5 Jumadil-Awal 1443  |  Kamis 09 Desember 2021

basmalah.png

Marah pada Taliban, Gadis-gadis Afghanistan Angkat Senjata

Marah pada Taliban, Gadis-gadis Afghanistan Angkat Senjata

Fiqhislam.com - Para gadis Afghanistan telah mengangkat senjata di daerah-daerah yang diperebutkan pasukan pemerintah dengan kelompok Taliban. Para gadis itu marah pada Taliban yang meraih kemenangan di beberapa wilayah seiring dengan penarikan militer Amerika Serikat (AS).

AS melanjutkan penarikan pasukannya, sesuai dengan tenggat waktu yang dijanjikan Presiden Biden, yakni 11 September. Tenggat waktu itu dimajukan lagi menjadi 31 Agustus. Pasukan Afghanistan kini nyaris berjuang sendiri untuk melawan kelompok Taliban.

Pasukan pemerintah telah ditarik dari tujuh distrik, memusatkan pasukan dan sumber daya di sekitar ibu kota provinsi Badakhshan.

Sebagai tanggapan, ratusan gadis dan wanita turun ke jalan membawa senjata dan memprotes Taliban.

“Ada beberapa perempuan yang hanya ingin menginspirasi pasukan keamanan, hanya simbolis, tetapi lebih banyak lagi yang siap turun ke medan perang,” kata Halima Parastish, kepala direktorat perempuan di Ghor. "Itu termasuk diri saya."

"Saya dan beberapa wanita lain memberi tahu gubernur sekitar sebulan yang lalu bahwa kami siap untuk pergi dan bertarung," kata Parastish.

Taliban telah memberlakukan pembatasan ketat terhadap hak-hak perempuan di wilayah yang mereka kuasai, termasuk pendidikan, kebebasan bergerak dan pakaian. Demikian klaim para aktivis dan penduduk setempat.

Para wanita telah bergabung dengan pasukan keamanan negara itu selama dua dekade terakhir, termasuk pelatihan sebagai pilot helikopter, meskipun mereka menghadapi diskriminasi serupa yang ada di negara lain yang mencegah wanita bertugas di garis depan.

Abdulzahir Faizzada, gubernur provinsi Ghor, mengatakan kepada The Guardian bahwa beberapa wanita yang memprotes Taliban telah melibatkan mereka dalam pertempuran dan mengalami kekerasan di tangan mereka.

"Mayoritas wanita ini adalah mereka yang baru saja melarikan diri dari daerah [yang direbut] Taliban," kata Faizzada. "Mereka sudah melalui perang di desa mereka, mereka kehilangan putra dan saudara mereka, mereka marah."

Faizzada mendukung upaya untuk melatih perempuan yang kurang berpengalaman dengan senjata, tetapi hanya jika pemerintah di Kabul menyetujuinya.

Mantan Presiden AS George W Bush memperingatkan pada bulan April bahwa keputusan untuk menarik pasukan dari negara itu akan memberikan peluang kepada Taliban yang ia harap tidak akan disesali AS.

"Reaksi pertama saya adalah, wow, gadis-gadis ini akan mendapat masalah nyata dengan Taliban," kata Bush. "Banyak keuntungan telah dibuat, jadi saya sangat prihatin dengan nasib perempuan dan anak perempuan di negara itu."

Dia menambahkan: "Saya pikir pemerintah berharap bahwa gadis-gadis itu akan baik-baik saja melalui diplomasi. Kami akan mencari tahu. Yang saya tahu adalah Taliban, ketika mereka menguasai tempat itu, mereka brutal."

Mantan Presiden Donald Trump memprakarsai rencana untuk menarik pasukan AS dari negara itu, berniat untuk menyelesaikan penarikan semua pasukan reguler pada Mei 2021. Presiden Biden mengubah garis waktu itu ketika ia menjabat.

Keputusan itu telah menuai kritik bipartisan, di mana para pendukung mengatakan penarikan pasukan AS hanya akan meningkatkan masalah di dalam negeri Afghanistan. Mantan Presiden Afghanistan Hamid Karzai mengeklaim bahwa ekstremisme berada pada "titik tertinggi" menjelang rencana penarikan pasukan AS dari negaranya dan bahwa AS telah gagal memenuhi janjinya. [yy/sindonews]

 

Marah pada Taliban, Gadis-gadis Afghanistan Angkat Senjata

Fiqhislam.com - Para gadis Afghanistan telah mengangkat senjata di daerah-daerah yang diperebutkan pasukan pemerintah dengan kelompok Taliban. Para gadis itu marah pada Taliban yang meraih kemenangan di beberapa wilayah seiring dengan penarikan militer Amerika Serikat (AS).

AS melanjutkan penarikan pasukannya, sesuai dengan tenggat waktu yang dijanjikan Presiden Biden, yakni 11 September. Tenggat waktu itu dimajukan lagi menjadi 31 Agustus. Pasukan Afghanistan kini nyaris berjuang sendiri untuk melawan kelompok Taliban.

Pasukan pemerintah telah ditarik dari tujuh distrik, memusatkan pasukan dan sumber daya di sekitar ibu kota provinsi Badakhshan.

Sebagai tanggapan, ratusan gadis dan wanita turun ke jalan membawa senjata dan memprotes Taliban.

“Ada beberapa perempuan yang hanya ingin menginspirasi pasukan keamanan, hanya simbolis, tetapi lebih banyak lagi yang siap turun ke medan perang,” kata Halima Parastish, kepala direktorat perempuan di Ghor. "Itu termasuk diri saya."

"Saya dan beberapa wanita lain memberi tahu gubernur sekitar sebulan yang lalu bahwa kami siap untuk pergi dan bertarung," kata Parastish.

Taliban telah memberlakukan pembatasan ketat terhadap hak-hak perempuan di wilayah yang mereka kuasai, termasuk pendidikan, kebebasan bergerak dan pakaian. Demikian klaim para aktivis dan penduduk setempat.

Para wanita telah bergabung dengan pasukan keamanan negara itu selama dua dekade terakhir, termasuk pelatihan sebagai pilot helikopter, meskipun mereka menghadapi diskriminasi serupa yang ada di negara lain yang mencegah wanita bertugas di garis depan.

Abdulzahir Faizzada, gubernur provinsi Ghor, mengatakan kepada The Guardian bahwa beberapa wanita yang memprotes Taliban telah melibatkan mereka dalam pertempuran dan mengalami kekerasan di tangan mereka.

"Mayoritas wanita ini adalah mereka yang baru saja melarikan diri dari daerah [yang direbut] Taliban," kata Faizzada. "Mereka sudah melalui perang di desa mereka, mereka kehilangan putra dan saudara mereka, mereka marah."

Faizzada mendukung upaya untuk melatih perempuan yang kurang berpengalaman dengan senjata, tetapi hanya jika pemerintah di Kabul menyetujuinya.

Mantan Presiden AS George W Bush memperingatkan pada bulan April bahwa keputusan untuk menarik pasukan dari negara itu akan memberikan peluang kepada Taliban yang ia harap tidak akan disesali AS.

"Reaksi pertama saya adalah, wow, gadis-gadis ini akan mendapat masalah nyata dengan Taliban," kata Bush. "Banyak keuntungan telah dibuat, jadi saya sangat prihatin dengan nasib perempuan dan anak perempuan di negara itu."

Dia menambahkan: "Saya pikir pemerintah berharap bahwa gadis-gadis itu akan baik-baik saja melalui diplomasi. Kami akan mencari tahu. Yang saya tahu adalah Taliban, ketika mereka menguasai tempat itu, mereka brutal."

Mantan Presiden Donald Trump memprakarsai rencana untuk menarik pasukan AS dari negara itu, berniat untuk menyelesaikan penarikan semua pasukan reguler pada Mei 2021. Presiden Biden mengubah garis waktu itu ketika ia menjabat.

Keputusan itu telah menuai kritik bipartisan, di mana para pendukung mengatakan penarikan pasukan AS hanya akan meningkatkan masalah di dalam negeri Afghanistan. Mantan Presiden Afghanistan Hamid Karzai mengeklaim bahwa ekstremisme berada pada "titik tertinggi" menjelang rencana penarikan pasukan AS dari negaranya dan bahwa AS telah gagal memenuhi janjinya. [yy/sindonews]

 

Kuasai Kota Penting di Afghanistan Barat

Taliban Makin Berani, Kuasai Kota Penting di Afghanistan Barat


Fiqhislam.com - Taliban telah memasuki kota penting di Afghanistan barat saat mereka melanjutkan kemajuan pesat sebelum pasukan NATO hengkang.

“Semua pejabat pemerintah di Qala-e-Naw, ibu kota provinsi Badghis, telah dipindahkan ke pangkalan militer terdekat,” ungkap gubernur setempat kepada BBC.

Dia mengatakan, “Gerilyawan Taliban bergerak menuju pusat kota dan terjadi pertempuran sengit dengan pasukan pemerintah.”

Taliban untung besar saat Amerika Serikat (AS), Inggris dan sekutunya mundur setelah 20 tahun bercokol di sana.
Sebagian besar pasukan asing yang tersisa di Afghanistan telah pergi sebelum batas waktu 11 September, meninggalkan militer Afghanistan sendirian bertanggung jawab penuh atas keamanan.

Sumber-sumber lokal mengatakan kepada BBC bahwa Taliban mendatangi penjara di Qala-e-Naw dan membebaskan sekitar 400 narapidana, termasuk lebih dari 100 pejuang Taliban.

Pasukan Afghanistan yang menjaga penjara dilaporkan telah menyerah tanpa perlawanan.

Gubernur Hisamudin Shams mengatakan dia melihat Taliban di distrik Qala-e-Naw tempat dia tinggal, dan markas dinas intelijen telah dibakar.

Namun dia membantah laporan kota itu telah jatuh ke tangan Taliban, dan mengatakan pasukan Afghanistan mempertahankannya.

Gubernur mengatakan kepada Reuters bahwa Taliban menyerang kota dari tiga arah di pagi hari.

Pejabat lokal lainnya mengatakan ada kepanikan di antara warga. Kemudian, para pejabat mengatakan pasukan khusus telah dikerahkan melawan pejuang Taliban dan serangan udara sedang dilakukan.

Taliban telah merebut lusinan distrik dalam beberapa pekan terakhir dan sekarang diperkirakan menguasai sekitar sepertiga dari negara itu, membuat keuntungan baru setiap hari.

Sejauh ini ibu kota provinsi tetap berada di bawah kendali pemerintah.

Di bawah kesepakatan dengan Taliban, AS dan sekutu NATO-nya setuju menarik semua pasukan sebagai imbalan atas komitmen militan untuk tidak mengizinkan kelompok ekstremis beroperasi di daerah yang mereka kuasai.

Tetapi Taliban tidak setuju berhenti memerangi pasukan Afghanistan, yang kemampuannya untuk menahan para pemberontak masih dipertanyakan.

Para pejabat militer di Kabul telah berbicara tentang "mundur taktis" setiap kali pemberontak memperoleh keuntungan, tetapi para komandan di medan perang mengatakan kepada BBC tentang kurangnya amunisi, dan keterlambatan dalam pengiriman dukungan. [yy/sindonews]