30 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 05 Desember 2021

basmalah.png

Buku Sejarah di Sekolah Inggris Ditarik karena Dianggap Pro-Israel

Buku Sejarah di Sekolah Inggris Ditarik karena Dianggap Pro-Israel

Fiqhislam.com - Buku-buku sejarah untuk sekolah-sekolah di Inggris telah ditarik setelah muncul tuduhan buku itu lebih pro- Israel .

Ini adalah kedua kalinya buku pelajaran, yang diterbitkan perusahaan penerbitan pendidikan Pearson, telah ditarik dari peredaran.

Pada kesempatan pertama, pada 2019, buku-buku itu ditarik setelah kelompok pro-Israel mengklaim buku-buku itu dianggap memihak Palestina.

Pearson membuat perubahan pada buku teks itu setelah saran dari Dewan Deputi Yahudi Inggris dan Pengacara Inggris untuk Israel.

Kontroversi itu terjadi terkait buku teks “Conflict in the Middle East c1945-1995” diterbitkan pada 2016, dan “The Middle East: Conflict, Crisis and Change 1917-2012,” diterbitkan pada 2017.

Pada 2019, Federasi Zionis menyerukan pencabutan buku-buku itu dan Pearson menugaskan Parallel Histories, organisasi yang membantu siswa memahami konflik dari berbagai sudut pandang, untuk memeriksa kualitas dan keakuratannya.

Michael Davies, mantan guru sejarah dan pendiri Parallel Histories, mengatakan laporannya tidak menemukan bias keseluruhan.

Tetapi Dewan Deputi Yahudi Inggris dan Pengacara Inggris untuk Israel tetap menolak buku teks tersebut, mengklaim bahwa buku-buku itu “sangat bias terhadap Israel.”

Pearson menarik buku teks itu sambil berkonsultasi dengan kelompok pro-Israel mengenai perubahan tersebut.

Dalam satu kasus, Pengacara Inggris untuk Israel menentang penggambaran pembantaian Deir Yassin pada 1948 sebagai “salah satu kekejaman perang terburuk.”

Pengacara Inggris untuk Israel juga kecewa dengan kelalaian dari apa yang diklaimnya sebagai “perbaikan besar-besaran” dalam standar hidup orang-orang Palestina di wilayah-wilayah pendudukan di bawah kekuasaan Israel.

Setelah konsultasi, buku teks yang direvisi diperkenalkan kembali pada 2020, tetapi telah ditarik kembali setelah keluhan dari Komite Inggris untuk Universitas Palestina (Bricup).

Komite bekerja sama dengan Profesor John Chalcraft yang mengajar sejarah dan politik Timur Tengah di London School of Economics, dan Profesor James Dickins dari fakultas bahasa Arab di University of Leeds, untuk membandingkan edisi terbaru dari buku teks itu dengan edisi lama.

Chalcraft dan Dickins menghasilkan laporan yang mencantumkan hampir 300 revisi buku teks. Mereka menemukan sebagian besar suntingan mendukung perspektif pro-Israel.

“Revisi secara konsisten meremehkan dan menjelaskan kekerasan oleh Yahudi dan Israel, sambil memperkuat dan membiarkan kekerasan oleh Arab dan Palestina yang tidak dapat dijelaskan,” papar laporan itu.

“Mereka telah memperpanjang atau meninggalkan laporan utuh tentang penderitaan Yahudi dan Israel, sambil mengecilkan dan mengedit beban penderitaan Arab dan Palestina,” ungkap laporan itu.

Chalcraft mengatakan periode sejarah ini harus dipelajari di sekolah-sekolah Inggris. "Ini sangat jelas terkait dengan masa kini dan sangat penting untuk mendidik orang melalui materi yang seimbang," papar dia.

Chalcraft dan Dickins mengatakan mereka berusaha keras bersikap objektif ketika membandingkan dua edisi, dengan Chalcraft menambahkan, “Saya seorang peneliti dan pendidik yang kredibel tentang masalah Israel dan Palestina, dan memenuhi syarat untuk mengomentari sejarah mereka.”

Chalcraft mengatakan sementara versi aslinya “cukup menggambarkan pemukim Yahudi sebagai mereka yang tinggal di pemukiman baru yang dibangun di Tepi Barat dan Gaza,” teks yang diperbarui mendefinisikan mereka sebagai orang Yahudi yang kembali ke desa-desa tempat mereka diusir pada tahun 1948.

“Definisi ini adalah omong kosong sehubungan dengan mayoritas pemukim Yahudi yang tidak diusir pada 1948,” ungkap dia.

“Di buku aslinya ada foto anak-anak mengarungi air limbah di Gaza, dan di versi baru hanya tertulis ‘anak-anak di Gaza’,” papar dia.

Pearson mengatakan sedang meninjau buku pelajaran itu sekali lagi. “Kami akan mengumpulkan pandangan yang lebih luas, dan kami akan mengambil tindakan jika ada lebih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk mendapatkan keseimbangan itu dengan benar,” papar juru bicara Pearson. [yy/sindonews]