15 Safar 1443  |  Kamis 23 September 2021

basmalah.png

Lobi Taliban ke Pemerintahan Partai Komunis China

Lobi Taliban ke Pemerintahan Partai Komunis China

Fiqhislam.com - Delegasi Taliban melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi di Tianjin, Rabu (28/7). Masalah keamanan dan proses perdamaian Afghanistan menjadi topik pembahasan mereka.

“Politik, ekonomi, dan isu-isu yang berkaitan dengan keamanan kedua negara serta situasi Afghanistan saat ini dan proses perdamaian dibahas dalam pertemuan tersebut,” kata juru bicara Taliban Mohammad Naeem lewat akun Twitter pribadinya.

Naeem mengungkapkan, delegasi yang berkunjung terdiri dari sembilan orang. Sebelumnya South China Morning Post, mengutip sumber yang mengetahui tentang pertemuan tersebut, melaporkan, delegasi Taliban dipimpin Mullah Abdul Ghani Baradar.

Ia adalah salah satu pendiri sekaligus tokoh yang mengepalai kantor politik Taliban di Qatar. Ini pertama kalinya anggota senior Taliban mengunjungi China. Kunjungan itu dilakukan setelah Taliban merebut beberapa distrik utama di provinsi Badakhshan dan Kandahar, Afghanistan.

China telah mengikuti perkembangan penarikan pasukan Amerika Serikat (AS) dari Afghanistan. Beijing berusaha memainkan peran lebih besar dalam menuntaskan konflik di negara tersebut. “Posisi China adalah bahwa ini harus diselesaikan di Afghanistan. Situasi di Afghanistan seharusnya tidak mengancam keamanan China,” kata seorang sumber pemerintah Cina.

Salah satu kekhawatiran China adalah bahwa Taliban sudah menguasai wilayah Afghanistan yang berbatasan dengan Provinsi Xinjiang. Pada masa lalu, Taliban sempat memberikan dukungan kepada kelompok militan Uighur di Xinjiang. Namun saat ini Taliban mengatakan tidak akan mengintervensi urusan internal Negeri Tirai Bambu.

Setelah AS memutuskan menarik seluruh pasukannya dari Afghanistan, Taliban memutuskan melancarkan serangkaian serangan ke sejumlah wilayah di negara tersebut. Pentagon memperkirakan, saat ini Taliban telah menguasai separuh dari 419 distrik di Afghanistan. Mereka pun menekan 17 dari 34 ibu kota provinsi, tapi belum menguasainya. [yy/republika]