20 Safar 1443  |  Selasa 28 September 2021

basmalah.png

Mayat Berserakan di Jalanan Saat Pertempuran antara Taliban dan Pemerintah

Mayat Berserakan di Jalanan Saat Pertempuran antara Taliban dan Pemerintah

Fiqhislam.com - Penduduk Lashkar Gah di Afghanistan selatan adalah satu dari ribuan orang yang terjebak atau melarikan diri menyelamatkan diri saat pertempuran untuk menguasai kota terjadi antara militan Taliban dan pasukan pemerintah.

“Taliban tidak akan mengasihani kami dan pemerintah tidak akan menghentikan pengeboman,” ujar salah seorang warga.

BBC tidak menyebutkan beberapa orang yang diwawancarai dalam artikel ini karena alasan keamanan.

"Ada mayat di jalan. Kami tidak tahu apakah mereka warga sipil atau Taliban," kata pria itu kepada layanan BBC Afghanistan dalam sebuah wawancara di Whatsapp.

"Puluhan keluarga telah meninggalkan rumah mereka dan menetap di dekat sungai Helmand,” terangnya.

Penduduk setempat yang ketakutan lainnya mengatakan kepada BBC bahwa mereka telah melihat mayat-mayat tergeletak di jalan-jalan.

Ibukota provinsi Helmand yang terkepung akan menjadi nilai simbolis yang sangat besar bagi para pemberontak saat mereka melanjutkan kemajuan pesat mereka setelah penarikan pasukan asing. Helmand adalah pusat dari kampanye militer AS dan Inggris.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan badan-badan lainnya memperingatkan krisis kemanusiaan yang memburuk. PBB pada Selasa (3/8), sedikitnya 40 warga sipil tewas di Lashkar Gah dalam satu hari terakhir.

Tentara Afghanistan mendesak warga sipil untuk meninggalkan Lashkar Gah menjelang serangan besar-besaran terhadap Taliban, kelompok Islam garis keras yang digulingkan dari kekuasaan oleh pasukan pimpinan AS 20 tahun lalu.

Di tempat lain di selatan, Taliban mencoba untuk merebut Kandahar, bekas benteng mereka, dan bentrokan juga meningkat di Herat di barat.

Pertempuran telah berlanjut di Lashkar Gah selama berhari-hari, dengan militan sekarang dilaporkan menguasai sebagian besar distrik.

"Kami sedang melalui hari-hari yang sulit," kata seorang mahasiswa di kota itu kepada BBC.

"Taliban membakar tanah dan pasukan udara pemerintah ke langit,” lanjutnya.

"Taliban dapat dilihat di jalan-jalan kota. Kehadiran Taliban telah mengejutkan orang-orang di sini,” terang seorang pria lain pada Minggu (1/8).

“Toko-toko tutup, dan kendaraan militer pemerintah tergeletak hancur di tengah jalan. Perang berlanjut dalam beberapa meter dari kantor gubernur dan Direktorat Keamanan Nasional,” ujarnya.

"Pemerintah pusat mengatakan baru-baru ini mereka telah mengerahkan pasukan komando baru ke Lashkar Gah, tapi kami tidak melihat mereka,” jelasnya.

Ratusan bala bantuan Afghanistan dilaporkan telah dikerahkan ke kota itu.

Pada akhir pekan, Attaullah Afghan, kepala dewan provinsi Helmand, mengakui bahwa pertempuran tampaknya "keluar dari kendali kami".

Taliban telah membuat kemajuan lebih lanjut minggu ini, meskipun pesawat tempur Afghanistan dan AS menargetkan para pemberontak.

Ada laporan bahwa pejuang Taliban telah mengambil posisi di dalam rumah, toko dan pasar - orang-orang terjebak di rumah mereka saat pertempuran berlangsung di jalan-jalan.

Para militan umumnya memperingatkan orang-orang melalui pengeras suara untuk pergi tetapi kadang-kadang mereka memasuki rumah - penduduk setempat hanya memiliki beberapa menit untuk melarikan diri atau berisiko terjebak dalam baku tembak karena rumah mereka menjadi bagian dari medan perang.

"Taliban memberi tahu kami jika kami tidak meninggalkan rumah dalam waktu setengah jam, kami akan dihitung di antara polisi dan pasukan Afghanistan," kata mahasiswa yang berbicara dengan layanan BBC Afghanistan.

Selama pemerintahan mereka di akhir 1990-an, Taliban secara terbuka mengeksekusi orang dan membatasi akses perempuan ke pendidikan dan pekerjaan.

Taliban mengatakan mereka telah berubah dan tidak akan lagi menggunakan kekerasan seperti itu - tetapi banyak orang Afghanistan skeptis.

Human Rights Watch telah mendokumentasikan kasus-kasus serangan balasan oleh militan terhadap warga sipil yang dianggap mendukung pemerintah.

PBB mengatakan warga sipil menanggung beban konflik dan mendesak semua pihak untuk berbuat lebih banyak untuk melindungi warga sipil atau dampaknya akan menjadi bencana besar.

Ribuan orang yang lolos dari pertempuran sekarang menghadapi kekurangan makanan, air minum, dan obat-obatan.

Badan-badan bantuan tidak memiliki akses ke sebagian besar pengungsi, dan pusat kesehatan serta rumah sakit tidak memiliki kapasitas untuk menangani jumlah korban. Beberapa fasilitas kesehatan telah hancur, sementara yang lain tidak aktif.

Seorang dokter di Lashkar Gah, Masood Khan, mengatakan aliran pasien luka parah yang terus meningkat tiba di rumah sakitnya, dan dia khawatir orang lain tidak dapat menjangkaunya. Menurut dia, persediaan obat-obatan semakin menipis.

"Kami menerima banyak korban perang... Ada pertempuran di sekitar," kata Dr Kahn, spesialis perawatan intensif di rumah sakit yang dikelola oleh badan amal kesehatan MSF, kepada BBC, Senin (2/8). [yy/okezone]