fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


26 Ramadhan 1442  |  Sabtu 08 Mei 2021

Kerap Berteriak Soal HAM, Kesetaraan Ras AS Ternyata Lebih Rendah dari China

Kerap Berteriak Soal HAM, Kesetaraan Ras AS Ternyata Lebih Rendah dari China

Fiqhislam.com - Sebuah survei global yang dilakukan oleh US News menunjukkan bahwa Amerika Serikat (AS) dipandang sebagai salah satu negara terburuk untuk kesetaraan rasial.

AS berada di antara 10 negara terbawah untuk kesetaraan rasial dalam laporan Negara Terbaik 2021. Ini adalah kumpulan peringkat dan analisis baru yang mencerminkan bagaimana negara-negara telah meningkatkan pentingnya mengatasi ketidaksetaraan rasial.

Peringkat Negara Terbaik 2021, dibentuk dalam kemitraan dengan BAV Group, unit perusahaan komunikasi pemasaran global VMLY & R, dan The Wharton School of the University of Pennsylvania, didasarkan pada studi yang mensurvei lebih dari 17.000 warga global dari empat wilayah untuk menilai persepsi dari 78 negara pada 76 metrik yang berbeda.

Peringkat kesetaraan rasial untuk negara dikembangkan menggunakan skor kesetaraan rasial yang diterima sebuah negara dan menghubungkannya dengan lebih dari 17.000 responden survei dalam survei Negara Terbaik yang setuju secara moderat atau kuat dengan pernyataan bahwa "Sebuah negara lebih kuat bila lebih bersifat rasial dan beragam etnis."

Belanda, Kanada, dan Selandia Baru masing-masing dipandang sebagai tiga negara teratas untuk kesetaraan ras.

Dikutip dari US News, Selasa (13/4/2021), dari 78 negara yang dinilai dalam laporan Negara Terbaik 2021, AS berada di peringkat 69, atau terburuk ke-10, untuk kesetaraan rasial.

"AS finis lebih rendah dari China , sebuah negara yang dikutuk oleh komunitas internasional dan menjatuhkan sanksi atas perlakuannya terhadap populasi Muslim Uighur ," tulis US News.

Pada November 2020, FBI mengumumkan bahwa kejahatan rasial di AS telah meningkat ke level tertinggi dalam lebih dari satu dekade.

"Sebuah jajak pendapat yang dirilis pada Oktober 2020 oleh nonpartisan Pew Research Center menunjukkan bahwa orang Amerika terbagi secara merata mengenai apakah peningkatan fokus pada ras dan ketidaksetaraan rasial akan menyebabkan perubahan kebijakan besar yang mengatasi ketidaksetaraan rasial," kata US News.

"Studi yang sama menunjukkan proporsi yang jauh lebih besar dari responden kulit hitam yang mengatakan bahwa mereka lebih memperhatikan masalah ras dan ketidaksetaraan ras daripada responden kulit putih," demikian bunyi laporanUS News.

Hasil survei ini muncul bertepatan dengan mencuatnya sentimen anti Asia.Pandemi virus Corona baru dan dugaan asalnya dari Wuhan, China, telah dikutip oleh para pelaku sebagai salah satu motif lonjakan diskriminasi anti-Asia di Amerika Serikat selama setahun terakhir.

Kejahatan kebencian terhadap Asia-Amerika telah melonjak selama empat tahun terakhir. Dari 19 Maret 2020 hingga 28 Februari 2021, ada lebih dari 3.795 insiden kebencian, termasuk pelecehan verbal dan penyerangan fisik, terhadap warga Asia-Amerika dan Kepulauan Pasifik di Amerika Serikat yang dilaporkan ke Stop AAPI Hate, sebuah organisasi nirlaba yang melacak insiden tersebut. [yy/sindonews]