fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


27 Ramadhan 1442  |  Minggu 09 Mei 2021

Fasilitas Nuklir Natanz Disabotase, Iran Bersumpah Balas Dendam ke Israel

Fasilitas Nuklir Natanz Disabotase, Iran Bersumpah Balas Dendam ke Israel

Fiqhislam.com - Pemerintah Iran menyalahkan Israel atas sabotase di fasilitas nuklir Natanz pada hari Minggu. Teheran pun bersumpah akan membalas dendam pada rezim Zionis.

Respons Teheran yang menyalahkan negara Yahudi itu disampaikan Menteri Luar Negeri Mohammad Javad Zarif, Senin (12/4/2021).

"Zionis ingin membalas dendam karena kemajuan kami dalam cara mencabut sanksi...mereka secara terbuka mengatakan bahwa mereka tidak akan mengizinkan ini. Tapi kami akan balaskan dendam kami dari Zionis," kata Zarif seperti dikutip oleh stasiun televisi pemerintah yang dilansir Sputniknews.

"Israel telah mengumumkan secara terbuka bahwa mereka tidak akan mengizinkan kami membuat kemajuan dalam mencabut pembatasan, dan mereka yakin telah berhasil di dalamnya," ujarnya.

Diplomat top Teheran itu menambahkan bahwa sebagai respons, negaranya akan mencapai terobosan baru dalam pengembangan nuklir.

Zarif melanjutkan dengan mengatakan bahwa tindakan sabotase di pembangkit listrik tenaga nuklir Natanz tidak akan melemahkan posisi Teheran dalam negosiasi.

"Pihak-pihak yang bernegosiasi [di Wina] harus tahu bahwa reaktor Natanz selanjutnya akan dilengkapi dengan sentrifugal canggih dengan kemampuan pengayaan [uranium] yang tinggi," imbuh Zarif.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh kemudian mengatakan bahwa serangan terhadap situs Natanz ditujukan untuk mempengaruhi negosiasi JCPOA, nama resmi untuk kesepakatan nuklir Iran 2015.

Menurut Khatibzadeh, sentrifugal pengayaan uranium IR-1 rusak dalam insiden tersebut.

"Jika serangan Natanz ditujukan untuk memperlambat produksi nuklir kami, itu gagal," katanya. "Israel akan menghadapi respons pada waktu dan tempat yang tepat."

Pada pagi hari tanggal 11 April, ledakan terjadi di pabrik pengayaan uranium di Natanz, di provinsi Isfahan di Iran tengah.

New York Times (NYT) melaporkan ledakan di situs nuklir itu adalah hasil operasi rahasia Israel .

Pejabat di Iran awalnya mengeklaim tak ada kerusakan dalam insiden di situs Natanz. Namun, tak lama kemudian, pejabat negara itu mengklasifikasikan kecelakaan itu sebagai "tindakan terorisme nuklir."

"Insiden di pembangkit nuklir Natanz di Iran disebabkan oleh ledakan yang direncanakan dengan sengaja," tulis NYT dengan mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya di internal intelijen AS dan Israel.

Laporan itu menyatakan insiden di Natanz sebelumnya dicurigai oleh beberapa orang sebagai serangan siber. Menurut laporan tersebut, area fasilitas nuklir Natanz diguncang ledakan kuat yang menghancurkan sistem energi internal yang dijaga ketat. Sistem energi itulah yang memberi makan sentrifugal bawah tanah yang memperkaya uranium.

Mengutip sumber intelijen AS dan Israel, surat kabar yang berbasis di New York tersebut menyatakan bahwa insiden di Natanz adalah "operasi rahasia Israel".

Ledakan tersebut dilaporkan merupakan pukulan yang menghancurkan kemampuan Iran untuk memperkaya uranium dan bisa memakan waktu setidaknya 9 bulan untuk melanjutkan pekerjaan di fasilitas tersebut.

NYT juga mencatat bahwa tidak jelas apakah pemerintahan Joe Biden mengetahui operasi rahasia Israel tersebut.

Pada saat yang sama, The Washington Post mengutip seorang pejabat senior AS yang tidak disebutkan namanya, mengatakan bahwa Washington telah melihat laporan dari sebuah insiden itu. "Tetapi AS tidak terlibat, dan kami tidak memiliki apa-apa untuk ditambahkan," kata pejabat tersebut.

Sebelumnya, penyiar Kan Radio di Israel mengutip sumber intelijen setempat secara anonim melaporkan bahwa Mossad—badan intelijen Israel untuk operasi di luar negeri—telah menghantam situs Natanz dengan serangan siber.

Pada Minggu pagi, juru bicara Organisasi Energi Atom Iran (AEOI), Behrouz Kamalvandi melaporkan kecelakaan di situs nuklir Natanz. Dia mengatakan, dalam kejadian tersebut tidak ada korban jiwa atau pencemaran lingkungan.

Kepala AEOI Ali Akbar Salehi kemudian mendefinisikan insiden itu sebagai "tindakan teroris nuklir", dan mengatakan bahwa Teheran berhak untuk menanggapi mereka yang bertanggung jawab atas serangan itu. [yy/sindonews]