15 Jumadil-Akhir 1443  |  Selasa 18 Januari 2022

basmalah.png

BERITA INTERNASIONAL

Delhi Kehabisan Tempat untuk Kremasi, Mayat-mayat Makin Menumpuk

Delhi Kehabisan Tempat untuk Kremasi, Mayat-mayat Makin Menumpuk

Fiqhislam.com - Para pejabat di Delhi, India , terus didesak mencari lebih banyak tempat untuk kremasi karena kamar mayat dan krematorium kota dipenuhi semakin banyak jenazah Covid-19.

Gelombang kedua virus corona menyerang beberapa bagian India, dengan 386.452 kasus baru dilaporkan pada Kamis, peningkatan satu hari terbesar dalam catatan untuk negara mana pun di dunia.

Ada 3.500 kematian lainnya di penjuru negeri pada Kamis dan hampir 400 orang di Delhi, rekor tertinggi untuk ibu kota.

Jumlah total infeksi di negara itu kini telah melampaui 18 juta.

Pengiriman pertama pasokan medis darurat dari Amerika Serikat (AS) tiba pada Jumat, bagian dari apa yang dikatakan Gedung Putih akan bernilai lebih dari USD100 juta.

Tetapi pasokan oksigen dan tempat tidur rumah sakit tetap sangat terbatas di seluruh India, dengan kerabat pasien Covid memohon bantuan di media sosial.

Seorang petugas polisi senior Delhi mengatakan orang-orang harus mengkremasi anggota keluarga di krematorium yang tidak ditujukan untuk mengambil korban Covid-19.

"Itu sebabnya kami menyarankan lebih banyak krematorium harus didirikan," papar petugas itu kepada saluran berita NDTV.

Kementerian Kesehatan India merilis pedoman terperinci tahun lalu untuk penanganan dan kremasi orang yang telah meninggal karena Covid, dengan tindakan khusus perlu diambil untuk menghindari kemungkinan infeksi ulang.

Pemerintah pusat India menghadapi kritik yang meningkat atas penanganannya terhadap pandemi dan keputusannya mengizinkan kampanye pemilu skala besar dan festival keagamaan tetap berlangsung dalam beberapa pekan terakhir.

Menteri Kesehatan Harsh Vardhan membela pemerintah dengan mengatakan tingkat kematian negara itu adalah yang terendah di dunia dan bahwa pasokan oksigen "cukup".

Harsh Vardhan mengatakan kepada kantor berita ANI bahwa oksigen sekarang "tersedia dari banyak sumber", termasuk dari luar negeri, dan penyimpanan serta tanker kriogenik juga sedang disiapkan. [yy/sindonews]

 

Delhi Kehabisan Tempat untuk Kremasi, Mayat-mayat Makin Menumpuk

Fiqhislam.com - Para pejabat di Delhi, India , terus didesak mencari lebih banyak tempat untuk kremasi karena kamar mayat dan krematorium kota dipenuhi semakin banyak jenazah Covid-19.

Gelombang kedua virus corona menyerang beberapa bagian India, dengan 386.452 kasus baru dilaporkan pada Kamis, peningkatan satu hari terbesar dalam catatan untuk negara mana pun di dunia.

Ada 3.500 kematian lainnya di penjuru negeri pada Kamis dan hampir 400 orang di Delhi, rekor tertinggi untuk ibu kota.

Jumlah total infeksi di negara itu kini telah melampaui 18 juta.

Pengiriman pertama pasokan medis darurat dari Amerika Serikat (AS) tiba pada Jumat, bagian dari apa yang dikatakan Gedung Putih akan bernilai lebih dari USD100 juta.

Tetapi pasokan oksigen dan tempat tidur rumah sakit tetap sangat terbatas di seluruh India, dengan kerabat pasien Covid memohon bantuan di media sosial.

Seorang petugas polisi senior Delhi mengatakan orang-orang harus mengkremasi anggota keluarga di krematorium yang tidak ditujukan untuk mengambil korban Covid-19.

"Itu sebabnya kami menyarankan lebih banyak krematorium harus didirikan," papar petugas itu kepada saluran berita NDTV.

Kementerian Kesehatan India merilis pedoman terperinci tahun lalu untuk penanganan dan kremasi orang yang telah meninggal karena Covid, dengan tindakan khusus perlu diambil untuk menghindari kemungkinan infeksi ulang.

Pemerintah pusat India menghadapi kritik yang meningkat atas penanganannya terhadap pandemi dan keputusannya mengizinkan kampanye pemilu skala besar dan festival keagamaan tetap berlangsung dalam beberapa pekan terakhir.

Menteri Kesehatan Harsh Vardhan membela pemerintah dengan mengatakan tingkat kematian negara itu adalah yang terendah di dunia dan bahwa pasokan oksigen "cukup".

Harsh Vardhan mengatakan kepada kantor berita ANI bahwa oksigen sekarang "tersedia dari banyak sumber", termasuk dari luar negeri, dan penyimpanan serta tanker kriogenik juga sedang disiapkan. [yy/sindonews]

 

Masjid di India Jadi Bangsal

Bak Malaikat Penolong, Masjid di India Jadi Bangsal Perawatan COVID-19


Fiqhislam.com - Ketika rumah sakit dan fasilitas medis India kewalahan dengan lonjakan kasus COVID-19 baru-baru ini, berbagai organisasi dan warga Muslim membantu meringankan beban itu.

Mereka menawarkan pasokan oksigen dan ruang tempat tidur kepada pasien-pasien yang kritis.

India adalah negara kedua terparah terkena virus corona setelah Amerika Serikat (AS). India saat ini memiliki lebih dari 18,3 juta kasus dan 204.832 kematian, meskipun beberapa ahli yakin jumlah sebenarnya lebih besar.

Kementerian Kesehatan India mengumumkan rekor jumlah kasus positif dan kematian lainnya dalam 24 jam terakhir, dengan 379.257 kasus baru dan 3.645 kematian baru.

Arab News melaporkan kelompok Muslim telah mulai mengubah masjid-masjid menjadi fasilitas perawatan COVID-19 sementara, seperti masjid Jahangirpura di negara bagian barat, kota Vadodara Gujurat.

"Situasi COVID-19 di kota tidak baik dan orang-orang tidak mendapatkan tempat tidur di rumah sakit, jadi kami memutuskan membuka fasilitas untuk memberikan bantuan kepada orang-orang," ujar Irfan Sheikh, pengelola masjid.

"Dalam beberapa hari setelah pembukaan fasilitas, semua 50 tempat tidur terisi sehingga Anda bisa membayangkan tekanan seperti apa yang dialami rumah sakit," tutur Sheikh.

Menurut dia, masjid itu dapat menambah 50 tempat tidur lagi jika pasokan oksigen dapat diandalkan.

"Kami menghadapi kesulitan pasokan oksigen dan masjid telah membuka ruangnya untuk melayani umat manusia yang menderita," ungkap dia.

Masjid Darool Uloom di kota yang sama juga membuka pintunya yang menawarkan 142 tempat tidur dilengkapi oksigen serta 20 perawat dan tiga dokter di lokasi.

"Kami dapat membuat fasilitas COVID-19 1.000 tempat tidur, tetapi pasokan oksigen menjadi kendala," tutur Ashfaq Malek Tandalja, anggota komite pengelola masjid, kepada Arab News.

Gujurat, negara bagian asal Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi, adalah salah satu yang terkena dampak terparah di negara itu.

Negara bagian itu melaporkan hampir 1.500 kasus dan lebih dari 150 kematian pada Selasa. Otoritas lokal mengumumkan jam malam yang lebih ketat di tengah meningkatnya kasus di negara bagian itu.

Penulis India Arundhati Roy mengkritik penanganan Modi atas krisis virus corona dan perayaan "kemenangan" terlalu dini atas virus korona.

Roy menganggap kebijakan Modi dan dampaknya pada India saat ini sebagai "kejahatan langsung terhadap kemanusiaan."

"Sistem belum runtuh. Pemerintah telah gagal. Mungkin 'gagal' adalah kata yang tidak akurat, karena yang kita saksikan bukanlah kelalaian kriminal, tetapi kejahatan langsung terhadap kemanusiaan," tulis dia di Guardian. [yy/sindonews]

 

Patuhi Prokes

Agar Tidak Terjadi Tsunami COVID-19, Patuhi Prokes


Fiqhislam.com - Euforia vaksinasi di India diduga menjadi faktor penentu terjadinya peristiwa tsunami COVID-19 di negara itu. Hal ini disampaikan Prof. Dr. Drh. I Gusti Ngurah Kade Mahardika, Ahli Virologi Universitas Udayana Bali.

"Lingkup vaksinasi di India, sebenarnya juga masih berkisar di angka 7 persen dari jumlah penduduknya, euforia vaksinasi di sana masih dini. Jangan sampai ini terjadi di Indonesia, karena lingkup vaksinasi di Indonesia baru menyentuh angka sekitar 2,5 persen dari jumlah penduduk,” kata Mahardika, dalam Dialog Produktif bertema Belajar dari India Tingkatkan Kepatuhan Prokes Sekarang Juga yang diselenggarakan KPCPEN dan ditayangkan FMB9ID_IKP, Kamis (29/4/2021).

Mahardika mengatakan, penyebab pastinya dari peristiwa di India, belum diketahui seutuhnya. Namun, Indonesia harus bisa mengambil pelajaran dari peristiwa meningkatnya kasus di sana. Karena itu perlu dicegah dengan bersama-sama mematuhi protokol kesehatan 3M.

“Pelajaran yang harus kita pegang dari kejadian di India adalah, begitu kasus COVID-19 meningkat maka diikuti oleh meningkatnya fatalitas atau angka kematian. Apa yang terjadi di India masih belum pasti disebabkan oleh mutasi virus COVID-19 tapi kita belajar bahwa kerumunan, dan euforia vaksinasi menjadi faktor terbesar yang membuat terjadinya tsunami COVID-19 di India,” kata Mahardika.

Agoes Aufiya, Mahasiswa Indonesia di India menceritakan kondisi di India saat ini. “Dalam 24 jam terakhir, telah terkonfirmasi 379 ribu kasus baru sehingga angka kasus aktif mencapai 3 juta dengan kasus kematian mencapai 3.646. Kalau melihat laporan ketersediaan ruang ICU COVID-19 di New Delhi, dari 4.821 kamar yang ada, kini tersisa 18 ICU saja,” ujarnya.

KBRI di New Delhi telah memberikan imbauan kepada WNI yang berada di India untuk tetap di rumah saja, tetap mematuhi protokol kesehatan, dan memenuhi pasokan logistik agar tidak keluar rumah kalau tidak perlu. KBRI dan KJRI Mumbai memberikan nomor telepon darurat apabila ada WNI yang memerlukan bantuan atau asistensi untuk saat ini.

Saat ini New Delhi memasuki masa lockdownfase kedua yang sudah diperpanjang. “Lockdownsebelumnya dilakukan pada 20-26 April. Kini diperpanjang 27 April sampai 3 Mei 2021. Untuk keluar rumah ke tempat yang lebih jauh, perlu menggunakan izin tertentu dari pemerintah India,” terang Agoes.

Menurut Dr. Ede Surya Darmawan SKM., MDM, Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI, pandemi COVID-19 masih belum berakhir, oleh karena itu protokol kesehatan tidak boleh ditawar oleh masyarakat. Harapannya PSBB dan PPKM Mikro di Indonesia tetap berjalan.

“Konteks utama protokol kesehatan itu adalah menjaga jarak, ini artinya kita tidak boleh berkerumun sama sekali, kedua memakai masker, dan terakhir mencuci tangan setelah menyentuh apapun. Ini tanggung jawab kita bersama bukan kewajiban individu semata,” kata Ede. [yy/sindonews]