30 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 05 Desember 2021

basmalah.png

Ebrahim Raisi Dijuluki "Algojo Sadis" Dipastikan Menjadi Presiden Baru Iran

Ebrahim Raisi Dijuluki "Algojo Sadis" Dipastikan Menjadi Presiden Baru Iran

Fiqhislam.com - Ebrahim Raisi , 60, yang dijuluki "algojo sadis" dipastikan menjadi presiden baru Iran setelah perolehan suaranya mengalahkan tiga calon presiden (capres) lainnya. Mantan presiden Mahmoud Ahmadinejad yang ditolak pencalonannya dalam pemilihan presiden (pilpres) mengaku golput atau tidak memilih.

"Saya tidak ingin mengambil bagian dalam dosa ini," kata Ahmadinejad dalam pesan video yang dikutip Al Jazeera, Sabtu (19/6/2021).

Ahmadinejad, politisi populis, menjadi salah satu dari banyak kandidat yang dilarang mencalonkan diri oleh Dewan Wali dan ahli hukum.

Ebrahim Raisi, ulama garis keras yang menjabat sebagai kepala kehakiman Iran adalah sekutu dekat Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Kementerian Dalam Negeri Iran mengatakan perolehan suara Raisi telah memimpin tak tergoyahkan dalam pilpres ke-13 setelah 90 persen suara dihitung. Raisi akan menggantikan Presiden Hassan Rouhani yang telah berkuasa dua periode.

Raisi menerima lebih dari 17,8 juta dari 28,6 juta suara yang telah dihitung. Namun para pejabat Iran tidak merilis angka partisipasi pemilu yang berlangsung hari Jumat kemarin.

Tiga dari empat capres mengakui kekalahan dari Raisi.

Capres Mohsen Rezaei, mantan panglima tertinggi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), menerima lebih dari 3,3 juta suara.

Capres moderat Abdolnaser Hemmati, mantan kepala bank sentral meraih 2,4 juta suara, dan capres Amir Hossein Ghazizadeh Hashemi, anggota parlemen kubu konservatif, meraih lebih dari 1 juta suara.

Raisi dijuluki sebagai "algojo sadis" dan "jagal 1998" karena perannya sebagai anggota kunci dari apa yang disebut "Komisi Kematian", sebuah komisi yang memerintahkan ribuan orang untuk dibunuh dalam pembantaian tahun 1988.

Pada tahun 1980, pada usianya yang baru 20 tahun, Raisi diangkat menjadi jaksa pengadilan revolusioner Karaj, sebelah barat Teheran, dan pada tahun 1988 dia dipromosikan menjadi wakil jaksa Teheran.

Dia kemudian menjadi salah satu dari empat orang yang dipilih untuk melakukan pembantaian terhadap aktivis Organisasi Mujahidin Rakyat Iran (PMOI) yang dipenjara.

Sekitar 30.000 pria, wanita dan anak-anak yang ditahan di penjara-penjara di seluruh Iran berbaris di dinding dan ditembak hanya dalam beberapa bulan. Demikian kesaksikan orang-orang yang berjuang untuk menggulingkan rezim Iran saat ini.

Farideh Goudarzi sedang hamil delapan bulan ketika dia ditangkap oleh pihak berwenang di Iran atas dukungannya terhadap PMOI, yang juga dikenal sebagai Mujaheddin-e Khalq (MEK). Namun, terlepas dari kondisinya, dia mengatakan kepada The Sun bahwa dia tidak luput dari siksaan yang mengerikan dan brutal yang biasa dilakukan di Republik Islam Iran pada waktu itu.

Dia mengatakan pertama kali dia menemukan Raisi yang brutal adalah ketika dia diseret ke ruang penyiksaan gedung pengadilan pada usia 21 tahun pada musim panas 1983.

Menurutnya, Raisi, adalah salah satu dari tujuh pria yang ditugaskan untuk menyiksanya setelah dia ditahan.

Raisi juga menjadi salah satu pejabat Iran yang telah dijatuhi sanksi oleh Amerika Serikat (AS). Dia dikenal sebagai sosok anti-Amerika dan bagian dari kelompok yang kerap menjuluki Amerika sebagai "setan besar". [yy/sindonews]

 

Ebrahim Raisi Dijuluki "Algojo Sadis" Dipastikan Menjadi Presiden Baru Iran

Fiqhislam.com - Ebrahim Raisi , 60, yang dijuluki "algojo sadis" dipastikan menjadi presiden baru Iran setelah perolehan suaranya mengalahkan tiga calon presiden (capres) lainnya. Mantan presiden Mahmoud Ahmadinejad yang ditolak pencalonannya dalam pemilihan presiden (pilpres) mengaku golput atau tidak memilih.

"Saya tidak ingin mengambil bagian dalam dosa ini," kata Ahmadinejad dalam pesan video yang dikutip Al Jazeera, Sabtu (19/6/2021).

Ahmadinejad, politisi populis, menjadi salah satu dari banyak kandidat yang dilarang mencalonkan diri oleh Dewan Wali dan ahli hukum.

Ebrahim Raisi, ulama garis keras yang menjabat sebagai kepala kehakiman Iran adalah sekutu dekat Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Kementerian Dalam Negeri Iran mengatakan perolehan suara Raisi telah memimpin tak tergoyahkan dalam pilpres ke-13 setelah 90 persen suara dihitung. Raisi akan menggantikan Presiden Hassan Rouhani yang telah berkuasa dua periode.

Raisi menerima lebih dari 17,8 juta dari 28,6 juta suara yang telah dihitung. Namun para pejabat Iran tidak merilis angka partisipasi pemilu yang berlangsung hari Jumat kemarin.

Tiga dari empat capres mengakui kekalahan dari Raisi.

Capres Mohsen Rezaei, mantan panglima tertinggi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), menerima lebih dari 3,3 juta suara.

Capres moderat Abdolnaser Hemmati, mantan kepala bank sentral meraih 2,4 juta suara, dan capres Amir Hossein Ghazizadeh Hashemi, anggota parlemen kubu konservatif, meraih lebih dari 1 juta suara.

Raisi dijuluki sebagai "algojo sadis" dan "jagal 1998" karena perannya sebagai anggota kunci dari apa yang disebut "Komisi Kematian", sebuah komisi yang memerintahkan ribuan orang untuk dibunuh dalam pembantaian tahun 1988.

Pada tahun 1980, pada usianya yang baru 20 tahun, Raisi diangkat menjadi jaksa pengadilan revolusioner Karaj, sebelah barat Teheran, dan pada tahun 1988 dia dipromosikan menjadi wakil jaksa Teheran.

Dia kemudian menjadi salah satu dari empat orang yang dipilih untuk melakukan pembantaian terhadap aktivis Organisasi Mujahidin Rakyat Iran (PMOI) yang dipenjara.

Sekitar 30.000 pria, wanita dan anak-anak yang ditahan di penjara-penjara di seluruh Iran berbaris di dinding dan ditembak hanya dalam beberapa bulan. Demikian kesaksikan orang-orang yang berjuang untuk menggulingkan rezim Iran saat ini.

Farideh Goudarzi sedang hamil delapan bulan ketika dia ditangkap oleh pihak berwenang di Iran atas dukungannya terhadap PMOI, yang juga dikenal sebagai Mujaheddin-e Khalq (MEK). Namun, terlepas dari kondisinya, dia mengatakan kepada The Sun bahwa dia tidak luput dari siksaan yang mengerikan dan brutal yang biasa dilakukan di Republik Islam Iran pada waktu itu.

Dia mengatakan pertama kali dia menemukan Raisi yang brutal adalah ketika dia diseret ke ruang penyiksaan gedung pengadilan pada usia 21 tahun pada musim panas 1983.

Menurutnya, Raisi, adalah salah satu dari tujuh pria yang ditugaskan untuk menyiksanya setelah dia ditahan.

Raisi juga menjadi salah satu pejabat Iran yang telah dijatuhi sanksi oleh Amerika Serikat (AS). Dia dikenal sebagai sosok anti-Amerika dan bagian dari kelompok yang kerap menjuluki Amerika sebagai "setan besar". [yy/sindonews]

 

Sanksi AS

Ebrahim Raisi Berada di Bawah Sanksi AS


Fiqhislam.com - Kandidat presiden Iran, Ebrahim Raisi, berpeluang untuk memenangkan pemilihan umum yang digelar Jumat (18/6). Raisi adalah seorang garis keras yang berada di bawah sanksi oleh Amerika Serikat (AS).

Raisi adalah seorang kritikus keras negara-negara Barat. Dia berada di bawah sanksi AS karena dugaan keterlibatan dalam eksekusi tahanan politik beberapa dekade lalu.

"Jika terpilih, Raisi akan menjadi presiden Iran pertama yang dikenai sanksi sebelum dia menjabat, dan berpotensi dikenai sanksi saat menjabat," kata analis Jason Brodsky dilansir al-Arabiya, Sabtu (19/6).

Brodsky mengatakan fakta itu dapat mengkhawatirkan Washington dan Iran liberal, terlebih fokus tajam Presiden AS Joe Biden adalah hak asasi manusia secara global. Raisi adalah seorang tokoh tingkat menengah dalam hierarki ulama Muslim Syiah Iran. Raisi diangkat oleh Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei sebagai kepala kehakiman pada 2019.

Beberapa bulan kemudian, AS menjatuhkan sanksi kepada Raisi atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia, termasuk eksekusi tahanan politik pada 1980-an dan penindasan kerusuhan pada 2009. Menurut kelompok hak asasi manusia, Raisi memiliki peran dalam peristiwa tersebut.

Iran tidak pernah mengakui eksekusi massal tersebut. Raisi tidak pernah secara terbuka menyampaikan bantahan atas tuduhan tentang perannya dalam eksekusi itu.

Kemenangan Raisi berpotensi mematikan kultur politik pragmatis seperti yang dilakukan Presiden Hassan Rouhani. Dia menghadapi banyak pekerjaan utama, seperti upaya untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir tahun 2015 dengan kekuatan Barat serta mengatasi tingginya kemiskinan akibat sanksi Amerika Serikat (AS). Para pejabat Iran serta ulama Syiah sadar nasib politik mereka bergantung pada penanganan ekonomi yang terus memburuk.

"Pemilu itu penting terlepas dari masalah dan masalah. Saya berharap kita tidak memiliki masalah itu sejak pemilihan," kata Rouhani setelah memberikan suaranya.

Jajak pendapat resmi menunjukkan jumlah pemilih dalam pemilihan umum kali ini turun menjadi 44 persen. Jumlah tersebut jauh lebih rendah daripada pemilihan sebelumnya. [yy/republika]

 

Putin Beri Selamat

Putin Beri Selamat Presiden Terpilih Iran


Fiqhislam.com - Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengucapkan selamat kepada Ebrahim Raisi karena terpilih sebagai presiden baru Iran. Putin menyatakan siap bekerja sama dengan pemerintahan terpilih.

“Putin berharap hubungan yang terus meningkat antara kedua belah pihak selama masa jabatan Raisi dalam perjalanan untuk memenuhi kepentingan kedua negara serta guna meningkatkan perdamaian dan keamanan regional,” kata Mehr News Agency dalam laporannya pada Sabtu (19/6).

Raisi memenangkan pemilihan presiden Iran setelah meraih 62 persen suara. Dari 28,6 juta surat suara terhitung, sebanyak 17,8 juta di antaranya memilih Raisi. Sementara pesaingnya, Mohsen Rezai meraih 3,3 juta suara. Ucapan selamat pun mengalir untuk Raisi.

Meski dikalahkan, Rezai tetap mengucapkan selamat kepada Raisi. Dia berharap Raisi dapat membangun pemerintahan yang kuat dan populer guna menyelesaikan berbagai masalah Iran.

Kandidat capres ultrakonservatif lainnya, yakni Amirhossein Ghazizadeh melakukan hal serupa. “Saya mengucapkan selamat, Raisi, dipilih oleh bangsa,” katanya melalui akun Twitter pribadinya, dikutip laman Al Arabiya.

Satu-satunya tokoh reformis yang turut berpartisipasi dalam pilpres Iran, yakni Abdolnasser Hemmati, turut mengucapkan selamat kepada Raisi. Sementara Presiden Iran Hassan Rouhani menyampaikan selamat kepada rakyat Iran.

“Saya mengucapkan selamat kepada rakyat atas pilihan mereka. Ucapan selamat resmi saya akan menyusul, tapi kita tahu siapa yang mendapat cukup suara dalam pemilihan ini dan siapa yang dipilih oleh rakyat,” kata Rouhani.

Rouhani diketahui tak diperkenankan berpartisipasi lagi dalam pilpres Iran. Sebab dia sudah menjabat sebagai presiden selama tiga periode. [yy/republika]