18 Rabiul-Awal 1443  |  Minggu 24 Oktober 2021

basmalah.png

Bom Masih Terkubur di Gaza, Perang Jauh dari Berakhir

Bom Masih Terkubur di Gaza, Perang Jauh dari Berakhir

Fiqhislam.com - Obaida (9 tahun) tampak memanggil saudaranya sesaat setelah menemukan logam kecil, ketika berjalan melintasi halaman rumah keluarga mereka. Ahmed yang sigap, meminta adiknya itu untuk segera membuang pecahan peluru meriam yang baru ditemukan, sebelum akhirnya meledak di tanah.

Pengakuan Ahmed, Obaida sempat berjalan beberapa langkah dengan hampir tak sadarkan diri. Mengetahui hal itu, dirinya langsung menunju Obaida, hingga ikut tersungkur. Dua anak tersebut mendapat luka dari ledakan tadi.

"Lukanya sangat dalam. Setiap kali saya mencoba menutupinya, tiga jari tangan saya ini masuk ke dalam," kata ayah mereka, Salahuddin, sambil merekonstruksi.

Dikatakan ayahnya, Ahmed saat itu sempat menggunakan tangannya untuk menutupi leher adiknya. Sayang, logam dan sisa ledakan juga mengenai Ahmed di beberapa bagian, khususnya lengan. Dokter yang menanganinya juga menyatakan jika mereka terluka karena benda tersebut.

Saat mengetahui ledakan yang menimpa dua anaknya petang tersebut, Salahuddin mengaku, dirinya sudah mengetahui jika tidak ada harapan bagi Obaida yang terluka di leher dan kepalanya. Terlebih, dirinya juga merasa terpukul dengan kondisi Ahmed yang harus diamputasi karena luka ledakan.

"Saya berlari ke dua anak saya, tetapi saya tahu kasus Obaida (tidak ada harapan - dia meninggal," kata Salahuddin.

Jika melihat kasus tersebut, tidak semua bom meledak saat dijatuhkan ke wilayah Gaza. Serangan yang dilakukan Israel meninggalkan puing-puing ledakan, bom utuh di tengah jalan atau terkubur di bawah permukiman.

Semua yang tidak meledak itu, bisa berumur puluhan tahun dan meledak saat digerakkan. Meskipun kecelakaan seperti yang menewaskan Obaida al-Dahdouh relatif jarang terjadi, sisa-sisa bahan peledak dari bom yang dijatuhkan Israel menimbulkan ancaman serius bagi kehidupan warga Gaza.

"Dalam tiga tahun terakhir, Jalur Gaza telah mengalami sekitar satu kecelakaan yang disebabkan oleh sisa-sisa bahan peledak perang setiap bulan," kata Suhair Zakkout, juru bicara Komite Internasional Palang Merah (ICRC) di Gaza dikutip Middle East Eye, Kamis (19/8).

Berdasarkan laporan PBB, selama 2009 hingga 2020, 41 orang dilaporkan tewas dan 296 lainnya terluka oleh puing-puing bom tersebut. Setiap senjata yang digunakan Israel, tidak hanya mengotori jalur Gaza, tetapi juga disertai konsekuensi lainnya yang tertimbun.

Hal itu, semakin dikhawatirkan, ketika 11 hari di Mei lalu, Israel meluncurkan 2.750 serangan udara dan 2.300 peluru artileri di Jalur Gaza, menurut Euro-Med Human Rights Monitor. Aksi itu, menewaskan 248 warga Palestina, termasuk 66 anak.

Memang, kelompok militan termasuk Hamas juga menembakkan roket dari Gaza ke Israel dan menewaskan 13 orang. Kedua pihak dimungkinkan melakukan kejahatan perang. Tetapi, dampak dari serangan Israel bisa bertahan lama bagi warga Palestina.

Layanan Pekerjaan Ranjau PBB (UNMAS) memang sigap membantu pihak berwenang Gaza mengendalikan dan membuang bom yang terkubur. Dalam satu kondisi, satu bom di 18 meter di bawah tanah, dijelaskan bisa memakan waktu beberapa pekan untuk ditemukan, dijinakkan, digali dan dibuang.

Dalam penjelasannya, diperkirakan masih ada 16 bom yang berserakan dengan jenis Mark-84, atau MK-84. Sebuah bom yang sangat diandalkan Israel dalam serangan terbaru, meskipun berisiko tinggi terhadap kerusakan tambahan.

Sehari sebelum gencatan senjata mulai berlaku pada Mei, sebuah Mark-84 yang dijatuhkan Israel merobek atap rumah Ramzi Abu Hadayed, di Khan Younis, di Jalur Gaza selatan, dan menabrak sebuah kamar tidur. Hal itu, diakui Hadayed, terjadi kala tidak ada peringatan dari Angkatan Udara Israel.

"Syukurlah rudal itu tidak meledak," jelas ibu mertua Abu Hadayed, dengan rasa takut yang masih jelas.

Menurut psikiater Yasser Abu Jamei, yang mengepalai Program Kesehatan Mental Komunitas Gaza (GCMHP), lebih dari dua juta orang Gaza kemungkinan besar mengalami trauma akibat pemboman Israel selama bertahun-tahun. "Semua orang mengalami pengeboman atau melihat akibatnya," katanya.

Abu Jamei menambahkan, agar seseorang bisa pulih dari trauma tersebut, mereka harus merasa jika peristiwa yang mengejutkan ke depannya sudah berakhir dan tidak akan terjadi lagi. Sayang, kata dia, orang-orang di Gaza tidak mencapai tingkat keamanan ini karena mengalami peristiwa traumatis yang membangkitkan ingatan sepanjang waktu.

"Contoh lain adalah bom yang tidak meledak. Jika meledak, peristiwa mengejutkan lainnya akan terjadi ... Dan jika tidak meledak, mereka masih ada di rumah-rumah orang, dan penduduk tahu mereka ada di sana, jadi mereka tidak pernah merasa aman," lanjut dia.

Tak hanya beban psikologis, banyak juga mata pencaharian yang hilang di wilayah Gaza. Para kolektor besi tua misalnya, hidup dalam kondisi sulit sehingga mereka merasa tidak punya pilihan selain terus menyelamatkan diri.

Menurut UNMAS, mereka berada dalam risiko tinggi, bersama dengan para petani, yang menemukan sisa-sisa bahan peledak tepat di bawah permukaan tanah mereka, dan dimungkinkan mengandung racun berbahaya.

Keluarga Al-Rantissi, warga di Gaza barat, mendapati rumahnya dihantam oleh dua rudal Israel sekitar pukul 4 pagi pada tanggal 18 Mei lalu tanpa pemberitahuan sebelumnya. Mereka, tetap mengungsi karena rudal yang belum meledak masih bersarang di bawah rumah mereka.

Dikatakannya, dua anggota keluarga, termasuk anak gadis berusia 14 tahun dan seorang pria berusia 27 tahun, mengalami gejala gangguan stres pasca-trauma sejak serangan itu. “Kami menyewa sebuah rumah di dekat rumah kami sampai rudal itu dibuang, tetapi kami tidak nyaman di sana, dan kami merasa kehilangan tempat tinggal. Kami lebih suka tinggal tepat di atas rudal daripada melalui pengalaman pemindahan ini,” kata Muhammed al-Rantissi.

Janji dari ahli bom asing, kata al-Rantissi, tidak bisa ditunggu lebih lama. Bahkan, dia menyatakan jika hal itu hanyalah bagian dari janji-janji rekonstruksi Gaza, yang terus tertunda "Perang belum berakhir; kami masih menjalani pertempuran setiap hari selama rudal masih ada di rumah kami," ungkap dia. [yy/ihram]