22 Rabiul-Akhir 1443  |  Sabtu 27 Nopember 2021

basmalah.png

Jurnalis Arab Saudi yang Anjurkan Berdamai dengan Israel Dibebaskan dari Penjara

Jurnalis Arab Saudi yang Anjurkan Berdamai dengan Israel Dibebaskan dari Penjara

Fiqhislam.com - Abdul Hameed Ghabin, jurnalis Arab Saudi , yang menganjurkan negaranya berdamai dengan Israel telah dibebaskan dari penjara di negaranya.

Dia telah ditangkap dua kali karena menyerukan normalisasi Arab Saudi dengan Israel. Pembebasannya baru-baru ini diduga karena tekanan dari Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden terhadap Riyadh.

Edy Cohen, seorang peneliti di The Begin-Sadat Center for Strategic Studies atau BESA Center, melaporkan pembebasan jurnalis itu melalui sumber di Saudi.

Cohen, yang mengabdi selama 15 tahun di komunitas intelijen Israel, memuji Abdul Hameed Ghabin sebagai sosok lebih maju dari zamannya.

"Dia secara terbuka menyerukan perdamaian antara Arab Saudi dan Israel bahkan sebelum Kesepakatan Abraham, dan dia menyerang Iran dan Palestina sebelum populer untuk melakukannya. Dia akhirnya ditangkap karena hasutan oleh pemerintah Saudi, dan kini telah dibebaskan setelah penangkapan kedua," kata Cohen, yang dikutip dari kolomnya di situs BESA Center, Jumat (13/8/2021).

Pada 2018 dan 2019, Ghabin secara terbuka mendukung normalisasi penuh antara negaranya dengan Israel, dan membuat pernyataan seperti itu di media berbahasa Arab tanpa rasa takut.

"Pihak berwenang pada saat itu tidak tahu apa yang harus dilakukan dengannya. Di satu sisi, dia tidak melakukan sesuatu yang ilegal. Di sisi lain, dia mempermalukan pejabat tinggi kerajaan, yang mencoba menggambarkan diri mereka sebagai pembela perjuangan Palestina," ujar Cohen.

Ghabin tercatat sebagai orang pertama Arab Saudi yang menulis kolom opini di surat kabar Israel, Israel Hayom. Dalam artikelnya, “A New Saudi Perspective for Peace", dia menyerang Yordania. Ini berisiko, karena dari sudut pandang Arab, tidak dapat diterima bagi warga negara Arab Saudi untuk menyerang negara anggota Liga Arab.

"Ghabin adalah korban konflik di balik layar di Arab Saudi. Kaum moderat tidak ingin menyakitinya, tetapi para ekstremis berhasil menangkapnya," kata Cohen.

"Di beberapa negara Arab, perintah hakim tidak diperlukan untuk melakukan penangkapan; panggilan telepon dari politisi atau pejabat tinggi keamanan lainnya sudah cukup. Inilah yang terjadi dalam kasus Ghabin. Menurut pendapat banyak orang di Arab Saudi, dia telah melewati batas perilaku yang dapat diterima dan mendapatkan apa yang akan datang kepadanya."

Menurutnya, Ghabin tidak menyerang kemapanan Arab Saudi. Seandainya dia melakukannya, dia hampir pasti akan dieksekusi atau dijatuhi hukuman puluhan tahun penjara.

Wartawan Arab Saudi itu menghabiskan satu tahun di penjara, di samping lima bulan dia ditahan di kantor polisi. Selama waktu itu kewarganegaraannya dicabut dan pihak berwenang mencoba menuduhnya menjadi mata-mata untuk Israel.

Tuduhan terhadapnya termasuk berusaha untuk mendapatkan kewarganegaraan Saudi dengan penipuan, penyelundupan uang, mendukung Inggris, dan merugikan Palestina.

"Ghabin baru-baru ini dibebaskan dengan pembatasan ketat. Dia dilarang keluar negeri, diwawancarai media apapun, dan membuka akun media sosial," imbuh Cohen.

Setelah satu setengah tahun, ketika akhirnya menjadi jelas bagi pihak berwenang bahwa pemenjaraan Ghabin tidak berdasar, tuduhan terhadapnya dibatalkan. Sebuah komite negara sekarang sedang memeriksa skandal tersebut. Jika disimpulkan bahwa Ghabin telah dianiaya, kemungkinan besar, dia akan diberi kompensasi.

"Sumber yang saya ajak bicara di Arab Saudi mengatakan kepada saya bahwa dia dibebaskan agar tidak merusak hubungan yang rapuh dengan pemerintahan Biden di AS," katanya.

Dia menyerukan negara-negara Barat harus menawarkan suaka politik untuknya dan keluarganya, karena dia tidak akan pernah bisa menjalani kehidupan normal lagi di Arab Saudi.

Pemerintah Arab Saudi belum berkomentar atas laporan tentang pembebasan jurnalis tersebut dari penjara.

Riyadh sampai saat ini tidak dan menolak untuk melakukan normalisasi hubungan dengan Israel dengan alasan perdamaian antara Palestina dengan negara Yahudi itu belum tercapai final. [yy/sindonews]