30 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 05 Desember 2021

basmalah.png

Sekjen PBB: Jika Ada Neraka di Bumi, Itu Nyawa Anak-anak di Gaza

Sekjen PBB: Jika Ada Neraka di Bumi, Itu Nyawa Anak-anak di Gaza

Fiqhislam.com - Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengatakan dalam Majelis Umum PBB bahwa, “Jika ada Neraka di Bumi, itu adalah nyawa anak-anak di Gaza .”

Guterres menyerukan untuk "segera mengakhiri" pertempuran itu. Dia menyatakan, "Sangat terkejut dengan pemboman udara dan artileri oleh pasukan Israel di Gaza.”

Dia menambahkan, "Penembakan roket secara sembarangan oleh Hamas dan kelompok lain terhadap Israel tidak dapat diterima."

Adapun Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengesampingkan argumen "kedua belah pihak" untuk kekerasan yang sedang berlangsung di Israel dan Palestina.

Dia mempertahankan pendapat bahwa Israel adalah satu-satunya pihak yang bertanggung jawab.

Berbicara selama sesi Majelis Umum PBB tentang situasi di Israel dan Palestina, Cavusoglu mengatakan kesalahan harus dilimpahkan "di tempatnya".

"Israel sendirilah yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi hari ini di Yerusalem, Tepi Barat dan Gaza," tegas dia.

Tunisia, salah satu anggota Dewan Keamanan PBB, mengkritik Israel terkait pembunuhan anak-anak dalam serangannya di Jalur Gaza.

“Berapa banyak anak yang akan kehilangan nyawanya ?” ujar Menteri Luar Negeri Tunisia Othman Jerandi bertanya pada pertemuan darurat Majelis Umum PBB.

“Kejahatan apa yang bisa lebih buruk daripada membunuh anak-anak yang tidak bersalah, termasuk bayi?” tegas dia.

Wartawan di Gaza, Sami Abu Salem melaporkan dari Kota Gaza bahwa pemboman Israel sedang berlangsung saat malam menjelang di daerah kantong yang diblokade itu.

"Kami berada di kota Gaza, di sebelah markas besar PBB, (dan kami) mendengar jet tempur dan drone bergerak," ujar dia.

"Kami baru saja mendengar juga beberapa pemboman dari marinir Israel di sisi barat (Gaza)," papar dia. [yy/sindonews]

 

Sekjen PBB: Jika Ada Neraka di Bumi, Itu Nyawa Anak-anak di Gaza

Fiqhislam.com - Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengatakan dalam Majelis Umum PBB bahwa, “Jika ada Neraka di Bumi, itu adalah nyawa anak-anak di Gaza .”

Guterres menyerukan untuk "segera mengakhiri" pertempuran itu. Dia menyatakan, "Sangat terkejut dengan pemboman udara dan artileri oleh pasukan Israel di Gaza.”

Dia menambahkan, "Penembakan roket secara sembarangan oleh Hamas dan kelompok lain terhadap Israel tidak dapat diterima."

Adapun Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengesampingkan argumen "kedua belah pihak" untuk kekerasan yang sedang berlangsung di Israel dan Palestina.

Dia mempertahankan pendapat bahwa Israel adalah satu-satunya pihak yang bertanggung jawab.

Berbicara selama sesi Majelis Umum PBB tentang situasi di Israel dan Palestina, Cavusoglu mengatakan kesalahan harus dilimpahkan "di tempatnya".

"Israel sendirilah yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi hari ini di Yerusalem, Tepi Barat dan Gaza," tegas dia.

Tunisia, salah satu anggota Dewan Keamanan PBB, mengkritik Israel terkait pembunuhan anak-anak dalam serangannya di Jalur Gaza.

“Berapa banyak anak yang akan kehilangan nyawanya ?” ujar Menteri Luar Negeri Tunisia Othman Jerandi bertanya pada pertemuan darurat Majelis Umum PBB.

“Kejahatan apa yang bisa lebih buruk daripada membunuh anak-anak yang tidak bersalah, termasuk bayi?” tegas dia.

Wartawan di Gaza, Sami Abu Salem melaporkan dari Kota Gaza bahwa pemboman Israel sedang berlangsung saat malam menjelang di daerah kantong yang diblokade itu.

"Kami berada di kota Gaza, di sebelah markas besar PBB, (dan kami) mendengar jet tempur dan drone bergerak," ujar dia.

"Kami baru saja mendengar juga beberapa pemboman dari marinir Israel di sisi barat (Gaza)," papar dia. [yy/sindonews]

 

Apartheid

Presiden Afrika Selatan: Gambar dari Palestina Kuak Memori Buruk Apartheid


Fiqhislam.com - Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa mengatakan situasi di Gaza mengingatkannya pada kenangan buruk era apartheid di negaranya sendiri.

Pernyataan itu diungkapkan dia pada FRANCE 24. Tindakan Israel terhadap Palestina, katanya, membangkitkan ingatan tentang kejahatan apartheid yang dilakukan di Afrika Selatan di era pemerintahan kulit putih.

Dia menambahkan sementara Afrika Selatan mendukung Palestina, dia mendesak kedua belah pihak untuk duduk dan bernegosiasi.

Wawancara 18 menit dengan Ramaphosa itu dimulai dengan pertanyaan tentang pemboman Israel di Gaza dan kegagalan komunitas internasional meminta pertanggungjawaban Israel.

Pembahasan kemudian beralih ke berbagai tantangan yang dihadapi Afrika Selatan, termasuk Covid-19.

"Kami sebagai orang Afrika Selatan sangat prihatin karena gambaran yang kami lihat tentang orang yang dilarang bergerak; tentang orang yang rumahnya dihancurkan; orang yang diusir dari rumah mereka sebelum mereka dibom; tentang tentara Israel yang menganiaya orang, semuanya membawa kembali kenangan buruk tentang sejarah kami sendiri, dan apartheid," tutur dia dengan raut muka sedih.

“Ketika orang Afrika Selatan melihat gambar-gambar itu, mereka tidak bisa tidak memihak Palestina. Dukungan negara kami untuk rakyat Palestina didasarkan pada prinsip-prinsip," tutur dia.

Ramaphosa menggemakan temuan kelompok hak asasi manusia terkemuka yang menyimpulkan bahwa Israel bersalah melakukan kejahatan apartheid yang dianggap sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan sesuai hukum internasional.

Bulan lalu, laporan dari Human Rights Watch (HRW), bergabung dengan sejumlah kelompok terkemuka lainnya menyatakan Israel melakukan kejahatan apartheid dan penganiayaan.

Pada Januari, kelompok hak asasi manusia Israel B'Tselem mencatat, “Israel mempromosikan dan melanggengkan supremasi Yahudi antara Laut Mediterania dan Sungai Yordan."

Menurut laporan PBB 2017, Israel memang mempraktikkan apartheid.

Kelompok hak asasi B'Tselem menepis kesalahpahaman populer bahwa ada demokrasi di dalam Garis Hijau (Gencatan Senjata 1949). Artinya menurut B'Tselem, tak ada demokrasi di wilayah yang diduduki Israel saat ini, tapi hukum yang berlaku adalah apartheid. [yy/sindonews]

 

Pelanggaran HAM

Turki Bentuk Tim Selidiki Pelanggaran HAM Israel di Palestina


Fiqhislam.com - Komite Hak Asasi Manusia parlemen Turki pada Kamis (20/5) membentuk sub-komite untuk menyelidiki pelanggaran hak asasi manusia Israel di Palestina. Kepala Komite Hak Asasi Manusia Hakan Cavusoglu mengatakan parlemen Turki mengutuk keras serangan Israel di jalur Gaza yang menggugurkan ratusan warga Palestina.

"Kami menyuarakan hak-hak Palestina untuk tetap menjadi manusia dan hidup sebagai manusia. Kami sangat mengutuk agresi Israel yang tak terbatas dan berteriak kepada dunia bahwa kami tidak akan pernah menyetujui ini," ujar Cavusoglu dilansir Anadolu Agency, Jumat (21/5).

Cavusoglu juga mengatakan pelanggaran hak asasi manusia Israel harus dikutuk secara hukum dan moral. Ketua Parlemen Turki Mustafa Sentop menyambut pembentukan sub-komite tersebut. Dalam cuitannya di Twitter, Sentop berharap sub-komite itu dapat segera bekerja dan membeberkan hasil penyelidikan mereka ke publik.

"Saya berharap kerja yang sukses dalam waktu singkat," ujar Sentop.

Hamas mulai menembakkan roket ke Israel pada 10 Mei, sebagai pembalasan atas tindakan Israel yang merampas hak warga Palestina untuk beribadah di masjid al-Aqsa selama bulan ramadan. Selain itu, Israel juga telah mengusir paksa warga Palestina yang tinggal di wilayah Sheikh Jarrah.

Sejak saat itu, Hamas dan Israel saling melakukan serangan dengan intensitas tinggi. Sekitar 4.000 roket telah ditembakkan dari Gaza sejak 10 Mei. Sebagian besar dari tembakan roket itu telah dicegat oleh pertahanan rudal Israel. Konflik juga telah meluas ke perbatasan Israel-Lebanon dan memicu kekerasan di Tepi Barat yang diduduki.

Hampir 450 bangunan di Gaza yang berpenduduk padat telah hancur atau rusak parah, termasuk enam rumah sakit dan sembilan pusat kesehatan perawatan primer, dan lebih dari 52.000 warga Palestina telah mengungsi. Sedikitnya 21 warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki telah gugur dalam bentrokan dengan pasukan Israel. Sementara Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan, 227 warga Palestina telah gugur dalam serangan Israel termasuk 64 anak-anak dan 38 perempuan sejak 10 Mei. [yy/republika]