fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


29 Ramadhan 1442  |  Selasa 11 Mei 2021

Rusia Siap Hadapi Skenario Terburuk dalam Hubungan dengan AS

Rusia Siap Hadapi Skenario Terburuk dalam Hubungan dengan AS

Fiqhislam.com - Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan Rusia menginginkan hubungan baik dengan Amerika Serikat (AS). Namun, dia menekankan Moskow siap untuk menghadapi skenario terburuk.

"Secara umum, terlepas dari semua pernyataan kasar dan ekspresi permusuhan dari Washington, Presiden(Vladimir) Putin tetap menjadi pendukung yang konsisten untuk membangun hubungan baik dengan AS, setidaknya di bidang-bidang yang bermanfaat bagi kami," kata Peskov kepada awak media pada Kamis (8/4), dilaporkan Anadolu Agency.

Dia menjelaskan Rusia tidak menimbulkan ancaman bagi siapa pun, termasuk AS. "Kami tidak pernah dan bukan merupakan ancaman bagi siapa pun. Tapi, tentu saja kami tidak akan pernah mengizinkan siapa pun, termasuk AS, untuk mengancam kami, mendikte sesuatu kepada kami, dan melanggar kepentingan kami," ujar Peskov.

Atas dasar itu Rusia siap menghadapi skenario terburuk dalam hubungan dengan AS. "Permusuhan dan ketidakpastian tindakan pihak Amerika, secara umum, mengharuskan kami untuk bersiap menghadapi skenario terburuk. Ketika Anda memiliki lawan bicara yang cukup agresif dan tidak dapat diprediksi, Anda selalu dalam keadaan termobilisasi," ucap Peskov.

Secara terpisah, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan negaranya siap merespons setiap sanksi baru yang hendak dijatuhkan AS kepada negaranya. Dia menyatakan semua upaya untuk menekan Moskow pasti gagal.

Lavrov menggambarkan kebijakan AS terhadap Rusia sebagai "buntu", bahkan "bodoh". Dia menekankan serangkaian sanksi Washington di masa lalu telah gagal merealisasikan tujuannya.

"Tindakan seperti itu telah mengajari kami satu hal: Kami perlu mengandalkan diri kami sendiri karena AS dan sekutunya bukanlah mitra yang dapat diandalkan. Tentu saja kami akan menanggapi setiap langkah yang tidak bersahabat," kata Lavrov di sela-sela kunjungannya ke Kazakhstan pada Kamis.

Bulan lalu, Rusia menarik duta besarnya untuk AS Anatoly Antonov. Hal itu dilakukan sebagai respons atas komentar Presiden AS Joe Biden yang menyebut sebagai Presiden Rusia Vladimir Putin sebagai pembunuh. Pernyataan itu dibuat Biden saat mengomentari kasus peracunan tokoh oposisi Rusia Alexei Navalny.

Peristiwa itu semakin merumitkan hubungan AS dan Rusia. Relasi kedua negara telah jatuh ke level terendah pasca-Perang Dingin setelah Rusia mencaplok Semenanjung Krimea di Ukraina pada 2014. AS pun menuding Rusia mengintervensi proses pemilihan presiden (pilpres) di negaranya. [yy/republika]

 

 

Tags: Rusia | Amerika | Nato | S-400 | Rudal