30 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 05 Desember 2021

basmalah.png

Media: Saudi dan Iran Rintis Rekonsiliasi

Media: Saudi dan Iran Rintis Rekonsiliasi

Fiqhislam.com - Iran dan Arab Saudi dilaporkan bakal segera merintis rekonsiliasi untuk memulihkan hubungan diplomatik. Sebagai permulaan, Riyadh disebut akan mengirim delegasi dalam acara pelantikan presiden terpilih Iran, Ebrahim Raisi.

"Kerajaan Arab Saudi dapat mengirim perwakilan untuk berpartisipasi dalam upacara pelantikan presiden terpilih, Ebrahim Raisi, dan hubungan diplomatik antara kedua negara akan dilanjutkan setelah itu,” kata surat kabar Iran, Etemad, mengutip seorang sumber, dikutip laman Middle East Monitor pada Sabtu (24/7).

Menurut sumber tersebut, Iran dan Saudi akan membuka kembali kedutaan besar (kedubes) di negara mereka satu sama lain dalam waktu dekat.

“Kami berkomitmen melanjutkan konsultasi untuk menyelesaikan semua perbedaan antara Teheran dan Riyadh. Jika ada kebutuhan meningkatkan tingkat dialog dan kami berhasil mencapai kesepakatan, maka kami tidak memiliki batasan dalam hal ini,” kata Juru Bicara Pemerintah Iran, Ali Rabii, dalam konferensi pers pekanan.

Rabii menekankan, Iran selalu menyambut dialog untuk mencapai hasil positif. “Kami berharap dapat terlibat dalam negosiasi positif dengan Arab Saudi,” ujarnya.

Hubungan Iran dan Saudi yang sudah lama rapuh kian retak sejak awal 2016. Hal itu terjadi setelah kedutaan besar Saudi di Teheran digeruduk. Kala itu, rakyat Iran tengah menggelar demonstrasi memprotes keputusan Saudi mengeksekusi ulama Syiah terkemuka, Nimr Al-Nimr, dan tahanan lainnya.

Kedua negara pun berseberangan dalam isu konflik Yaman. Saudi menuding Iran mendukung terorisme dan mengancam kapal-kapal di kawasan Teluk.

Sedangkan berita di laman Aljazirah, 22 Juni silam menyebutkan, Saudi akan menilai Raisi berdasarkan “kenyataan di lapangan”. Hal ini diungkap Menteri Luar Negeri Saudi Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud.

“Dari perspektif kami, kebijakan luar negeri Iran dalam hal apapun ditentukan oleh pemimpin tertinggi mereka dan karenanya kami menetapkan interaksi dan pendekatan kami kepada Iran berdasarkan kenyataan di lapangan. Itulah cara kami menilai pemerintahan baru (Iran), terlepas dari siapapun yang memimpin,” ujarnya.

Ingin berdialog

Presiden Raisi mengungkapkan, dialog dengan negara-negara tetangga di kawasan Timur Tengah akan menjadi prioritas pemerintahan barunya. Hal itu disampaikan saat dia melakukan percakapan via telepon dengan Sultan Oman Haitham bin Tarik Al Said pada Sabtu.

Dikutip laman kantor berita Iran, Islamic Republic News Agency (IRNA), dalam percakapan dengan Sultan Haitham, Raisi mengapresiasi hubungan bilateral kedua negara. Raisi menyebut, perluasan hubungan Iran-Oman dapat dicapai berkat kepercayaan politik timbal balik antara kedua negara.

Menurutnya, tidak ada perkembangan regional maupun internasional yang dapat merusak persahabatan atau hubungan kedua negara.

Pada kesempatan itu, Raisi juga menggambarkan Iran sebagai mitra yang dapat diandalkan. Terkait hal tersebut, dia berpendapat bahwa dialog, internaksi, konsultasi, dan simpati dengan negara-negara tetangga di kawasan merupakan isu penting. Hal itu akan menjadi prioritas bagi Iran.

Sementara itu Sultan Haitham mengutarakan harapannya agar Raisi dapat memimpin pemerintahan barunya dengan baik dan sukses. Ia pun mengapresiasi hubungan bilateral Iran dan Oman. Menurutnya, salah satu faktor terpenting dalam kedekatan kedua negara adalah kepercayaan politik timbal balik.

Sultan Haitham berharap hubungan bilateral Iran dan Oman dapat terus dipererat. Sebab hal itu akan menghasilkan lebih banyak keuntungan bagi kedua negara. [yy/republika]

 

 

Tags: Saudi | Iran