami telah mendengar beberapa kasus kekejaman dan kejahatan terhadap warga sipil," kata pejabat Taliban itu. "Jika Taliban (anggota) melakukan masalah hukum dan ketertiban ini, mereka akan diselidiki," imbuhnya.

Dia menambahkan, "Kami dapat memahami kepanikan, stres, dan kecemasan. Orang-orang berpikir kami tidak akan bertanggung jawab, tetapi itu tidak akan terjadi."

Meskipun Taliban telah berusaha untuk menampilkan wajah yang lebih moderat sejak pengambilalihan Kabul, kelompok itu diketahui telah memerintah dengan tangan besi dari tahun 1996 hingga 2001, sebelum digulingkan oleh pasukan internasional pimpinan AS karena melindungi anggota Al Qaeda yang dituduh melakukan serangan teroris 11 September di AS.

Mengenai kerangka baru untuk memerintah Afghanistan, pejabat Taliban tersebut mengatakan bahwa itu tidak akan menjadi demokrasi menurut definisi Barat, tetapi "Ini akan melindungi hak semua orang," ujar pejabat itu.

"Para ahli hukum, agama dan kebijakan luar negeri di Taliban bertujuan untuk mempresentasikan kerangka pemerintahan baru dalam beberapa minggu ke depan," katanya. [yy/news.detik]

 

Tentara Hantu

Banyak ‘Tentara Hantu' di Militer Afghanistan


Fiqhislam.com - Keputusan Amerika Serikat (AS) keluar dari Afghanistan menguak secara terang-terangan busuknya pemerintahan Kabul yang selama ini didukung Washington.

Kebusukan pemerintahan Afghanistan yang didukung AS itu terbukti dengan cepatnya Taliban merebut negara itu setelah ditinggalkan negara-negara Barat.

Angkatan bersenjata Afghanistan yang diciptakan dan dilatih AS selama 20 tahun ternyata dengan sekejab mata menyerah kepada Taliban.

“Lebih banyak dan lebih lengkap daripada Taliban di atas kertas, tentara nasional Afghanistan dipandang menderita masalah sistemik serius yang telah merusak kemampuan tempurnya,” ungkap sejumlah laporan para pengamat.

Laporan Triwulanan terbaru dari Inspektur Jenderal Khusus AS untuk Rekonstruksi Afghanistan (SIGAR) tertanggal 30 Juli mengatakan, ada lebih dari 300.000 personel yang membentuk Pasukan Keamanan dan Pertahanan Nasional Afghanistan (ANDSF), yang mencakup seluruh keseluruhan angkatan bersenjata dan staf hukum serta pegawai yang digaji pemerintah Kabul.

Namun, Pusat Pemberantasan Terorisme AS di West Point, akademi pelatihan militer, mengatakan pada Januari 2021 bahwa studi 2014 telah menemukan meskipun pasukan tempur membentuk sekitar 60% dari pasukan Afghanistan, “Jumlah tentara yang muncul untuk tugas setiap hari bahkan lebih rendah."

Dikatakan dalam laporan itu, “Tentara Afghanistan dapat mengandalkan perkiraan kekuatan tempur tentara sekitar 96.000 tentara dan, termasuk pasukan polisi, ANDSF kemungkinan menurunkan kekuatan tempur di sekitar 180.000 personel tempur setiap hari."

Tapi SIGAR menyoroti masalah lain yakni maraknya "tentara hantu". "Efek korosif korupsi di dalam ANDSF, terdapat tentara dan polisi hantu, yang tidak lain adalah catatan personel palsu yang digunakan aktor korup untuk mengantongi gaji mereka," papar laporan SIGAR.

Meskipun disebut sistem biometrik telah diperkenalkan untuk menyingkirkan tentara hantu atau tentara fiktif yang sebenarnya tidak ada, ada ketidakcocokan besar antara daftar tentara dan sepatu bot yang sebenarnya di lapangan.

“Taliban, di sisi lain, memiliki perkiraan 60.000 pejuang inti, kurang atau lebih 10-20%,” papar laporan West Point yang menambahkan studi 2017 telah, bagaimanapun, “Menyimpulkan bahwa total tenaga kerja Taliban melebihi 200.000 individu, yang termasuk 90.000 anggota milisi lokal lainnya, dan puluhan ribu fasilitator dan elemen pendukung."

“Taliban dipandang sebagai kekuatan tempur yang secara teknis kurang canggih daripada pemerintah Afghanistan, serta tidak memiliki angkatan udara, artileri berat, armada kendaraan lapis baja,” ungkap laporan West Point.

Tetapi kekuatan Taliban mungkin terletak pada kenyataan bahwa Taliban adalah kekuatan yang lebih ramping daripada ANDSF yang sangat bergantung pada pendanaan asing untuk infrastruktur dan perangkat keras militer.

Kini, dengan Taliban yang berkuasa, peralatan militer AS pun jatuh ke tangan Taliban. Laporan SIGAR mengatakan, “Di mana tentara Afghanistan telah melarikan diri dari serangan Taliban, mereka meninggalkan peralatan yang dipasok AS, yang kemudian ditunjukkan Taliban di media sosial sebagai propaganda untuk menggembar-gemborkan kemenangannya, termasuk helikopter tentara AS.”

Pengumuman penarikan pasukan AS disambut dengan peluncuran serangan Taliban yang tak henti-hentinya yang melihat gerilyawan menyerbu "banyak pos pemeriksaan ANDSF, pangkalan, dan pusat distrik".

Laporan SIGAR mengutip para jenderal militer AS yang mengatakan, "Kerugian medan dan kecepatan hilangnya medan itu harus diperhatikan."

Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Mark Milley yang mengatakan pada 21 Juli bahwa. “Sementara momentum strategis tampaknya semacam dengan Taliban. Saya tidak berpikir permainan akhir belum ditulis.”

Namun, situasi di lapangan mungkin tidak mendukung optimisme sang jenderal. Bahkan jelas kini bahwa seluruh informasi intelijen AS, Jerman, Inggris dan negara-negara NATO salah total mengenai kekuatan militer Afghanistan dan kemampuan Taliban di lapangan.

Laporan SIGAR juga mengungkapkan keprihatinan atas kurangnya sarana untuk mengukur "pengaruh pada kesiapan tempur dari faktor-faktor tidak berwujud seperti keinginan untuk bertarung."

Semangat tempur telah menjadi salah satu elemen kunci di mana Taliban dipandang mampu mencetak kemenangan secara meyakinkan atas pasukan Afghanistan, terutama saat Taliban semakin kuat.

Moral tentara Afghanistan jelas sudah hancur lebur sejak awal pertempuran melawan Taliban, terlihat dari banyaknya ibu kota provinsi yang terus direbut Taliban dalam hitungan hari.

Sementara pasukan Afghanistan terlihat menawarkan perlawanan di beberapa distrik, laporan SIGAR mengatakan, "Di tempat lain mereka menyerah atau melarikan diri dalam kekacauan."

“Dalam beberapa kasus, para tetua setempat dilaporkan menengahi gencatan senjata yang memungkinkan para pendukung ANDSF pergi," ungkap laporan itu.

Laporan West Point menunjuk pada “kemampuan Taliban merekrut dan mengerahkan pejuang baru dalam beberapa tahun terakhir.”

Laporan itu juga menggarisbawahi, “Kemampuan Taliban untuk mencegah korban yang signifikan, diperkirakan dalam kisaran ribuan militan per tahun.”

Untuk semua pembicaraan tentang mereka sebagai kekuatan tempur yang didanai AS dan diperlengkapi dengan lebih baik daripada Taliban, laporan menunjukkan pasukan Afghanistan sebenarnya mungkin menderita karena kurangnya kohesi dan dukungan organisasi.

Laporan New York Times mengatakan pasukan Afghanistan telah mengeluhkan tidak adanya dukungan logistik dan bahkan makanan, saat mereka menghadapi serangan yang semakin melumpuhkan dari Taliban.

Laporan SIGAR mencatat AS telah menghabiskan lebih dari USD88 miliar untuk "mendukung sektor keamanan Afghanistan" meskipun meragukan hasil dari pendanaan tersebut, dengan mengatakan "Pertanyaan apakah uang itu dibelanjakan dengan baik pada akhirnya akan dijawab oleh hasil pertempuran di lapangan."

Artinya, seluruh dana itu tampaknya hanya mengalir ke kantong-kantor pejabat dan politisi korup, dan bukan secara nyata memperkuat militer Afghanistan.

Terbukti dengan runtuhnya pemerintahan Afghanistan yang didukung AS dan kemenangan Taliban yang mengejutnya.

Presiden Afghanistan Ashraf Ghani melarikan diri dari Kabul saat Taliban menyerbu itu kota itu. Dia kini mengasingkan diri di Uni Emirat Arab.

AS tak mengakui lagi Ghani sebagai tokoh politik di Afghanistan. [yy/sindonews]

 

Kelompok Perlawanan Afghanistan

Kelompok Perlawanan Afghanistan Rebut Tiga Wilayah Provinsi Baghlan dari Taliban


Fiqhislam.com - Kelompok perlawanan Afghanistan merebut tiga area di Provinsi Baghlan dari tangan Taliban pada Jumat, ketika pasukan pemerintah mulai angkat senjata menentang kembalinya rezim garis keras Taliban.

Pasukan anti-Taliban dilaporkan mengambil kembali kendali atas distrik Banu, Pol-e-Hesar dan De Salah di Provinsi Baghlan, sementara sekitar 60 milisi Taliban tewas atau terluka dalam pertempuran itu, menurut Newsweek, dikutip 21 Agustus 2021.

Taliban maju pesat di seluruh negeri menjelang batas waktu 31 Agustus untuk penarikan pasukan AS. Kekacauan evakuasi di bandara Kabul setelah masuknya Taliban ke kota itu memicu kritik yang signifikan terhadap penanganan situasi oleh pemerintahan Joe Biden.

Sebuah akun Twitter bernama Provinsi Panjshir, yang merupakan benteng perlawanan terhadap Taliban, berbagi laporan tentang peristiwa di provinsi tetangga Baghlan pada Jumat dalam bahasa Persia dan Inggris.

"Distrik Pul-e-Hesar diambil kembali dari #Taliban dan pertempuran berkecamuk di distrik Deh-e-Salah dan Banu," cuit akun tersebut pada 8.40 pagi Eastern Time (ET).

"Sumber-sumber lokal mengatakan Taliban telah diserang dari beberapa daerah dan menderita banyak korban," katanya.

Washington Post melaporkan, komandan lokal anti-Taliban mengklaim mereka telah membunuh sebanyak 30 milisi Taliban dan menangkap 20 orang dalam pengambilalihan distrik di Provinsi Baghlan, yang berjarak 100 km di utara Kabul. Mantan anggota militer Afghanistan bergabung dalam pertempuran, kata mereka, bersama warga sipil setempat. Gambar-gambar yang dibagikan secara online menunjukkan perayaan ketika bendera nasional Afghanistan merah, hijau dan hitam, dikibarkan di atas gedung-gedung pemerintah, bukan bendera putih Taliban.

"Kami telah memicu sesuatu yang bersejarah di Afghanistan," kata Sediqullah Shuja, 28 tahun, mantan tentara Afghanistan yang ambil bagian dalam pemberontakan hari Jumat, Washington Post melaporkan.

"Milisi Taliban memiliki kendaraan lapis baja, tetapi orang-orang melemparkan batu ke arah milisi Taliban dan mengusir mereka," katanya.

"Selama kami masih hidup," katanya, "kami tidak menerima aturan Taliban."

Pejabat Taliban tidak segera dapat dihubungi untuk dimintai komentar pada Jumat tentang peristiwa di Baghlan oleh The Post. Tetapi sebuah kicauan Twitter dari akun pro-Taliban mengklaim bentrokan itu menewaskan 15 anggota Taliban dan melukai 15 lainnya, dan mengatakan Taliban dikhianati setelah menawarkan amnesti kepada penduduk setempat.

Tajuden Soroush, koresponden senior untuk Iran International, sebuah stasiun TV Persia yang berbasis di London, Inggris, juga menulis di Twitter tentang peristiwa di Provinsi Baghlan pada hari Jumat, mengutip mantan pejabat pemerintah Afghanistan.

Milisi Mujahidin di Afghanistan telah merebut kembali tiga daerah di provinsi Baghlan negara itu dari Taliban, menurut laporan pada hari Jumat, ketika penduduk setempat melawan pendudukan Taliban baru-baru ini.

"Seorang mantan pejabat pemerintah Afghanistan memberi tahu saya bahwa pasukan perlawanan lokal di Provinsi Baghlan telah merebut kembali distrik Banu dan Pol-e-Hesar dari Taliban. Mereka maju menuju distrik Deh Salah. Sekitar 60 milisi Taliban tewas atau terluka," cuit Soroush.

"Distrik De Salah juga jatuh ke tangan pasukan perlawanan lokal," lanjutnya.

Namun, ada beberapa kebingungan di media sosial tentang daerah mana yang telah direbut dan apakah pertempuran masih berlangsung. Laporan yang saling bertentangan menunjukkan bahwa Banu dan Deh-e-Salah belum direbut saat berita ini ditulis, sementara situasi di lapangan tampak tidak stabil.

Laporan juga menyatakan bahwa distrik Andarab Baghlan adalah target selanjutnya dari para pasukan perlawanan anti-Taliban, dengan beberapa laporan mengklaim Andarab telah direbut kembali.

Namun, ada laporan yang menyebut Pul-e-Hesar telah direbut kembali dari Taliban dan telah terjadi pertempuran sengit di Deh-e-Salah dan Banu.

Distrik Pul-e-Hesar, yang dilaporkan direbut kembali oleh pasukan perlawanan lokal pada hari Jumat, terletak di utara Kabul dan dekat dengan Lembah Panjshir, menurut India Today. Lembah Panjshir adalah lokasi di mana pasukan anti-Taliban mendeklarasikan perlawanan terhadap Taliban.

Taliban merebut ibu kota dan kota terbesar di Provinsi Baghlan, Pul-e-Khumri, pada 10 Agustus sebagai bagian dari serangan kilat Taliban di seluruh Afghanistan. [yy/tempo]