25 Rabiul-Akhir 1443  |  Selasa 30 Nopember 2021

basmalah.png

Afghanistan Masuk ke dalam Perang Saudara Berkepanjangan Skala Penuh

Afghanistan Masuk ke dalam Perang Saudara Berkepanjangan Skala Penuh

Fiqhislam.com - Afghanistan berisiko tergelincir ke dalam perang saudara skala penuh yang berlarut-larut di tengah tidak adanya kemajuan dalam negosiasi perdamaian. Hal itu diungkapkan Wakil Tetap Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia dalam pertemuan Dewan Keamanan .

“Jelas bahwa tidak ada solusi militer untuk situasi Afghanistan, tetapi, dalam situasi saat ini, mengingat tidak adanya kemajuan di jalur negosiasi, prospek Afghanistan tergelincir ke dalam skala penuh dan perang saudara yang berlarut-larut, sayangnya, adalah kenyataan yang mencolok," ujarnya.

"Oleh karena itu, tujuan terpenting hari ini adalah meluncurkan negosiasi substantif dengan cepat," imbuh Nebenzia seperti dikutip dari Sputnik, Sabtu (7/8/2021).

Utusan Rusia itu menyuarakan harapan bahwa pembicaraan yang akan datang tentang Afghanistan di Doha serta format Troika plus Pakistan yang diperpanjang akan memberikan dorongan tambahan untuk proses penyelesaian politik.

"Kami yakin bahwa sekarang lebih penting dari sebelumnya untuk mengkonsolidasikan semua upaya internasional dan regional dan setiap tindakan harus diambil untuk menemukan solusi yang masuk akal dengan mempertimbangkan kepentingan semua etnis dan agama minoritas," ujarnya.

Pada saat yang sama, diplomat Rusia itu menekankan bahwa Moskow khawatir tentang meningkatnya kekerasan di Afghanistan yang mungkin lepas kendali. Situasi ini juga memicu kekhawatiran dari tetangga Kabul di Asia Tengah.

"Risiko pejuang yang menyusup ke wilayah dengan kedok sebagai pengungsi tidak dapat gagal untuk menimbulkan kekhawatiran di antara tetangga Asia Tengah kami. Kami secara teratur berhubungan dengan kelima negara Asia Tengah," ucap diplomat Rusia itu.

Kekerasan terus berlanjut di Afghanistan selama beberapa minggu, dengan Taliban melancarkan serangan ke seluruh kota. Laporan mengatakan kelompok militan sekarang menguasai lebih banyak wilayah daripada yang mereka lakukan pada tahun 2001, ketika digulingkan selama invasi pimpinan Amerika Serikat (AS). [yy/sindonews]