22 Rabiul-Akhir 1443  |  Sabtu 27 Nopember 2021

basmalah.png

Taliban Senang Seluruh Pasukan AS dan NATO Tinggalkan Bagram

Taliban Senang Seluruh Pasukan AS dan NATO Tinggalkan Bagram

Fiqhislam.com - Taliban mengatakan mereka menyambut baik dan mendukung keluarnya semua pasukan Amerika Serikat (AS) dan NATO dari Pangkalan Udara Bagram Afghanistan, sebuah tanda penarikan terakhir pasukan asing dari negara itu.

"Penarikan penuh mereka (dari Afghanistan) akan membuka jalan bagi warga Afghanistan untuk memutuskan masa depan mereka di antara mereka sendiri," kata juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid seperti dikutip dari Al Araby, Sabtu (3/7/2021).

Seorang pejabat pertahanan AS mengkonfirmasi kepergian mereka, sementara Taliban mengatakan pihaknya menyambut baik dan mendukung fase terakhir penarikan pasukan itu.

Militer AS dan NATO sedang dalam tahap akhir untuk mengakhiri keterlibatannya di Afghanistan, membawa pulang sejumlah pasukan yang tersisa dengan batas waktu 11 September.

Taliban telah melancarkan serangan tanpa henti di seluruh Afghanistan dalam dua bulan terakhir, melahap lusinan distrik ketika pasukan keamanan Afghanistan sebagian besar telah mengkonsolidasikan kekuatan mereka di daerah perkotaan utama negara itu.

Kemampuan pasukan Afghanistan untuk mempertahankan kendali lapangan udara Bagram kemungkinan akan terbukti sangat penting untuk menjaga keamanan di Kabul dan menjaga tekanan pada Taliban.

"Keluarnya pasukan asing dari pangkalan Bagram melambangkan bahwa Afghanistan sendirian, ditinggalkan, dan dibiarkan mempertahankan diri dari serangan Taliban," kata pakar Afghanistan yang berbasis di Australia, Nishank Motwani.

"Setelah sampai di rumah, pasukan Amerika dan sekutunya sekarang akan menyaksikan apa yang mereka perjuangkan dengan susah payah untuk dibangun selama 20 tahun terbakar dari jauh dan mengetahui bahwa pria dan wanita Afghanistan yang mereka perjuangkan berisiko kehilangan segalanya," imbuhnya.

Laporan media mengatakan Pentagon mungkin akan mempertahankan sekitar 600 tentara AS di Afghanistan untuk menjaga kompleks diplomatik AS yang luas di Kabul.

Warga Bagram mengatakan keamanan hanya akan memburuk dengan keluarnya pasukan asing.

"Situasinya sudah kacau...ada banyak ketidakamanan dan pemerintah tidak memiliki (cukup) senjata dan peralatan," kata Matiullah, yang memiliki toko alas kaki di bazaar Bagram.

"Sejak mereka mulai penarikan, situasinya semakin buruk. Tidak ada pekerjaan ... tidak ada bisnis," kata Fazal Karim, seorang mekanik sepeda.

Selama bertahun-tahun kota mini itu telah dikunjungi oleh ratusan ribu anggota militer serta kontraktor AS dan NATO.

Pada satu titik kota itu membanggakan kolam renang, bioskop dan spa - dan bahkan jalan kayu yang menampilkan gerai makanan cepat saji seperti Burger King dan Pizza Hut.

Pangkalan itu juga menampung sebuah penjara yang menampung ribuan tahanan Taliban dan teroris.

Bagram dibangun oleh Amerika Serikat untuk sekutu Afghanistannya selama Perang Dingin pada 1950-an sebagai benteng melawan Uni Soviet di utara.

Ironisnya, pangkalan itu menjadi titik awal invasi Soviet ke negara itu pada tahun 1979, dan Tentara Merah memperluasnya secara signifikan selama pendudukan selama hampir satu dekade.

Ketika Moskow menarik diri, Bagram menjadi pusat perang saudara yang berkecamuk. Dilaporkan bahwa pada satu titik Taliban menguasai salah satu ujung landasan pacu tiga kilometer dan pihak oposisi Aliansi Utara di ujung lainnya.

Dalam beberapa bulan terakhir, Bagram berada di bawah serangan roket yang diklaim oleh Negara Islam, menimbulkan kekhawatiran bahwa gerilyawan sudah mengincar pangkalan itu untuk serangan di masa depan.

Pada Mei 2021, ada sekitar 9.500 tentara asing di Afghanistan, di mana pasukan AS merupakan kontingen terbesar dengan 2.500.

Sejauh ini Jerman dan Italia telah mengkonfirmasi penarikan penuh kontingen mereka. [yy/sindonews]