27 Dzulhijjah 1442  |  Jumat 06 Agustus 2021

basmalah.png

Ebrahim Raisi Dijuluki "Algojo Sadis" Dipastikan Menjadi Presiden Baru Iran

Ebrahim Raisi Dijuluki "Algojo Sadis" Dipastikan Menjadi Presiden Baru Iran

Fiqhislam.com - Ebrahim Raisi , 60, yang dijuluki "algojo sadis" dipastikan menjadi presiden baru Iran setelah perolehan suaranya mengalahkan tiga calon presiden (capres) lainnya. Mantan presiden Mahmoud Ahmadinejad yang ditolak pencalonannya dalam pemilihan presiden (pilpres) mengaku golput atau tidak memilih.

"Saya tidak ingin mengambil bagian dalam dosa ini," kata Ahmadinejad dalam pesan video yang dikutip Al Jazeera, Sabtu (19/6/2021).

Ahmadinejad, politisi populis, menjadi salah satu dari banyak kandidat yang dilarang mencalonkan diri oleh Dewan Wali dan ahli hukum.

Ebrahim Raisi, ulama garis keras yang menjabat sebagai kepala kehakiman Iran adalah sekutu dekat Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Kementerian Dalam Negeri Iran mengatakan perolehan suara Raisi telah memimpin tak tergoyahkan dalam pilpres ke-13 setelah 90 persen suara dihitung. Raisi akan menggantikan Presiden Hassan Rouhani yang telah berkuasa dua periode.

Raisi menerima lebih dari 17,8 juta dari 28,6 juta suara yang telah dihitung. Namun para pejabat Iran tidak merilis angka partisipasi pemilu yang berlangsung hari Jumat kemarin.

Tiga dari empat capres mengakui kekalahan dari Raisi.

Capres Mohsen Rezaei, mantan panglima tertinggi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), menerima lebih dari 3,3 juta suara.

Capres moderat Abdolnaser Hemmati, mantan kepala bank sentral meraih 2,4 juta suara, dan capres Amir Hossein Ghazizadeh Hashemi, anggota parlemen kubu konservatif, meraih lebih dari 1 juta suara.

Raisi dijuluki sebagai "algojo sadis" dan "jagal 1998" karena perannya sebagai anggota kunci dari apa yang disebut "Komisi Kematian", sebuah komisi yang memerintahkan ribuan orang untuk dibunuh dalam pembantaian tahun 1988.

Pada tahun 1980, pada usianya yang baru 20 tahun, Raisi diangkat menjadi jaksa pengadilan revolusioner Karaj, sebelah barat Teheran, dan pada tahun 1988 dia dipromosikan menjadi wakil jaksa Teheran.

Dia kemudian menjadi salah satu dari empat orang yang dipilih untuk melakukan pembantaian terhadap aktivis Organisasi Mujahidin Rakyat Iran (PMOI) yang dipenjara.

Sekitar 30.000 pria, wanita dan anak-anak yang ditahan di penjara-penjara di seluruh Iran berbaris di dinding dan ditembak hanya dalam beberapa bulan. Demikian kesaksikan orang-orang yang berjuang untuk menggulingkan rezim Iran saat ini.

Farideh Goudarzi sedang hamil delapan bulan ketika dia ditangkap oleh pihak berwenang di Iran atas dukungannya terhadap PMOI, yang juga dikenal sebagai Mujaheddin-e Khalq (MEK). Namun, terlepas dari kondisinya, dia mengatakan kepada The Sun bahwa dia tidak luput dari siksaan yang mengerikan dan brutal yang biasa dilakukan di Republik Islam Iran pada waktu itu.

Dia mengatakan pertama kali dia menemukan Raisi yang brutal adalah ketika dia diseret ke ruang penyiksaan gedung pengadilan pada usia 21 tahun pada musim panas 1983.

Menurutnya, Raisi, adalah salah satu dari tujuh pria yang ditugaskan untuk menyiksanya setelah dia ditahan.

Raisi juga menjadi salah satu pejabat Iran yang telah dijatuhi sanksi oleh Amerika Serikat (AS). Dia dikenal sebagai sosok anti-Amerika dan bagian dari kelompok yang kerap menjuluki Amerika sebagai "setan besar". [yy/sindonews]