27 Dzulhijjah 1442  |  Jumat 06 Agustus 2021

basmalah.png

Ebrahim Raisi Jadi Presiden Iran Dinilai Pukulan untuk HAM

Ebrahim Raisi Jadi Presiden Iran Dinilai Pukulan untuk HAM

Fiqhislam.com - Kelompok hak asasi manusia (HAM) Amnesty International dan Human Rights Watch (HRW) mengatakan terpilihnya Ebrahim Raisi sebagai presiden baru Iran merupakan pukulan bagi HAM. Mereka menyerukan agar Raisi diselidiki atas perannya dalam eksekusi di luar hukum terhadap ribuan tahanan politik pada 1988.

“Bahwa Ebrahim Raisi telah naik ke kursi kepresidenan alih-alih diselidiki atas kejahatan terhadap kemanusiaan pembunuhan, penghilangan paksa, dan penyiksaan, adalah pengingat suram bahwa impunitas berkuasa di Iran,” kata Sekretaris Jenderal Amnesty International Agnes Callamard pada Sabtu (19/6).

Dia menilai, keterlibat Raisi dalam kasus-kasus terkait tak dapat dibiarkan. “Kami terus menyerukan agar Ebrahim Raisi diselidiki atas keterlibatannya dalam kejahatan masa lalu dan yang sedang berlangsung di bawah hukum internasional, termasuk oleh negara-negara yang menjalankan yurisdiksi universal,” ujarnya.

HRW turut menyerukan hal serupa. "Pihak berwenang Iran membuka jalan bagi Ebrahim Raisi untuk menjadi presiden melalui penindasan dan pemilihan yang tidak adil," kata Wakil Direktur HRW untuk Timur Tengah Michael Page dalam sebuah pernyataan.

“Sebagai kepala peradilan represif Iran, Raisi mengawasi beberapa kejahatan paling keji dalam sejarah Iran baru-baru ini, yang pantas diselidiki dan dipertanggungjawabkan daripada pemilihan ke jabatan tinggi,” kata Page menambahkan.

Ebrahim Raisi memenangkan pemilihan presiden Iran pada Sabtu. Dia menghimpun 62 persen suara. Dari 28,6 juta surat suara terhitung, sebanyak 17,8 juta di antaranya memilih Raisi. Sementara pesaingnya, Mohsen Rezai meraih 3,3 juta suara. Ucapan selamat pun mengalir untuk Raisi.

Meski dikalahkan, Rezai tetap mengucapkan selamat kepada Raisi. Dia berharap Raisi dapat membangun pemerintahan yang kuat dan populer guna menyelesaikan berbagai masalah Iran. Kandidat capres lainnya, yakni Amirhossein Ghazizadeh menyampaikan hal serupa.

Satu-satunya tokoh reformis yang turut berpartisipasi dalam pilpres Iran, yakni Abdolnasser Hemmati, turut mengucapkan selamat kepada Raisi. Sementara Presiden Iran Hassan Rouhani menyampaikan selamat kepada rakyat Iran. “Saya mengucapkan selamat kepada rakyat atas pilihan mereka. Ucapan selamat resmi saya akan menyusul, tapi kita tahu siapa yang mendapat cukup suara dalam pemilihan ini dan siapa yang dipilih oleh rakyat,” kata Rouhani.

Rouhani diketahui tak diperkenankan berpartisipasi lagi dalam pilpres Iran. Sebab dia sudah menjabat sebagai presiden selama tiga periode. Beberapa tugas penting telah menunggu Raisi jika nanti dilantik. Hal itu terutama berkaitan dengan penanganan ekonomi yang kian memburuk akibat sanksi Amerika Serikat (AS) dan pandemi.

Raisi juga harus mengerahkan upaya untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir Iran tahun 2015 atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). JCPOA retak setelah mantan presiden AS Donald Trump menarik Washington dari kesepakatan tersebut. [yy/ihram]