5 Jumadil-Awal 1443  |  Kamis 09 Desember 2021

basmalah.png

Biden Perintahkan Serangan ke Fasilitas Milisi Pro Iran

Biden Perintahkan Serangan ke Fasilitas Milisi Pro Iran

Fiqhislam.com - Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) telah melakukan "serangan udara presisi defensif", menargetkan fasilitas yang diduga digunakan oleh kelompok milisi pro-Iran di perbatasan Irak-Suriah. Serangan udara dilakukan atas perintah Presiden AS Joe Biden.

"Atas arahan Presiden Biden, pasukan militer AS malam ini melakukan serangan udara presisi defensif terhadap fasilitas yang digunakan oleh kelompok milisi yang didukung Iran di wilayah perbatasan Irak-Suriah. Target dipilih karena fasilitas ini digunakan oleh milisi yang didukung Iran yang terlibat dalam serangan kendaraan udara tak berawak (UAV) terhadap personel dan fasilitas AS di Irak," kata Pentagon dalam sebuah pernyataan, dilansir Sputnik News, Senin (28/6).

Pentagon menambahkan, secara khusus serangan AS menargetkan fasilitas operasional dan penyimpanan senjata di dua lokasi di Suriah. Lokasi pertama di Irak, dan lokasi kedua terletak dekat dengan perbatasan antara negara-negara tersebut. Menurut Pentagon, beberapa kelompok milisi yang didukung Iran, termasuk Kata'ib Hezbollah (KH) dan Kata'ib Sayyid al-Shuhada (KSS), menggunakan fasilitas ini.

Televisi pemerintah Suriah melaporkan bahwa, serangan udara AS di provinsi timur Suriah, Deir ez-Zor, kemungkinan menyebabkan seorang anak tewas dan tiga lainnya terluka. Menurut seorang koresponden penyiar Al-Ikhbariya, jet militer yang kemungkinan besar milik AS menyerang bangunan tempat tinggal di dekat kota Al Bukamal.

Menurut Military.com yang mengutip seorang pejabat Pentagon, serangan udara di wilayah tersebut dilakukan oleh pesawat tempur F-15 dan F-16 dengan menggunakan peluru presisi tinggi. Pesawat tempur itu dilaporkan terbang dari pangkalan AS di Timur Tengah dan kembali dengan selamat setelah operasi selesai. Sumber itu menambahkan bahwa masih terlalu dini untuk mengatakan apakah ada militan atau warga sipil yang tewas atau terluka dalam serangan itu.

Juru bicara Pentagon Jessica McNulty mengatakan, militer AS berasumsi bahwa setiap serangan telab mencapai target dan menakar konsekuensinya. Dia juga menekankan bahwa sejak April, militan yang didukung Iran telah melakukan setidaknya lima serangan pesawat tak berawak terhadap fasilitas AS dan pasukan koalisi. McNulty juga mengatakan bahwa, AS sebelumnya telah mengirim pemberitahuan kepada sekutu dan mitranya tentang serangan udara tersebut.

Serangan udara itu terjadi tepat setelah konsulat AS di Erbil, Kurdistan Irak, mengonfirmasi bahwa tiga drone bermuatan bahan peledak menghantam lokasi di timur laut kota pada Sabtu (26/6). Serangan drone itu terjadi bertepatan ketika Popular Mobilization Units (PMU) yang didukung Iran dan menentang kehadiran militer AS di Irak, sedang mengadakan parade militer di dekat Baghdad.

Sebelumnya pada 20 Juni, sebuah rudal mendarat di dekat pangkalan udara Ayn Al Asad di provinsi Anbar, Irak barat. Menurut juru bicara senior militer Irak, Ayn Al Asad merupakan satu-satunya pangkalan udara di Irak yang menjadi markas pasukan koalisi pimpinan AS.

Lonjakan serangan yang dilakukan oleh kelompok militer yang didanai, dan didukung oleh Teheran telah memicu kekhawatiran atas jangkauan Iran di Timur Tengah untuk melawan musuh regional utamanya, seperti Arab Saudi dan Israel. Israel telah melakukan banyak serangan udara di Suriah, dan menargetkan kelompok militan yang didukung Iran. Amerika Serikat telah berulang kali menyatakan komitmennya terhadap keamanan Israel. [yy/republika]