18 Syawal 1443  |  Jumat 20 Mei 2022

basmalah.png

Fiqhislam.com - Juru bicara Taliban mengatakan kepada media Inggris pada Selasa (17/8) bahwa perempuan Afghanistan akan memiliki hak untuk bekerja dan menerima pendidikan hingga tingkat universitas.

Berbicara kepada Sky News, Suhail Shaheen mengatakan di bawah Taliban, perempuan Afghanistan tetap diharapkan mengenakan jilbab, meskipun bukan burka yang menutupi seluruh wajah.

"Ini bukan aturan kami, ini aturan Islam. Ini untuk keamanan mereka," ujar Shaheen.

Sky News juga menanyakan apakah perempuan akan diizinkan untuk memegang posisi politik.

“Kebijakan kami jelas – mereka bisa memiliki akses ke pendidikan dan pekerjaan, itu satu hal. Mereka dapat memegang posisi, tetapi posisi yang dapat mereka pegang adalah berdasarkan aturan Islam – jadi ada kerangka umum untuk mereka,” jawab dia.

Tentang warga Afghanistan yang bekerja untuk pemerintahan sebelumnya, yang runtuh setelah Taliban mengambil alih ibu kota, Shaheen mengatakan properti mereka akan diselamatkan dan kehormatan serta hidup mereka aman. Taliban telah mengumumkan amnesti umum di Afghanistan.

Warga Afghanistan yang bekerja untuk pemerintah atau organisasi asing telah menyuarakan keprihatinan atas kemungkinan balas dendam Taliban, tetapi kelompok itu secara terbuka membantah segala upaya balas dendam.

Konsultasi untuk pemimpin Taliban

Ketika ditanya siapa yang akan memimpin Taliban di negara itu, Shaheen mengatakan konsultasi akan dilakukan dan hasilnya diumumkan dalam dua atau tiga hari. Mullah Abdul Ghani Baradar secara luas dianggap sebagai calon utama.

Dia adalah salah satu anggota pendiri Taliban pada 1990-an dan merupakan wakil pemimpin dan kepala politik saat ini. Shaheen mengatakan Baradar berniat untuk kembali ke Afghanistan tetapi tidak bisa mengatakan kapan.

Shaheen juga memiliki pesan untuk Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dan komunitas internasional yang lebih luas bahwa mereka harus menghormati aspirasi rakyat Afghanistan.

“Ini adalah kewajiban mereka karena mereka berada di balik kehancuran Afghanistan selama 20 tahun pendudukan" tegas dia.

“Adalah kewajiban moral mereka untuk juga membantu merekonstruksi Afghanistan dan membantu orang-orang untuk memulai kehidupan baru, dan babak baru," kata dia.

Shaheen juga mengatakan bahwa tidak ada kelompok atau individu yang diizinkan menggunakan suaka Afghanistan untuk merencanakan kegiatan terorisme.

AS dan kekuatan lainnya menginvasi Afghanistan pada musim gugur 2001, dengan mengatakan bahwa para pemimpin Taliban telah memberikan perlindungan kepada teroris al-Qaeda di balik serangan terhadap AS pada 11 September 2001.

Dalam wawancara itu, Shaheen juga ditanya tentang video dan foto viral yang menunjukkan warga Afghanistan jatuh dari pesawat dalam upaya mereka untuk melarikan diri dari negara itu.

Dia mengatakan Taliban tidak bertanggung jawab untuk hal itu karena warga sudah lama ingin pergi dari negara yang miskin, meskipun eksodus kemudian dipercepat karena pasukan Taliban mengambil alih lebih banyak wilayah dalam beberapa pekan terakhir. Shaheen mengatakan bahwa Taliban dapat mengambil alih Afghanistan begitu cepat karena mereka menginginkan apa yang diinginkan rakyat.

“Tuntutan kami serupa. Budaya kita mirip. Semuanya mirip. Kami lebih dekat dengan rakyat daripada mereka (pemerintah sebelumnya),” ujar dia.

Dengan penghentian bantuan internasional, Sky News bertanya kepada Shaheen bagaimana Taliban dapat menjalankan negara secara finansial.

“Kami memiliki sumber daya alam yang sangat besar. Kami memiliki rakyat yang sangat pekerja keras. Kami berharap dan kami percaya pada rakyat kami dan kapasitas mereka," jawab dia.

Shaheen mengatakan bahwa Afghanistan menginginkan kerja sama masyarakat internasional untuk membangun kembali negara itu.

Dia menambahkan bahwa meskipun tidak menerima dukungan keuangan dari Pakistan, Rusia, atau China, Taliban memiliki hubungan baik dengan mereka. [yy/republika]

 

Fiqhislam.com - Juru bicara Taliban mengatakan kepada media Inggris pada Selasa (17/8) bahwa perempuan Afghanistan akan memiliki hak untuk bekerja dan menerima pendidikan hingga tingkat universitas.

Berbicara kepada Sky News, Suhail Shaheen mengatakan di bawah Taliban, perempuan Afghanistan tetap diharapkan mengenakan jilbab, meskipun bukan burka yang menutupi seluruh wajah.

"Ini bukan aturan kami, ini aturan Islam. Ini untuk keamanan mereka," ujar Shaheen.

Sky News juga menanyakan apakah perempuan akan diizinkan untuk memegang posisi politik.

“Kebijakan kami jelas – mereka bisa memiliki akses ke pendidikan dan pekerjaan, itu satu hal. Mereka dapat memegang posisi, tetapi posisi yang dapat mereka pegang adalah berdasarkan aturan Islam – jadi ada kerangka umum untuk mereka,” jawab dia.

Tentang warga Afghanistan yang bekerja untuk pemerintahan sebelumnya, yang runtuh setelah Taliban mengambil alih ibu kota, Shaheen mengatakan properti mereka akan diselamatkan dan kehormatan serta hidup mereka aman. Taliban telah mengumumkan amnesti umum di Afghanistan.

Warga Afghanistan yang bekerja untuk pemerintah atau organisasi asing telah menyuarakan keprihatinan atas kemungkinan balas dendam Taliban, tetapi kelompok itu secara terbuka membantah segala upaya balas dendam.

Konsultasi untuk pemimpin Taliban

Ketika ditanya siapa yang akan memimpin Taliban di negara itu, Shaheen mengatakan konsultasi akan dilakukan dan hasilnya diumumkan dalam dua atau tiga hari. Mullah Abdul Ghani Baradar secara luas dianggap sebagai calon utama.

Dia adalah salah satu anggota pendiri Taliban pada 1990-an dan merupakan wakil pemimpin dan kepala politik saat ini. Shaheen mengatakan Baradar berniat untuk kembali ke Afghanistan tetapi tidak bisa mengatakan kapan.

Shaheen juga memiliki pesan untuk Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dan komunitas internasional yang lebih luas bahwa mereka harus menghormati aspirasi rakyat Afghanistan.

“Ini adalah kewajiban mereka karena mereka berada di balik kehancuran Afghanistan selama 20 tahun pendudukan" tegas dia.

“Adalah kewajiban moral mereka untuk juga membantu merekonstruksi Afghanistan dan membantu orang-orang untuk memulai kehidupan baru, dan babak baru," kata dia.

Shaheen juga mengatakan bahwa tidak ada kelompok atau individu yang diizinkan menggunakan suaka Afghanistan untuk merencanakan kegiatan terorisme.

AS dan kekuatan lainnya menginvasi Afghanistan pada musim gugur 2001, dengan mengatakan bahwa para pemimpin Taliban telah memberikan perlindungan kepada teroris al-Qaeda di balik serangan terhadap AS pada 11 September 2001.

Dalam wawancara itu, Shaheen juga ditanya tentang video dan foto viral yang menunjukkan warga Afghanistan jatuh dari pesawat dalam upaya mereka untuk melarikan diri dari negara itu.

Dia mengatakan Taliban tidak bertanggung jawab untuk hal itu karena warga sudah lama ingin pergi dari negara yang miskin, meskipun eksodus kemudian dipercepat karena pasukan Taliban mengambil alih lebih banyak wilayah dalam beberapa pekan terakhir. Shaheen mengatakan bahwa Taliban dapat mengambil alih Afghanistan begitu cepat karena mereka menginginkan apa yang diinginkan rakyat.

“Tuntutan kami serupa. Budaya kita mirip. Semuanya mirip. Kami lebih dekat dengan rakyat daripada mereka (pemerintah sebelumnya),” ujar dia.

Dengan penghentian bantuan internasional, Sky News bertanya kepada Shaheen bagaimana Taliban dapat menjalankan negara secara finansial.

“Kami memiliki sumber daya alam yang sangat besar. Kami memiliki rakyat yang sangat pekerja keras. Kami berharap dan kami percaya pada rakyat kami dan kapasitas mereka," jawab dia.

Shaheen mengatakan bahwa Afghanistan menginginkan kerja sama masyarakat internasional untuk membangun kembali negara itu.

Dia menambahkan bahwa meskipun tidak menerima dukungan keuangan dari Pakistan, Rusia, atau China, Taliban memiliki hubungan baik dengan mereka. [yy/republika]

 

Perintah dan Larangan Taliban

Perintah dan Larangan Taliban 5 Tahun Kuasai Afghanistan


Fiqhislam.com - Taliban berkuasa di Afghanistan selama 1996-2001. Ketika itu, mereka menerapkan hukum syariah Islam yang cukup ketat.

Dalam pernyataan yang dikutip dari dokumentasi Harian Republika 1997, alasan pemerintahan Taliban ketika itu adalah mendirikan negara Islam yang komprehensif. ''Tujuan akhir kami adalah menegakkan suatu negara Islam yang paling sejati di muka bumi.'' Kalimat tersebut meluncur dari bibir Maulawi Rafiullah Muazin, kepala Departemen Penganjur Kebajikan dan Pencegah Kemunkaran Afghanistan, Maret 1997.

''Kebudayaan kami telah berubah banyak sejak sekitar 40-50 tahun lalu, khususnya di kota-kota seperti Kabul. Sekarang budaya asli Afghanistan hanya bertahan di desa-desa,'' tambah Muazin.

Dengan 'misi suci' itu, selama berkuasa sekitar 14 bulan, pemerintah Taliban menerapkan berbagai aturan yang mereka nyatakan sebagai upaya pemurnian Islam.

Meski demikian, Taliban pada Selasa (17/8/2021) mengatakan, mereka menginginkan hubungan damai dengan negara lain dan akan menghormati hak-hak perempuan dalam kerangka hukum Islam. Hal ini diungkapkan Taliban dalam jumpa pers resmi pertama sejak mereka menduduki Kabul.

"Kami tidak menginginkan musuh internal atau eksternal. Perempuan akan diizinkan untuk bekerja dan belajar, serta aktif dalam masyarakat tetapi dalam kerangka Islam," kata juru bicara utama Taliban, Zabihullah Mujahid.

Berikut adalah berbagai aturan yang dikeluarkan pemerintah Taliban yang tercatat oleh media massa selama rentang waktu berkuasa pertama kali 1996-2001:

- Perintah agar angkutan umum di Kabul berhenti lima kali sehari agar para penumpangnya datang ke masjid untuk melakukan sholat.

''Seluruh pengemudi taksi, bis, dan truk diminta menghentikan kendaraan mereka di masjid terdekat dan menawarkan sholat berjamaah bersama dengan penumpang mereka,'' demikian bunyi sebagian perintah yang dikeluarkan tahun lalu. ''Mereka yang melalaikannya dianggap korup.''

- Perintah agar pria dan wanita duduk terpisah di kendaraan umum.

- Perintah agar warga menyerahkan mereka yang meninggalkan sholat pada pihak berwenang.

- Perintah agar wanita berhenti bekerja, kecuali di sektor medis.

- Perintah agar pasien wanita hanya ditangani tenaga medis wanita, dan dipisahkan dari pasien pria. Banyak pasien wanita ditolak dilayani di rumah sakit besar, karena mayoritas pasien di sana adalah kaum pria.

- Perintah agar wanita tak melanjutkan pendidikan ke jenjang tinggi. Universitas Kabul misalnya dibuka Maret lalu tanpa dosen dan mahasiswa wanita, meskipun perguruan tinggi ini sebelumnya mempunyai 60 dosen wanita di berbagai fakultas. Menteri Pendidikan Tinggi Taliban sendiri menyatakan larangan ini hanya bersifat sementara.

- Perintah agar kaum wanita tidak boleh keluar rumah kecuali dengan mengenakan burqa, pakaian berupa kerudung yang menutup seluruh tubuh dengan kain tipis kecil di bagian mata. Kebijakan pemerintahan Taliban ini melarang gaya Iran atau Arab, yang masih memperbolehkan diperlihatkannya mata, diterapkan di negaranya. Mereka yang melanggar dipukul dengan tongkat sebesar pipa.

- Perintah agar pria memelihara jenggot, yang harus dibiarkan tumbuh melebihi ukuran kepalan tangan yang diletakkan di bawah dagu.

Hukuman bagi pria yang diketahui memangkas janggut sehingga lebih pendek dari ukuran standar itu adalah penjara satu hari dan dua atau lebih cambukan. Ia akan dilepaskan bila ada seseorang yang menjamin bahwa ia tak akan mencukur janggutnya lagi.

- Perintah menutup tempat hiburan, serta larangan memperingati pergantian tahun, musik, tarian, sampai menaikkan layangan dari atap rumah.

- Larangan memajang foto manusia.

- Larangan mengadakan pesta perkawinan besar-besaran di luar ruangan. Pesta perkawinan seharusnya dilakukan sederhana dan di dalam ruangan, dengan para tamu pria dan wanita ditempatkan di ruangan berbeda.

- Larangan mengadakan perayaan keagamaan Syiah secara terbuka, misalnya peringatan peristiwa Karbala setiap tanggal 10 Muharram. Umat Syiah merupakan 15 persen penduduk Afghanistan.

- Larangan membuang waktu untuk hal-hal yang berbau sekuler, termasuk meonton televisi. ''Waktu seharusnya digunakan untuk berbakti pada negara dan berdoa pada Tuhan, jangan untuk yang lain. Hal-hal lainnya adalah pemborosan dan masyarakat seharusnya tidak memboroskan waktu mereka,'' kata wakil Menteri Luar Negeri Pemerintah Taliban ketika itu, Sher Abbas Stanekzai.

- Perintah penutupan rumah sakit swasta, karena dianggap membebani rakyat. Dengan demikian, rakyat hanya akan dilayani rumah sakit umum. [yy/republika]