30 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 05 Desember 2021

basmalah.png

12 Anggota Ikhwanul Muslimin Divonis Mati di Mesir

12 Anggota Ikhwanul Muslimin Divonis Mati di Mesir

Fiqhislam.com - Mahkamah Agung Mesir menguatkan hukuman mati untuk 12 anggota Ikhwanul Muslimin, mengakhiri persidangan terkait dengan pembunuhan massal 2013 oleh pasukan keamanan.

Seperti diberitakan kantor berita AFP, Selasa (15/6/2021), vonis mati, termasuk terhadap dua pemimpin senior Ikhwanul tersebut, secara efektif mengakhiri kasus yang dimulai dengan lebih dari 600 terdakwa setelah penggulingan presiden Mohamed Morsi oleh militer tahun 2013.

Menyusul penggulingan Morsi di tengah protes massa terhadap pemerintahannya, para pendukung Ikhwanul Muslimin melakukan aksi duduk besar-besaran di Lapangan Rabaa Al-Adawiya di Kairo timur untuk menuntut kembalinya kekuasaan Morsi.

Bulan berikutnya, pasukan keamanan menyerbu lapangan tersebut dan membunuh sekitar 800 orang dalam satu hari.

Pihak berwenang mengatakan pada saat itu bahwa para pengunjuk rasa bersenjata dan pembubaran paksa merupakan tindakan kontra-terorisme yang vital.

Ini menandai dimulainya tindakan keras terhadap kelompok Ikhwanul dan oposisi sekuler di Mesir.

Mereka yang dijatuhi hukuman mati pada hari Senin (14/6) waktu setempat divonis karena "mempersenjatai geng kriminal yang menyerang penduduk dan melawan polisi serta memiliki senjata api ... amunisi ... dan bahan pembuat bom," kata Mahkamah Agung (MA) dalam putusannya.

"Dakwaan lain termasuk membunuh polisi ... melawan pihak berwenang ... dan pendudukan dan perusakan properti publik", imbuh MA dalam putusannya.

Sumber pengadilan mengatakan bahwa mereka yang divonis mati termasuk tokoh senior Ikhwanul Muslimin Mohamed al-Beltagy dan Safwat Hegazy. Disebutkan bahwa putusan ini final dan tidak dapat diajukan banding.

Pejabat pengadilan Mesir mengatakan kepada AFP bahwa pengadilan juga mengurangi hukuman untuk 31 anggota Ikhwanul lainnya.

Sebelumnya, pada tahun 2018, pengadilan Mesir menjatuhkan hukuman mati kepada 75 terdakwa dan sisanya dengan berbagai hukuman penjara, termasuk 10 tahun penjara untuk putra Morsi, Osama.

Di Mesir, warga sipil yang dijatuhi hukuman mati akan dieksekusi dengan cara digantung. [yy/news.detik]

 

12 Anggota Ikhwanul Muslimin Divonis Mati di Mesir

Fiqhislam.com - Mahkamah Agung Mesir menguatkan hukuman mati untuk 12 anggota Ikhwanul Muslimin, mengakhiri persidangan terkait dengan pembunuhan massal 2013 oleh pasukan keamanan.

Seperti diberitakan kantor berita AFP, Selasa (15/6/2021), vonis mati, termasuk terhadap dua pemimpin senior Ikhwanul tersebut, secara efektif mengakhiri kasus yang dimulai dengan lebih dari 600 terdakwa setelah penggulingan presiden Mohamed Morsi oleh militer tahun 2013.

Menyusul penggulingan Morsi di tengah protes massa terhadap pemerintahannya, para pendukung Ikhwanul Muslimin melakukan aksi duduk besar-besaran di Lapangan Rabaa Al-Adawiya di Kairo timur untuk menuntut kembalinya kekuasaan Morsi.

Bulan berikutnya, pasukan keamanan menyerbu lapangan tersebut dan membunuh sekitar 800 orang dalam satu hari.

Pihak berwenang mengatakan pada saat itu bahwa para pengunjuk rasa bersenjata dan pembubaran paksa merupakan tindakan kontra-terorisme yang vital.

Ini menandai dimulainya tindakan keras terhadap kelompok Ikhwanul dan oposisi sekuler di Mesir.

Mereka yang dijatuhi hukuman mati pada hari Senin (14/6) waktu setempat divonis karena "mempersenjatai geng kriminal yang menyerang penduduk dan melawan polisi serta memiliki senjata api ... amunisi ... dan bahan pembuat bom," kata Mahkamah Agung (MA) dalam putusannya.

"Dakwaan lain termasuk membunuh polisi ... melawan pihak berwenang ... dan pendudukan dan perusakan properti publik", imbuh MA dalam putusannya.

Sumber pengadilan mengatakan bahwa mereka yang divonis mati termasuk tokoh senior Ikhwanul Muslimin Mohamed al-Beltagy dan Safwat Hegazy. Disebutkan bahwa putusan ini final dan tidak dapat diajukan banding.

Pejabat pengadilan Mesir mengatakan kepada AFP bahwa pengadilan juga mengurangi hukuman untuk 31 anggota Ikhwanul lainnya.

Sebelumnya, pada tahun 2018, pengadilan Mesir menjatuhkan hukuman mati kepada 75 terdakwa dan sisanya dengan berbagai hukuman penjara, termasuk 10 tahun penjara untuk putra Morsi, Osama.

Di Mesir, warga sipil yang dijatuhi hukuman mati akan dieksekusi dengan cara digantung. [yy/news.detik]

 

Pengadilan yang Tak Adil

Amnesty: Mesir Vonis Hukuman Mati Anggota Ikhwanul Muslimin dalam Pengadilan yang Tak Adil


Fiqhislam.com - Pengadilan sipil tertinggi Mesir pada Senin (14/6) menguatkan hukuman mati untuk 12 tokoh senior Ikhwanul Muslimin atas aksi tahun 2013 yang berakhir dengan pasukan keamanan membunuh ratusan pengunjuk rasa, kata sumber peradilan. Keputusan hukuman mati dilakukan dalam pengadilan massal yang dinilai sangat tidak adil, kutip Reuters.

Putusan itu, yang tidak dapat diajukan banding, berarti 12 tokoh tersebut bisa menghadapi eksekusi sambil menunggu persetujuan Presiden Abdul Fattah al-Sisi. Mereka termasuk Abdul Rahman Al-Bar, yang merupakan ulama terkemuka, Mohamed El-Beltagi, mantan anggota parlemen, dan Osama Yassin, mantan menteri.

Banyak tokoh Ikhwanul Muslimin telah dijatuhi hukuman mati dalam kasus lain yang terkait dengan kerusuhan yang mengikuti penggulingan presiden Ikhwanul Muslimin Mohamad Mursi pada tahun 2013, tetapi Pengadilan Kasasi memerintahkan pengadilan ulang.

Kelompok hak asasi telah mendokumentasikan peningkatan tajam dalam jumlah eksekusi di Mesir, dengan setidaknya 51 dilakukan sepanjang tahun ini menurut Amnesty International. “Alih-alih terus meningkatkan penggunaan hukuman mati dengan menegakkan hukuman mati menyusul vonis dalam pengadilan massal yang sangat tidak adil, pihak berwenang Mesir harus segera menetapkan moratorium resmi atas eksekusi,” kata Amnesty dalam sebuah pernyataan hari Selasa (15/6/2021).

Putusan pada Senin itu berkaitan dengan pengadilan massal ratusan tersangka yang dituduh melakukan pembunuhan dan hasutan kekerasan selama protes pro Ikhwanul Muslimin di alun-alun Rabaa al-Adawiya di Kairo dalam beberapa minggu setelah penggulingan Mursi.

Pada September 2018, pengadilan pidana Mesir menjatuhkan hukuman mati kepada 75 orang dan mengeluarkan hukuman penjara yang bervariasi untuk lebih dari 600 orang lainnya. Banyak terdakwa diadili secara in absentia (persidangan tanpa kehadiran terdakwa).

Empat puluh empat dari mereka yang dijatuhi hukuman mati mengajukan banding ke Pengadilan Kasasi. Tiga puluh satu hukuman diubah menjadi penjara seumur hidup, sementara hukuman mati ditegakkan untuk 12 orang lainnya.

Terdakwa terakhir, pemimpin senior Ikhwanul Muslimin Essam el-Erian, meninggal di penjara di Kairo pada Agustus 2020. Mursi, presiden pertama Mesir yang terpilih secara demokratis, meninggal di penjara pada 2019.

Pengadilan juga menguatkan hukuman penjara untuk banyak terdakwa lainnya termasuk hukuman seumur hidup untuk Mohamed Badie, pemimpin Ikhwanul Muslimin yang dilarang, dan hukuman penjara 10 tahun untuk putra Mursi, Osama, kata sumber pengadilan. [yy/hidayatullah]